Refleksi Sikka 2016: Tingkatkan Ketahanan Pangan, Pemda Sikka Bangun 10 Lumbung Beras (2)

SENIN, 2 JANUARI 2016

MAUMERE — Program ketahanan pangan menjadi salah satu dari 7 program prioritas yang dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sikka pada 2016 di bawah kepemimpinan Bupati Drs.Yoseph Ansar Rera dan Wakil Bupati Drs. Paolus Nong Susar.

Bupati Sikka saat melakukan panen perdana padi sawah dalam program Upsus Pajale di Magepanda.

Dalam konferensi pers akhir tahun di rumah jabatan Bupati Sikka, Sabtu (31/12/2016) malam, jelang pergantian tahun, bupati dan wakil bupati membeberkan 7 program prioritas selama tahun 2016. Program peningkatan ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan dasar lainnya menjadi program prioritas ketiga.

“Program ini menjadi urgen, karena ketersediaan pangan di Kabupaten Sikka, khususnya produksi pangan dalam daerah, selalu mengalami kekurangan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya. Asumsinya, sebut Bupati Ansar, adalah dengan terpenuhinya kebutuhan pangan bergizi akan dapat memperkuat daya tahan tubuh dan meningkatkan kemampuan untuk berkreasi serta berinovasi sehingga  dapat meningkatkan produktivitas.

Anggaran yang dialokasikan untuk program ini, bebernya, sebesar Rp 9.798.134.028 yang dipakai untuk kegiatan Pengembangan Lumbung Pangan Desa, dialokasikan untuk intervensi berupa pengisian pangan seperti beras sebanyak 7 ton untuk 5 lumbung pangan.

“Di Kabupaten Sikka juga telah dibangun 10 lumbung pangan untuk menampung hasil produksi dari petani, “ ujarnya. Lumbung pangan yang dibangun, jelasnya, terdapat di Ma Mai Tanarawa, Kecamatan Waiblama, Tunas Harapan di Bangkoor Kecamatan Talibura, Nangapalu di Kolisia Kecamatan Magepanda, Bina Dana di Waihawa Kecamatan Doreng, serta Hiro Heling di Blatatatin Kecamatan Kangae. Menurut mantan Sekda Ende ini, dibangun pula lumbung pangan Wairhewat II di Ili Medo Kecamatan Waiblama, ada pula Usaha di Nebe Kecamatan Talibura, Dua Bersaudara di Reroroja Kecamatan Magepanda, Mula Muri di Loke Kecamatan Tanawawo, dan Mula Molo di Nirangkliung Kecamatan Nita. Selain itu, tambah Ansar, ada kegiatan Pengembangan Kawasan Mandiri Pangan Kepulauan, meliputi 2 kawasan, yaitu kawasan Alok Timur (Desa Kojadoi, Desa Kojagete, Desa Parumaan, Desa Pemana, dan Desa Gunung Sari) serta Palue (Desa Reruwairere, Desa Maluriwu, Desa Kesokoka, Desa Tuanggeo, dan Desa Ladolaka).

“Masing-masing kawasan mendapat alokasi dana bantuan Rp 600 juta yang dikelola untuk mengembangkan pangan, khususnya pangan lokal di daerah tersebut,” terangnya.

Ansar menambahkan, ada juga kegiatan Pemanfaatan Pekarangan untuk Pengembangan Pangan dengan tujuan peningkatan kualitas pangan masyarakat yang memenuhi prinsip beragam, bergizi, seimbang, dan aman (B2SA) melalui upaya memanfaatkan pekarangan sebagai sumber pangan dan gizi bagi keluarga misalnya ditanami berbagai jenis sayuran dan buah serta ternak ikan lele. Sasaran program ini, bebernya, tersebar di 9 lokasi, yakni Kelurahan Beru, Kelurahan Wairotang, Kelurahan Nangameting, Kelurahan Waioti, Kelurahan Wolomarang, Kelurahan Kabor, Kelurahan Kota Uneng, Kelurahan Madawat, dan Desa Sikka. Terdapat pula kegiatan Pengawasan Mutu dan Keamanan Pangan Segar dengan melakukan sosialisasi dan SIDAK terhadap pangan segar yang ada di masyarakat seperti tahu, ikan segar, ikan asin, tempe serta buah dan sayuran dan dilakukan uji sampel di laboratorium yang terakreditasi.

“Hasil pengujian menyebutkan ikan segar yang beredar sudah bebas dari formalin. Hanya ditemukan adanya unsur arsenik pada ikan asin dan cemaran logam berat pada ikan segar dan cemaran mikroba, bakteri e coli pada tahu,” tuturnya.

Program unggulan keempat, yakni peningkatan kualitas pendidikan masyarakat dengan penekanan pada pembinaan karakter. Penekanan pada pembinaan karakter perlu dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Modernitas dan kemajuan teknologi informasi, kata Bupati Ansar, telah menggeser kultur positif masyarakat yang telah diwariskan secara turun temurun menuju kultur yang cenderung negatif, destruktif, dan individualistik. Degradasi moral dan banyaknya kasus kenakalan remaja, sebutnya, merupakan indikasi kuat lunturnya karakter masyarakat berbasis kearifan lokal.

“Oleh karena itu, pembinaan karakter menjadi salah satu langkah penting untuk meminimalisir dampak negatif modernisasi dan globalisasi,” ucapnya.

Alokasi anggaran untuk program dimaksud, papar Ansar, sebesar Rp 35.601.050.827 yang digunakan untuk pembangunan sarana dan prasarana sekolah, antara lain, pembangunan gedung PAUD (ruang belajar/bermain) bagi 3 PAUD, sarana bermain untuk 40 PAUD, pembangunan gedung 4 sekolah serta membangun 11 unit rumah dinas guru SD dan SMP. Selain itu, ada penambahan 4 ruang kelas baru di tiga sekolah, pembangunan 9 ruang guru di 9 sekolah, turap dan pagar sekolah, perpustakaan, sanitasi, meubel, rehabilitasi sedang atau berat pada beberapa rumah dinas guru.

Pemda Sikka juga, beber Ansar, memberikan rekomendasi pendirian 4 unit sekolah baru, yakni SMA Negeri Waiblama, SMP Negeri Pruda Kecamatan Waiblama, SMP Negeri Nuba Arat Kecamatan Kangae dan SMP St. Paulus Pogon Kecamatan Waigete.

“Kami juga memberian ijin pendirian dan operasional SMP Katholik Maria Kanisia di Misir Kecamatan Alok yang juga sudah mulai beroperasi,’ tuturnya.

Dana di bidang pendidikan, jelas Ansar,  dianggarkan juga untuk pemberian tunjangan bagi guru honor daerah sebanyak 80 orang dan honor guru komite sebanyak 260 orang. Selain itu, lanjutnya, anggaran dana digunakan untuk peningkatan kualitas pendidikan masyarakat dengan penekanan pada pembinaan karakter juga untuk mendukung kegiatan keolahragaan, antara lain cabang olah raga kempo, silat, tae kwon do, atletik, tinju, sepak bola, serta di bidang seni tari dan vokal.

Program prioritas kelima, sebut Ansar, yakni peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan penekanan pada penurunan angka kesakitan yang menjadi urgen karena masih tingginya penderita penyakit, antara lain, lumpuh layu, TB Paru, ISPA, HIV dan AIDS, diare, kusta, campak, DBD, malaria dan filariasis.

“Peningkatan derajat kesehatan merupakan faktor penting dalam upaya meningkatkan kualitas sumberdaya manusia terutama menciptakan individu-individu yang mampu bekerja secara maksimal untuk meningkatkan taraf hidup ke arah yang lebih baik,” jelasnya. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 143.936.729.437, papar Ansar, digunakan untuk pembangunan dua unit Puskesmas baru di Waipare dan Palue, pembangunan lanjutan Puskesmas Watubaing Kecamatan Talibura dan Puskesmas Kewapante.

“Namun, pembangunan di Puskesmas Palue hingga akhir tahun 2016 belum dapat diselesaikan,” ungkapnya.

Ansar melanjutkan, dana tersebut juga dipakai untuk memberikan insentif bagi 200 orang tenaga kerja sukarela yang tersebar di 23 Puskesmas dan Dinas Kesehatan dengan besar Rp 500 ribu per bulan.

Bupati Sikka, Drs.Yoseph Ansar Rera (kiri), bersama Wakil Bupati Drs. Paolus Nong Susar.

“Di tahun 2017 kembali dianggarkan pemberian insentif bagi tenaga suka rela, operasional 23 Puskesmas se wilayah Kabupaten Sikka yang melayani kesehatan dasar bagi masyarakat,” pungkasnya. (Bersambung)

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Lihat juga...