SELASA 10 JANUARI 2017
YOGYAKARTA—Memanfaatkan potensi yang ada di setiap wilayah, kampung Rejowinangan, Kelurahan Rejowinangun, Kotagede Yogyakarta sejak beberapa tahun terakhir berhasil mengembangkan usaha berbasis masyarakat. Tak hanya mampu meningkatkan perekonomian warga sekitar, upaya itu juga sekaligus membawa kampung Rejowinangun dalam berbagai prestasi baik lokal maupun nasional.
![]() |
| Salah seorang penggerak kampung Rejowimangun, Sri Rahayu, saat sedang membuat batik jumputan |
Kampung yang terletak di sebelah selatan Kebun Binatang Gembiraloka Yogyakarta ini sebenarnya tak jauh berbeda dari kampung pada umumnya. Terbagi dalam sebanyak 13 wilayah Rukun Warga (RW), sejak lama sejumlah warga masyarakat kampung Rejowinangun sudah banyak memiliki berbagai bidang usaha mulai dari kerajianan, produksi jamu herbal, hingga kuliner dan budidaya tanaman.
Berbagai macam potensi itulah yang kemudian dikembangkan, dengan memfokuskan jenis bidang usaha yang digeluti warga di masing-masing wilayah. Sampai saat ini terdapat sedikitnya 5 bidang usaha bersasarkan potensi unggulan yang ada di wilayah kampung Rejowinangun. Mulai dari kampung kerajinan, kampung kesenian, kampung jamu herbal, kampung agro, hingga kampung kuliner.
“Khusus untuk wilayah RW 7 yang meliputi RT 21, 22, dan 23 ini, kita fokus untuk usaha kerajinan,” ujar salah seorang penggerak kampung, Sri Rahayu, warga Kampung Rejowinangun RT 23, Selasa (10/01/2017).
Di Kampung Kerajinan RW 6 dan RW 7 ini warga secara bersama-sama berusaha mengembangkan berbagai macam kerajinan dari berbagai bahan tak terpakai untuk kemudian dijual. Sebelumnya di wilayah kampung kerajinan ini sendiri sudah terdapat usaha kerajinan seperti kerajinan pembuatan tas, dompet dan jaket kulit, usaha kerajinan lukis kaca dan ukir, hingga usaha kerajinan fiber seperti miniatur pesawat dan helm.
“Kita lalu mengembangkan dengan membuat berbagai macam kerajinan lainnya. Mulai dari pembuatan kain batik jumputan, tas rajut hingga berbagai barang kerajinan daur ulang dari bahan sampah seperti hiasan bunga, tempat lilin, bros, kursi dab sebagainya,” ujarnya.
Berbagai macam usaha kerajinan tersebut dilakukan secara langsung oleh warga mulai dari bapak-bapak hingga ibu-ibu rumah tangga. Mereka mengumpulkan berbagai macam barang bekas untuk dibuat menjadi produk kerajinan yang bisa dimanfaatkan dan dijual. Mereka juga kerap menggelar pelatihan bagi pengunjung yang datang ke kampung mereka.
“Kampung Rejowinangun ini memang telah ditetapkan menjadi salah satu kampung wisata di Jogja. Sehingga banyak tamu dari luar daerah mengunjungi kampung ini. Di situlah kita mengenalkan potensi lokal yang kita miliki, sekaligus juga memasarkan produk kerajinan kita,” ujarnya.
Kampung kerajinan Rejowinangun ini juga gelah memiliki gerai khusus untuk memasarkan produk kerajinan warga, sekaligus menjadi tempat menggelar pelatihan-pelatihan pembuatan produk kerajinan. Gerai ini sendiri dibuat dengan memanfaatkan salah satu rumah warga yakni milik Sri Rahayu.
“Dulu sebelum ada gerai ini kita harus membawa produk kerajinan ke kantor kelurahan. Begitu juga saat ada tamu dari daerah lain ataupun ada kegiatan pelatihan. Jadi agak repot, apalagi mayoritas pengrajin ini ibu-ibu rumah tangga, yang tetap harus mengurusi pekerjaan rumah,” tuturnya.
Sri Rahayu sendiri mengaku mendapat banyak manfaat dari upaya pengembangan potensi yang dilakukan kampung. Ia yang sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa, kini memiliki kesibukan membuat produk kerajinan kain batik jumputan. Dari usahanya itu ia pun mampu mendapatkan penghasilan tambahan yang bisa dimanfaatkan untuk menambah perekonomian keluarga.
“Ke depan kita masih ingin mengembangan khususnya terkait soal promosi. Jika selama ini promosi masih sekedar pada tamu-tamu yang datang ke Rejowinangun, maka ke depan kita ingin kita yang keluar. Misalnya ke sekolah-sekolah atau semacamnya,” ujarnya.
Selain menjadi kampung berprestasi di tingkat lokal, Kampung Rejowinangun juga tercatat sebagai juara 2 kampung tingkat kecamatan terbaik se Jawa Bali dalam lomba desa dan kelurahan terbaik yang diselenggarakan Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) tahun 2016.

![]() |
| Sejumlah produk kerajinan warga kampung Rejowinangun. |
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/editor: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
