Tani Organik Suami Istri di Lampung Gunakan Pupuk Serbuk Gergaji

KAMIS, 15 DESEMBER 2016

LAMPUNG — Keterbatasan lahan, ketersediaan pasokan pupuk bagi masyarakat di Kabupaten Lampung Selatan tidak serta merta membuat petani setempat kehabisan akal untuk berkreasi. Memanfaatkan limbah dari sisa penggergajian kayu yang melimpah dari sejumlah tempat penggergajian kayu, sepasang suami isteri di Dusun Jati Sari Desa Pasuruan mengolahnya menjadi pupuk kompos yang dipergunakan sebagai media menanam sayur, memupuk pohon pisang serta tanaman pertanian lain yang ada di lahannya.
Sumini sang isteri membersihkan rumput pada tanaman sawi dan kangkung dengan media kompos
Dakir (34) dan sang istri, Sumini (33) bahkan sudah hampir empat tahun memanfaatkan limbah serbuk kayu gergajian yang tak lagi terpakai untuk digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk. 
Dakir mengungkapkan, awalnya pemanfaatan serbuk gergaji tersebut dilakukan setelah mendapat tanah yang diperolehnya dengan cara menumpang pada orang lain untuk digunakan sebagai lahan menanam sayuran diantaranya sawi, bayam, tomat, cabai rawit dan kangkung memiliki kondisi tanah gersang dan berbatu. Ia terpaksa menyingkrikan batu batu dan kerikil di lahan tersebut dan menebarkan bekas kotoran kerbau yang telah menjadi tanah sebagai media tanam.
“Saya memang tidak memiliki lahan sendiri dan yang kami miliki hanya pekarangan tapi tetap kami gunakan untuk menanam sayuran dengan cara dipagar menggunakan bambu agar ternak tidak masuk, hasilnya dijual ke warung,”ungkap Dakir saat ditemui Cendana News sedang memindahkan serbuk gergaji yang sudah menjadi kompos dari lokasi tempat penggergajian yang berjarak satu kilometer dari rumahnya, Kamis (15/12/2016).
Dakir menyiapkan limbah serbuk gergajian yang telah menjadi kompos
Dakir mengungkapkan pemanfaatan kotoran kerbau sebagai pupuk dan limbah serbuk gergaji tersebut terbukti telah membuat berbagai tanaman yang dipupuk menjadi subur dan berkembang dengan baik. Sebagai langkah lanjutan ia rutin melakukan pemesanan kepada pemilik pangklong agar tidak membakar limbah serbuk gergajian dan ditunggu hingga membusuk. Awalnya ia mengambik serbuk gergaji baru namun membutuhkan waktu yang lebih lama sehingga akhirnya memilih serbuk gergaji yang sudah didiamkan berbulan bulan dengan sebagian menjadi tanah. Meski mengambil dari tempat penggergajian ia tak perlu membayar karena pemilik tempat penggergajian justru senang limbahnya dibersihkan.
Setelah limbah serbuk gergaji tersebut dikirim ke rumahnya ia melakukan proses pembuatan kompos organik dengan campuran pupuk kandang, sekam serta campuran bahan lain diantaranya serbuk sisa serabut kelapa (cocopeat). Menggunakan alat sederhana berupa sekop dan cangkul untuk mengaduk proses pencampuran tersebut tetap membuat kompos hasil buatannya tercampur dengan baik selanjutnya ditutupi dengan terpal hingga siap digunakan sebagai media penanaman sayuran.
Setelah kompos yang dibuatnya siap digunakan ia mengaku melanjutkan dengan proses pengayakan agar terpisah kotoran serta bagian bagian lain yang tak digunakan sebab biasanya sisa potongan katu masih ikut terbawa. Pupuk kompos sekaligus media penanaman sayuran tersebut akan dipergunakan di guludan guludan untuk penanaman sayuran berupa tomat, cabai rawit, sawi serta bayam dan terkadang digunakan sebagai pupuk tanaman pisang dan pepaya.
“Awalnya memang menerapkan ilmu yang saya peroleh di sekolah dulu tentang pembuatan kompos dan memanfaatkan limbah yang ada untuk menanam sayuran ditambah saya tak memiliki lahan luas,”ungkap Dakir.
Sementara itu sang istri Sumini yang sehari-hari merawat berbagai tanaman dengan bantuan limbah serbuk gergaji sebagai kompos mengaku menjual sayuran hasil kebunnya ke sejumlah warung. Selain itu sebagian warga yang hendak memasak sayur dalam kondisi segar pun langsung membeli di lahan yang ditanaminya dengan berbagai jenis sayuran. Meski dengan harga Rp1.000 perikat untuk kangkung, bayam, sawi serta tanaman lain ia memastikan lahan yang sebagian dikerjakan untuk bertani dengan cara menumpang tersebut telah memberinya penghasilan untuk kehidupan sehari harinya.
Selain dibeli oleh warung dengan kegigihan dan kerajinannya mengolah lahan untuk ditanami sayuran, menyirami setiap pagi dan sore, bebeberapa pesanan dari penjual sayur di pasar pun diperolehnya. Tak kurang dari sekitar 50-100 ikat sayuran berbagai jenis diantaranya bayam cabut, sawi dan kangkung rata rata berhasil disetornya sepekan dua kali. Selain digunakan sebagai kebutuhan sehari hari sebagian uang yang diperolehnya bisa dipergunakan untuk kebutuhan anaknya sekolah di salah satu sekolah menengah pertama (SMP) swasta di desanya.
Sumini mengakui pemanfaatan limbah serbuk gergajian bersama sang suami selain karena awalnya lahan kurang subur, keterbatasan lahan juga untuk menghemat biaya. Penggunaan pola penanaman organik tanpa bahan kimia juga diakuinya sudah menjadi komitmen antara warung dan dirinya sebab sebagian warung mau menerima sayur miliknya jika ditanam tanpa bahan kimia bahkan oleh beberapa penjual warung bakso dan mie ayam yang memanfaatkan sawi hasil pertanian miliknya.

Jurnalis : Henk Widi / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Lihat juga...