Murniasih: Pak Harto Berdayakan Teknologi Nuklir Sepenuhnya untuk Kemanusiaan

SENIN, 26 DESEMBER 2016

JAKARTA — Era Pemerintahan Presiden Soeharto, Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang lahir pada 5 Desember 1958 dengan nama awal Lembaga Tenaga Atom (LTA) diberdayakan sepenuhnya untuk misi kemanusiaan. Berbagai hal dilakukan oleh Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang berada langsung di bawah Presiden tersebut, seperti yang diungkapkan pensiunan BATAN 1980, Murniasih Martono.
Murniasih Martono, salah satu pengurus Posdaya Jingga di Kelurahan Ragunan dan pensiunan BATAN 1980
Murniasih Martono, salah satu pengurus Posdaya Jingga di Kelurahan Ragunan menceritakan, ia masuk BATAN pada 1969 di era kepemimpinan Prof. Dr. Gerrit Siwabessy. Ia masuk sebagai staf laboratorium kimia yang disebut Unorganic Laboratory dengan tugas utama melakukan pemeriksaan sekaligus pengawetan makanan untuk manusia. Bahan-bahan yang diawetkan diantaranya ikan, kacang tanah serta bahan makanan lainnya sampai pengawetan bahan makanan siap saji untuk kepentingan  tentara di medan perang.
“Arah tugas kami saat itu agar makanan lebih awet atau lebih kuat daya tahannya. Cara mengawetkannya adalah dengan radiasi dimana radiasinya dihitung melalui proses kimia,” papar Murniasih tentang tugasnya di BATAN sebagai seorang staf laboratorium kimia kala itu
Disebutkan, sebagai ahli kimia, berbagai tugas dilakukannya, termasuk juga proses pengawetan plastik untuk bahan makanan agar lebih kuat daya tahannya dalam melindungi makanan. 
“Pengawetannya tidak sembarangan, kami memperhitungkan semua secara mendetil sampai kepada dampak pengawetan bagi kesehatan manusia agar tidak merusak jaringan-jaringan tubuh manusia ke depannya,”paparnya.
Murniasih masuk menjadi bagian dari BATAN bertepatan dengan era pemerintahan orde baru atau pemerintahan Presiden kedua RI, H.M. Soeharto yang akrab disapa Pak Harto. Di era, itu semua yang dilakukan BATAN adalah murni untuk kemanusiaan. BATAN melakukan segalanya untuk menghadirkan sesuatu bagi manusia khususnya kemajuan bangsa Indonesia di segala bidang. Karena Murniasih berada di bagian makanan, ia sedikit banyak mengetahui tentang dari mana asalnya bibit kedelai hitam khas Indonesia.
“ Kedelai hitam adalah hasil pengembangan dengan radiasi atom. Artinya, bibit kedelai hitam lahir karena proses atom. Singkatnya, ada satu komposisi yang dibuat agar dapat menciptakan bahan makanan menjadi seperti yang diharapkan. Maaf, saya hanya bisa menjelaskan sampai disitu saja tentang kedelai hitam,” lanjutnya.
Murniasih kembali menambahkan, setiap bagian di BATAN hanya mengurus apa yang sudah menjadi tugas utamanya. Hal-hal mendetil diluar itu berada di ranah pimpinan masing-masing departemen sampai pimpinan BATAN sendiri. Di BATAN ada juga bagian yang mengurusi kosmetik, bahan pangan seperti beras, dan kebetulan pada saat itu Murniasih juga ada di bagian yang mengurusi pemenuhan kebutuhan makanan bagi militer, khususnya militer Indonesia. 
“Satu contoh adalah nasi goreng siap saji untuk tentara. Dikarenakan sekitar tahun 1969 sampai memasuki 1970 aktifitas militer sangat besar, kegiatan pengawetan makanan untuk keperluan militer sangat diutamakan,”jelasnya.
Jalur atau mekanisme pengadaan makanan untuk militer setahu Murniasih, awalnya dari Mabes ABRI mengarahkan permintaan kepada Pemerintah. Pemerintah bersinergi dengan pihak industri atau pabrik, lalu pihak industri bekerja sama dengan BATAN untuk teknologi pengawetannya. Setelah selesai proses di BATAN, makanan masuk ke Dinas Kesehatan untuk uji kelayakan terkait kesehatan dan lain sebagainya yang menyangkut itu. Setelah lolos dari Dinas Kesehatan, makanan siap didistribusikan.
“Intinya memang benar di era saya bekerja di BATAN, atau saat saya pertama kali mulai masuk, fungsi BATAN sangat dititik-beratkan pada kemanusiaan. Seperti pengawetan makanan, penciptaan bibit tanaman baru, pembuatan atau pengawetan kosmetik, dan lain sebagainya,”sebutnya. 
“Bukan berarti saya berkata sebelum saya masuk BATAN melakukan di luar itu, tidak juga. Namun memang benar sejak 1969 saat pertama kali saya masuk, BATAN sudah mengarah pada kemanusiaan. Artinya boleh dikatakan di era pemerintahan Pak Harto itulah mulai berkembang ke arah kemanusiaan,” tambah Murniasih.
Di awal ia masuk BATAN, masih banyak ilmuwan sampai pimpinan BATAN yang berasal dari Rusia. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, kira-kira era 1970-an, mereka sudah pergi dan kerja sama BATAN lebih banyak dengan Amerika Serikat, Jepang, Italia bahkan India. Karena itulah pemerintah mulai banyak mengirimkan ahli-ahli atom atau nuklir Indonesia ke negara-negara tersebut untuk menimba ilmu lebih mendalam tentang pemberdayaan atom atau nuklir.
Keamanan para pekerja atau staf laboratorium BATAN sangat diperhatikan. Selain diberikan pengaman yang direkatkan di tubuh masing-masing staf berupa sebuah chip, para staf juga rutin diperiksa kesehatannya. Tujuan pemeriksaan kesehatan rutin itu adalah untuk mengetahui sampai sejauh mana kapasitas atau kadar radiasi yang diserap oleh tubuh. 
Jika dianggap sudah melebihi kapasitas, staf bersangkutan akan ditangani secara serius dan diistirahatkan minimal dua minggu sebelum kembali melakukan aktifitas. Sepanjang waktu bekerja di BATAN, Murniasih belum pernah mengetahui ada kasus apapun yang menimpa staf laboratorium terkait radiasi. Karena penanganan memang dalam tingkatan tertinggi dari penanganan kesehatan paling tinggi. Buktinya adalah kesehatan Murniasih sendiri hingga sekarang masih bagus dan sangat prima walau sudah memasuki usia indah.
“ Masyarakat itu awam terhadap atom atau nuklir. Mereka cuma tahu kulit luarnya saja. Padahal jika dipahami, radiasi itu tidak mematikan jika kadarnya kecil. Jika melebihi kapasitas, barulah bisa mematikan. Bahkan teknologi nuklir dapat bermanfaat untuk kesejahteraan umat manusia jika ditangani dengan baik dan benar. Contohnya untuk makanan, obat-obatan atau kosmetik, menciptakan bibit tanaman sampai untuk pembangkit listrik. Jadi semuanya adalah sebesar-besarnya untuk kemanusiaan,” pungkas Murniasih.
Karena alasan mengurus keluarga dan beberapa alasan lainnya, akhirnya Murniasih mengambil pensiun dini dari BATAN pada 1980. Namun selama kurang lebih 15 tahun keberadaannya di balik tembok BATAN, ia menjadi saksi bagaimana sepak terjang BATAN di era pemerintahan Pak Harto digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat, tanpa ada maksud apapun dibalik itu. 
Walau hanya serpihan, namun kisah Murniasih Martono bisa mencerahkan perspektif sebagian besar masyarakat yang masih bertanya-tanya tentang keberadaan dan apa yang dilakukan BATAN sejak dulu. Khususnya sejak pemerintahan Presiden Soeharto. Bahwa dengan teknologi nuklir yang dikelola sebaik mungkin, Indonesia bisa sejahtera dan memiliki segalanya. Bahkan sangat mungkin, Indonesia bisa menggali semua kekayaan alam sampai ke dasar laut paling dalam sekalipun.

Jurnalis : Miechell Koagouw / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Miechell Koagouw

Lihat juga...