Nasi Ulam Khas Betawi, Ciri Khas Usaha Warga Posdaya Melati 1 Bukit Duri Jaksel

RABU, 11 JANUARI 2017

JAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sinergi kreatif Posdaya Melati 1, RW0 11, Bukit Duri, Jakarta Selatan, dengan Majelis Taklim Ar-Rosyidi, selain menumbuhkan semangat kebersamaan, juga melahirkan inovasi-inovasi produk kuliner lezat, sehat dan higienis. Salah-satunya adalah nasi ulam khas Betawi. Produk kuliner para ibu-ibu PKK dari Majelis Taklim Ar-Rosyidi ini turut digagas pula oleh anggota-anggota Posdaya lainnya, salah-satunya Ibu Trisno Budiarti atau akrab disapa Budiarti.
Nasi ulam khas Betawi telur balado khas Bukit Duri Jakarta Selatan.
Nasi ulam khas Betawi adalah salah-satu menu yang kerap hadir sebagai sajian nasi kotak untuk setiap acara yang diadakan Majelis Taklim dan ibu-ibu PKK setempat. Pembuatannya juga dilakukan ramai-ramai secara bergotong royong. Cara pembuatan dan resep ditangani langsung oleh Budiarti, agar yang dihasilkan nanti bisa memuaskan semua orang yang menikmatinya. Pengetahuan membuat nasi ulam khas Betawi ini juga didapat Budiarti sejak ia menjalankan usaha katering dan kantin di salah-satu kantor kementerian di Jakarta.
Nasi ulam itu seringkali dilihat menyerupai nasi uduk. Saat disantap, rasanya juga seperti sama dengan nasi uduk, karena gurih. Namun, ternyata ada perbedaan antara nasi ulam dan nasi uduk, yaitu nasi uduk dibuat menggunakan santan atau sari buah kelapa, sedangkan nasi ulam tidak menggunakan santan. 
Kue lumpur dan kue puding kacang hijau.
“Dari sensasi rasa, sama-sama gurih. Tapi, gurihnya nasi ulam berasal dari bahan-bahan seperti udang kering, daun salam, lengkuas, sereh, ketumbar, bawang merah dan juga sedikit gula merah. Bagi penggemar fanatik kuliner nasi uduk, pasti langsung bisa membedakan rasa antara keduanya. Tapi, untuk mereka para penikmat kuliner pada umumnya, pasti kurang bisa membedakan,” terang Budiarti, kepada Cendana News.
Untuk penyajiannya secara lengkap, nasi ulam khas Betawi akan ditaburi bawang goreng, abon sapi atau ayam, dan hasil parutan buah kelapa bumbu urap atau bisa juga hanya hasil parutan kelapa murni saja. Tidak ketinggalan lauk-lauk seperti telur balado atau ayam goreng dan perkedel. Pelengkapnya adalah lalapan seperti ketimun, daun kemangi dan kerupuk. Harga satu kotak nasi ulam khas Betawi biasa dibandrol sangat ekonomis, antara Rp. 10-17.000, tergantung lauk yang digunakan.
“Nasi ulam telur balado dengan semua kelengkapannya, biasa kami banderol seharga sepuluh ribu rupiah. Sedangkan nasi ulam ayam goreng, harganya tujuh belas ribu rupiah. Dan, produk kuliner ini adalah salah-satu ciri khas kuliner warga RW 011 dan Bukit Duri, Jakarta Selatan pada umumnya,” jelas Budiarti.
Saat menikmati nasi ulam khas Betawi dalam acara Maulid di Majelis Taklim Ar-Rosyidi Posdaya Melati 1, Cendana News disuguhi dengan minuman segar, es sirup markisa. Menurut Budiarti, nasi ulam khas Betawi di wilayah ini terasa belum lengkap tanpa es sirup markisa. Tidak ketinggalan kue lumpur (kue basah dari adonan kelapa dan terigu), serta kue puding kacang hijau sebagai pencuci mulut.
Banyak sekali warga RW0 11 yang berdagang nasi ulam khas Betawi, untuk menghidupi keluarga masing-masing. Banyak dari para pedagang tersebut yang sudah menjadi anggota Posdaya Melati 1 dan ikut program Simpan Pinjam Tabur Puja (Tabungan Kredit Pundi Sejahtera) Yayasan Damandiri yang merupakan salah-satu program pemberdayaan ekonomi kreatif warga dalam Posdaya.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : Koko Triarko / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...