MINGGU, 22 JANUARI 2017
JAKARTA — Kariansah Buana Putera atau akrab disapa rekan-rekannya dengan Ari. Sedangkan untuk dunia sinetron dan film nasional, ia dikenal luas dengan nama Ari Dakota. Ari Cebol, sebut seorang rekannya di Teater ‘Samping Pagar’ saat Cendana News bertemu dengan Ari dan teman-temannya di Taman Ismail Marzuki, Sabtu (21/01/2017).
![]() |
| Ari Dakota (kiri) dan satu aktingnya sebagai seorang anak kecil |
Tinggal di Pisangan, Jakarta Timur, pria kelahiran 1980 ini memulai karier film melalui dunia teater sejak 2008. Selain kemampuan akting, bentuk fisiknya yang ‘mungil’ menjadi daya tarik sekaligus kekuatan Ari dalam mengarungi dunia sinematografi nusantara.
“ Menjadi Ari tidaklah mudah dan sembarangan, jika anda menjejerkan Ari dengan sembilan artis, siapa yang menarik perhatian anda? Pasti Ari. Itulah kekuatan, nilai jual serta nilai tambah Ari disamping kemampuan aktingnya yang terus berkembang,” puji Guntoro Sulung, sutradara sekaligus rekan Ari di Teater ‘Samping Pagar’ kepada Cendana News.
Ari adalah aktor yang berkarakter ganda, ia mampu memerankan dua tokoh berbeda, yaitu antagonis dan komedi. Sejak 2008 hingga 2016, sudah banyak serial sinetron maupun layar lebar yang menggunakan jasa Ari, diantaranya adalah; Sinetron RINDU SATPAM KITA dan film layar lebar berjudul AYU ANAK TITIPAN SURGA. Keduanya adalah garapan sutradara Guntoro Sulung.
Untuk sinetron RINDU SATPAM KITA, Ari mendapatkan 13 episode dari 30 episode yang ada. Berarti hampir separuh syuting sinetron tersebut berjalan dengan Ari menjadi salah satu lakon di dalamnya. Ari juga bukan sembarang aktor kebanyakan, ia memiliki kemampuan akting yang cukup baik. Kemampuan akting Ari terlihat dalam sesi latihan terakhir Teater “ Samping Pagar “ di Taman Ismail Marzuki (TIM). Ia mampu menjembatani transformasi suasana dari peran komedi seorang anak kecil menuju peran berikutnya sebagai sosok preman konyol.
“ Secara pribadi, dunia teater membentuk karakter dan kemampuan akting saya. Teater menjadi awal dari semua pencapaian kecil saya sejak 2008 hingga 2016. Teater adalah dunia dan nyawa akting saya. Teater itu adalah idealisme seorang aktor, bukan mata pencaharian. Layaknya proses meniti anak tangga, bagi seorang yang berkecimpung di dunia teater, setiap pencapaian adalah pergulatan di anak tangga,” tutur Ari mengungkap sedikit filosofi pribadinya.
Sosok berpengaruh yang diakui Ari banyak membentuk karakter pribadi maupun aktingnya adalah sang sutradara, Guntoro Sulung. Bagi Ari, selain sebagai sutradara, Mas Gun sapaan akrab Guntoro Sulung sudah seperti sosok ayah baginya. Mas Gun tidak segan marah jika ia maupun pemain lain melakukan hal tidak terpuji dalam kehidupan sehari-hari apalagi dalam berakting. Selain itu, untuk menambah kemampuan aktingnya, ia banyak mengambil inspirasi atau belajar melalui film maupun peran teater dua tokoh penting sinematografi nusantara, yakni Butet Kertaradjasa dan Reza Rahardian.
Bagi rekan-rekannya, Ari juga dianggap sosok yang secara kepribadian cukup menyenangkan. Ari mampu melebur dalam kelompok sekaligus menempatkan diri sebaik-baiknya. Tidak jarang muncul celotehan lucu rekan-rekan yang ditujukan kepadanya, tapi semua dianggap Ari sebagai wujud perhatian dan bersenyawanya sebuah persahabatan. Saat ditanya mengenai bentuk fisik ‘mungil’ yang dimilikinya, Ari tersenyum lebar. Bagi Ari, terlahir ‘mungil’ adalah anugerah Tuhan yang tak terhingga. Dengan menjadi apa adanya, Ari bahkan mampu mereduksinya menjadi sumber rejeki.
“ Ari itu menyenangkan dan lucu jika diajak bicara. Dia juga magnet lintas usia, dari anak bayi sampai kakek nenek pasti akan tersenyum jika dekat sama dia. Sosok teman yang menyenangkan dan pribadi yang sederhana,” ungkap Yati, seorang rekan Ari di Taman Ismail Marzuki.
| Ari Dakota (kiri) dalam aktingnya sebagai seorang preman konyol |
Di ujung perbincangan, Ari menyampaikan impiannya, bahwa ia ingin menjadi saksi hidup dimana film Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Butuh perjuangan dari insan film nasional bersinergi dengan pemerintah untuk mendudukkan film Indonesia di tempat yang semestinya. Seperti filosofi yang selama ini dipegang Ari bahwa kehidupan itu bagai meniti anak tangga, ia berharap perkembangan ke depan dari dunia film Indonesia bisa terus naik dari satu anak tangga ke anak tangga berikutnya. Tantangan dan kegaduhan pasti ada, tapi jika semua bisa berpikir jernih demi perfilman Indonesia, kelak akan berhasil.
“ Pesan untuk rekan-rekan yang baru merintis jalan di dunia film maupun sinetron, apalagi teater, satu kata yaitu sabar. Berubah dari bukan apa-apa menjadi sesuatu itu butuh proses, tidak instan. Sabar sambil terus mengasah kemampuan diri dalam berakting, itu saja,” tutup pria pengagum gadis berkulit kuning langsat ini mengakhiri perbincangan dengan Cendana News.
Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw