Pesan Tahun Baru dari Rutan Maumere: Perbedaan Jangan Jadi Lawan

MINGGU, 1 JANUARI 2017
MAUMERE — Perbedaan pendapat yang selalu ada dalam kehidupan hendaknya dimaknai setiap umat manusia sebagai sebuah rahmat, berkat dari Allah yang harus disyukuri untuk memperkaya khazanah kehidupan di bumi. Beda pendapat boleh terjadi, tapi jangan menjadikan orang yang bersikap berbeda sebagai lawan yang harus dimusuhi.
Pater John Prior, SVD saat perayaan Misa Tahun Baru di Kapela Rutan Maumere.
Demikian pesan Tahun Baru yang disampaikan Pater John Prior, SVD., dalam perayaan misa tahun baru Minggu (1/1/2017), di Rumah Tahanan (Rutan) Maumere. Mengawali khotbahnya, Pater John mengisahkan, sekitar 1.500 tahun yang lalu, salah-satu kerajaan di bagian selatan Inggris, namanya Wesik, terdapat seorang raja bernama Raja Alfred. Sewaktu masih menjadi putra mahkota, ia harus dididik dan dilatih menjadi pemimpin yang bijak dan salah-satu pelatihnya adalah seorang ahli sihir bernama Merlin.
“Merlin memanggil Alfred dan merubah wujudnya menjadi seekor elang dan dia menyuruh Alfred terbang. Sang putra mahkota senang saat berada di langit dan melihat kerajaannya dari atas udara,” ujarnya. 
Lalu, tutur Pater John, Merlin memanggil Alfred dan bertanya, apa yang dilihatnya saat berada di langit. Alfred mengatakan, dirinya melihat pohon, bukit dan sungai. Lalu, Merlin menyuruhnya terbang lebih tinggi dan bertanya apa yang dilihatnya.
Alfred, lanjutnya, mengatakan bahwa dirinya melihat padang, ada domba yang sedang makan rumput dan Merlin memerintahkan Alfred untuk terbang lebih tinggi, dan setelah itu baru kembali ke bumi. Setiba Alfred ke dalam wujud manusia, Merlin lalu memanggilnya dan bertanya, apa yang dlihatnya saat terbang paling tinggi di langit.  “Alfred mengatakan tidak melihat lagi ada garis pemisah apapun di kerajaannya, dan Merlin mengatakan, putra mahkota matamu sangat tajam dan tepat,” tuturnya.
Hari ini, 1 Januari 2017, ungkap pria asal Inggris ini, Paus Paulus VI pada sekitar 50 tahun lalu mengatakan, tahun ini sebagai tahun perdamaian sedunia. Apa yang akan terjadi ke depan di tahun 2017 belum diketahui. Hari pertama, hari perdamaian sedunia, lanjutnya, kita mengambil keputusan untuk selama tahun ini sungguh berdamai, berdamai dengan sesama, berdamai dengan bumi, berdamai dengan Tuhan dan berdamai dengan diri sendiri. “Tahun 2016 merupakan tahun yang penuh kekerasan setelah perang dunia kedua. Jutaan orang terpaksa mengungsi, lari dari peperangan dan kekerasan,” tuturnya.
Umat Katolik yang hadir mengikuti Perayaan Ekaristi di kapela Rutan Maumere.
Politik, sebut Pater jebolan Sarjana II ini, menjadi politik kekerasan, seperti yang bisa dilihat di Jakarta, apalagi di Timur Tengah dan Afrika. Sepertinya, katanya, jika kita mau memenangkan pendapat kita harus melawan yang lain, beda pendapat berarti musuh. Di Syuriah, sudah 2 juta orang mengungsi dan ratusan ribu jiwa melayang. “Tahun 2017 akan lebih keras dibandingkan tahun 2016, dan menjadi tantangan yang amat berat dan bukan hanya di bidang politik, tapi di bidang ekonomi juga,” terangnya.
Para pekerja, kata Pater John, dipekerjakan saat dibutuhkan dan bila tidak dibutuhkan akan ditelantarkan. Dikatakan, hampir 40 persen masyarakat tidak dibutuhkan lagi tenaganya, dunia penuh kekerasan ekonomi. Ditanyakannya, apa kita sebagai orang beriman pada hari perdamaian dunia ini mengatakan  berhenti sampai di sini? Kita tidak lagi memakai kekerasan untuk menjawab persoalan, sebab kekerasan akan membawa persoalan baru?
“Apa yang sudah terjadi biarlah berlalu, sebab Tuhan tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi, tapi Tuhan sangat prihatin dengan apa yang akan terjadi tahun ini,” tegasnya.
Legenda di Kerajaan Wesik pada 1.500 tahun lalu, tandas Pater John, di mana putra makota yang dirubah wujudnya menjadi elang dan saat terbang tinggi dia tidak lagi melihat ada garis pemisah dalam kerajaannya. Apakah kita dalam tahun 2017 ini, tanya Pater, bisa mengatakan tidak mau melihat ada garis pemisah? Bahwa, Islam dan Kristen bukan garis pemisah, tapi rekan peziarah dalam dunia ini.
“Ungkapan iman berbeda, tradisi berbeda, tapi saling melengkapi dalam arah yang sama kepada Tuhan Yang Maha Rahim lagi Maha Esa. Kita dari suku berbeda, pulau berbeda dan bangsa yang berbeda dan kita tidak mau membuat ada garis pemisah,” ucapnya. 
Kita tidak akan membuat garis pemisah, sambung Pater John, antara penghuni Rutan ini dengan anggota keluarga yang berada di luar, kita tidak mengakui membuat garis pemisah, namun kita akan membuatnya menyatu.
Paus Fransiskus, bebernya, dalam pesannya pada hari perdamaian sedunia ini mengangkat tema ‘Politik Pantang Kekerasan’ dan semoga segala pemikiran kita apalagi politik, bebas dari kekerasan, saling mendengarkan dan saling mencari jalan bijaksana.
Usai Natal, lanjutnya, dari 4 lilin, lilin damai sudah padam, lilin cinta dan lilin iman juga sudah padam dan yang tertinggal lilin harapan. Lilin harapan menyalahkan lilin cinta, lilin iman dan lilin damai. “Dengan harapan itu, kita berharap apa saja yang akan terjadi di tahun 2017, kita akan menghadapinya dengan cinta, damai dan iman. Marilah kita pada hari perdamaian sedunia ini memohon berkat damai,” pungkasnya.

Jurnalis : Ebed De Rosary / Editor : Koko Triarko / Foto : Ebed De Rosary

Lihat juga...