Tanah Bergerak, Belasan Warga Plosorejo Karanganyar Berharap Relokasi

RABU, 14 DESEMBER 2016
SOLO — Tingginya curah hujan membuat tanah di Desa Ploserejo, Kecamatan Kerjo, Kabupaten Karanganyar, mengalami pergerakan. Belasan rumah di desa setempat bahkan mulai ditinggalkan warga, karena retakan kian membesar dan membahayakan. 
Kondisi rumah warga yang rusak akibat pergerakan tanah
Untuk mencegah jatuhnya korban jiwa, warga meminta agar rumah mereka direlokasi ke lokasi yang lebih aman. 
“Saya berharap secepatnya direlokasi. Karena sudah tidak aman untuk tinggal,” ucap Sumardi salah satu warga terdampak kepada awak media, Rabu sore (14/12/2016). 
Menurut Sumardi, sudah ada beberapa warga yang membongkar rumahnya akibat retakan yang terjadi kian mengkhawatirkan. Sebab, jika hujan deras mengguyur wilayah lereng Gunung Lawu sisi barat laut itu sering kali diikuti dengan pergerakan tanah. 
“Tanah yang ada di dalam rumah sudah ada yang turun 20 sentimeter. Tembok retak-retak dan lantai juga sudah rusak,” jelasnya. 
Warga yang rumahnya dibongkar terpaksa harus tinggal di rumah saudara yang lebih aman. Ini dilakukan karena warga tidak memiliki lahan lain untuk tempat tinggal. “Ya bagaimana lagi, karena memang tidak punya terpaksa harus nunut dulu,” imbunnya. 
Sementara itu, Kasi Kesejahteraan Pemdes Plosorejo Mardono menambahkan, tanah ambles atau tanah gerak di wilahnya sudah terjadi sejak dua pekan terakhir. Tingginya intensitas curah hujan membuat warga semakin was-was.  “Saat hujan turun kita imbau agar warga mengungsi ke lokasi aman. Ini untuk antisipasi saja,” tuturnya. 
Pemerintah Desa mengaku telah mengajukan relokasi kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karanganyar terhadap warga yang tinggal di wilayah rawan longsor tersebut. Namun sejuah ini pihak desa masih disulitkan dengan mencari lokasi untuk relokasi. 
“Karena tanah KAS Desa juga berada di daerah rawan longsor. Jadi kita tidak punya lokasi yang pas,” tekannya.
Disebutkan, setidaknya ada 13 warga yang telah mengajukan diri untuk direlokasi.  Akan tetapi, lagi-lagi pihak desa terkendala dengan lokasi yang akan dijadikan tempat permukiman warga yang jauh lebih aman.  
“Jadi kita hanya bisa menunggu intruksi dari Kabupaten. Siapa tahu dapat solusi yang tepat,” tandasnya. 
Seorang pengendara melintas di jalan yang dipenuhi retakan
Ancaman longsor akibat tanah gerak itu tak hanya mengancam pemukiman warga, karena jalan desa juga telah ambles. Pihak Pemerintah Desa terus melakukan sosialisasi peringatan bahaya longsor terhadap warga yang tinggal di zona merah tersebut.

Jurnalis : Harun Alrosid / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid

Lihat juga...