Hektaran Tambak Udang Vaname di Lampung, Terserang Virus Myo

JUMAT, 3 MARET 2017

LAMPUNG — Belasan pemilik hektaran tambak udang jenis Vaname di Dusun Paret Lima, Desa Berundung, Kecamatan Ketapang, terpaksa panen dini akibat serangan penyakit ganas yang menyerang udang secara massal. Petambak pun merugi puluhan juta akibat sebagian besar udang yang dibudi-dayakan secara intensif mati mendadak.

Tambak Udang di Ketapang

Salah-satu petambak di Desa Berundung, Kecamatan Sragi, Budi Santoso (35), mengungkapkan penyakit myo sejak sepekan terakhir hampir merata dialami oleh pemilik lahan tambak udang di wilayah Paret Lima tersebut. Udang vaname dengan ukuran 75 centi meter dengan umur sekitar 80 hari yang terkena virus myo atau dikenal dengan infectious Myo Necrosis Virus (IMNV), mengalami bercak bercak merah pada bagian ekor, dan sebagian mulai mati. Dengan adanya serangan virus myo ini, dipastikan para petambak udang akan mengalami kerugian cukup besar jika tak segera memanennya.

“Faktor cuaca menjadi penyebab dominan timbulnya virus myo pada udang jenis vaname ini, sehingga kami terpaksa panen lebih awal,” ungkap Budi, saat ditemui di Desa Berundung Kecamatan Ketapang, Jumat (3/3/2017).

Menurut Budi, gejala virus myo ditandai dengan terjadinya nekrosis atau kerusakan jaringan otot pada tubuh udang dengan ciri warna putih pada otot yang terserang. Jika sudah parah, otot akan mati dan berwarna merah. Faktor utama penyebab virus myo adalah perubahan iklim dengan curah hujan yang tinggi, dan selanjutnya cuaca panas yang terjadi berakibat mengubah suhu perairan tambak dan memicu stress pada udang dan berakibat daya tahan tubuh udang menurun.

Udanng yang terserang virus myo

Ia juga mengungkapkan, virus tersebut mudah menyebar akibat jarak tambak saling berdekatan dan media pembawa di antaranya kepiting, burung dan jenis pembawa lain yang menularkan ke tambak lain. Kecuali itu, faktor air buangan dari tambak lain yang sudah terimbas virus myo menyebabkan udang yang dibudi-dayakan stress dan rentan terserang penyakit.

Budi mengaku, 2 bulan lalu menebar benih udang jenis vaname sebanyak 100.000 ekor di tambak miliknya seluas 1.000 meter, dengan ukuran 100 meter x 10 meter. Benih udang tersebut dibelinya seharga Rp. 47 per kor, dari pusat pembenihan udang di Biru Laut, Khatulistiwa, Kalianda.

Akibat panen lebih awal tersebut, ia hanya bisa memanen sebanyak 3 kwintal udang vaname dari luas tambak 1.000 meter tersebut. Padahal, normalnya ia bisa  mendapat panenan sebanyak 1,5 ton. Karenannya, serangan virus itu mengakibatkan petambak merugi puluhan juta rupiah, dihitung dari biaya operasional dan harga jual yang rendah. Biasanya, harga jual udang bisa mencapai Rp. 85.000 per kilogram untuk ukuran 75 centi meter, namun akibat kualitas udang menurun akibat virus dan panen awal, harga jual hanya sebesar Rp. 50.000 per kilogram.

Ia mengungkapkan, dalam kondisi normal, udang dipanen pada usia 120 hari. Namun, dengan adanya serangan virus myo terpaksa pemanenan dilakukan pada umur 80 hari. Sementara itu, guna mengurangi kerugian, ia juga terpaksa mengeringkan tambak dan memberi obat khusus sebelum proses penebaran bibit baru.

Budi Santoso

Selain di Kecamatan Ketapang, virus myo juga menyerang udang milik petambak di Kecamatan Sragi, yang kini masih dihantui banjir limpasan Way Sekampung. Beberapa petambak, salah-satunya Devi (30), mengaku segera memanen udang vaname miliknya yang mulai tergenang air sungai untuk menghindari kerugian lebih besar, terutama sekitar sepekan ke depan tambak udang yang siap dipanen pada umur 2 bulan. “Sebagian petambak segera memanen udang miliknya, karena kalau tidak segera dipanen dikhawatirkan banjir menghanyutkan seluruh udang siap panen dengan estimasi kerugian puluhan juta rupiah, karena sebagian petambak sudah bersiap-siap untuk panen sepekan ke depan,” ungkap Devi.

Beberapa petambak bahkan terpaksa menggunakan mesin pompa diesel untuk mengurangi volume air di tambak yang tergenang banjir. Devi yang melakukan panen awal udang vaname mengungkapkan, terpaksa memanen udang miliknya yang berukuran 40 centi meter, dengan harga Rp. 85.000. Padahal, ia biasa memanen saat ukuran udang vaname sebsar 50 centi meter, dengan harga Rp. 100.000 per kilogram.

Beberapa pekerja terlihat melakukan proses pemanenan menggunakan jaring sembari, menunggu proses pengeringan menggunakan mesin sedot. Devi mengungkapkan, udang vaname akan dijual ke Jakarta dan sebagian pengepul di wilayah Bandarlampung. Proses penyortiran terpaksa dilakukan di tanggul, karena sebagian wilayah tambak masih terendam banjir.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Lihat juga...