Wanita Tani Gunungkidul Manfaatkan Limbah Sapi Indukan Sebagai Sumber Pupuk

RABU, 14 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Warga penerima bantuan sapi indukan di Dusun Nglebak, Katongan, Nglipar, Gunungkidul, yang terdiri dari delapan kelompok peternak, memiliki kandang sapi yang terintegrasi dengan lahan perkebunan yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Anisa Karya. Sembari menunggu indukan sapi melahirkan anakan sapi, kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk lahan perkebunan seluas 2.000 meterpersegi.
Kasiyem, (jilbab coklat) saat menerima kunjungan Titiek Soeharto
Kawasan peternakan sapi Dusun Nglebak, berada di sebuah lahan luas yang tidak produktif. Karakter tanah di perbukitan Gunungkidul yang berbatu dan minim sumber air, memang membuatnya tak mungkin bisa menghasilkan produk pertanian secara optimal. Karenanya, warga lebih memilih beternak sapi, sembari menanam palawija yang tak begitu banyak membutuhkan suplai air.
Ketika mulai terdengar akan ada bantuan sapi indukan dari Kementerian Pertanian, semangat warga pun semakin terpompa lagi. Lahan luas di sekitaran komplek kandang sapi pun, lalu dimanfaatkan sebagai kebun sayur. Selain untuk memanfaatkan lahan yang selama ini dibiarkan, juga untuk memanfaatkan limbah kotoran sapi agar tak terbuang percuma.
Ditemui usai penyerahan simbolis bantuan 13 ekor sapi indukan oleh Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Titiek Soeharto, Ketua KWT Anisa Karya Dusun Nglebak, Kasiyem mengatakan, sudah sejak lama warga ingin memanfaatkan lahan di komplek kandang sapi itu sebagai lahan perkebunan.
“Keinginan itu kemudian terwujud melalui program Kawasan Rumah Pangan Lestari dari Kementerian Pertanian, yang diperoleh berkat dukungan Ibu Titiek Soeharto,” ungkapnya, Rabu (14/12/2016).
Peninjauan lahan KRPL KWT Anisa Karya
Dengan terpilihnya sebagai lokasi pengembangan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL), KWT Anisa Karya mendapatkan bantuan dana sebesar Rp. 15 Juta. Dana sebesar itu kemudian dialokasikan untuk pengadaan bibit sayuran seperti terong, tomat, cabe, pengadaan rumah bibit dan berbagai perlengkapan dan peralatan lain yang dibutuhkan.
Kasiyem menjelaskan, dengan adanya bantuan dana KRPL itu, kelompok tani wanita Dusun Nglebak semakin bersemangat mengelola lahan, agar bisa menghasilkan. Dengan uang bantuan itu pula, pihaknya bisa menambah luas lahan perkebunan menjadi 2.000 meterpersegi.
“Dengan lokasi lahan yang dekat atau terintegrasi dengan kandang sapi, kami yakin untuk kebutuhan pupuk sudah tidak menjadi masalah,” ujarnya.
Namun, Kasiyem mengemukakan, saat ini dengan tingginya curah hujan membuat pengelolaan lahan perkebunan menjadi lebih sulit. Banyak bibit yang ditanam mati akibat terlalu banyak air, dan serangan hama jamur yang di musim penghujan menjadi kendala musiman. Berbagai kendala itu, sejauh ini diatasi dengan semakin rajin memantau kebun, terutama untuk membersihkan gulma yang bisa menjadi perantara menjalarnya beragam jenis hama.
“Anggota kami ada sekitar dua puluh orang berasal dari tiga Rukun Tetangga (RT -red), jadi kami tidak kekurangan tenaga kalau setiap hari harus memeriksa tanaman sayuran ini, agar bisa panen,” ujarnya.
Titiek Soeharto berdialog dengan masyarakat
Sementara itu, Titiek Hediati Soeharto yang sempat meninjau lokasi lahan KRPL KWT Anisa Karya, menjelaskan, KRPL ini dirancang sebagai upaya pemenuhan gizi keluarga, peningkatan sumber daya dan pangan lokal, dan peningkatan kesejahteraan keluarga, khususnya, dan masyarakat pada umumnya.
“Saya berpesan, ibu-ibu mampu mengelola lahan dengan sebaik-baiknya, tekun dan terus semangat, agar berbagai bantuan pemerintah yang sedemikian besar itu tidak sia-sia,” pungkasnya.

Jurnalis : Koko Triarko / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Koko Triarko

Lihat juga...