Pasca Renovasi, Pelukis Wajah di Perempatan Sagan Dihantui Sewa Mahal

SENIN, 26 DESEMBER 2016

YOGYAKARTA — Pasca renovasi deretan lapak atau kios di kawasan perempatan Sagan, sekitar Kampus UGM Yogyakarta beberapa waktu lalu, sejumlah pelaku usaha binis jasa lukis wajah dan pigura mengaku resah. Mereka dihantui dengan biaya sewa kios yang terlalu mahal, digusur atau direlokasi ke tempat lain lantaran tak mampu membayar. Padahal selama ini mereka menempati lapak tersebut secara gratis tanpa dipungut biaya apapun.
Sejumlah kios di kawasan perempatan Sagan, UGM Yogyakarta
Di kawasan perempatan Sagan Yogyakarta, sedikitnya terdapat sebanyak 31 kios atau lapak para pelaku Usaha Kecil Menengah di bidang industri kreatif jasa lukis wajah dan pigura. Mereka mulai membangun dan menempati lapak-lapak tersebut sejak sekitar tahun 1982 lalu secara mandiri. Tanah di kawasan tersebut sebenarnya merupakan kawasan Sultan ground yang telah dihibahkan dan dikelolah sepenuhnya oleh UGM.
“Beberapa waktu lalu UGM mengaku akan melakukan penataan dan membangunkan lapak untuk kami, secara gratis tanpa dipungut biaya apapun. Tentu hal itu kita sambut dengan postitif. Karena lapak-lapak yang ada menjadi semakin nyaman, rapi dan tertata. Namun setelah jadi, ternyata kita tidak boleh menempati lapak itu sebelum sepakat membayar uang sewa,” ujar salah seorang pelaku usaha, Jaya.
Jaya dan pelaku usaha lainnya mengaku tak mempersoalkan dan bersedia membayar uang sewa kios setiap tahunnya. Namun ia berharap, uang sewa kios itu tidak terlalu mahal, sehingga tidak memberatkan para pedagang. 
Sampai saat ini sendiri besaran uang sewa lapak tersebut belum disepakati. Namun para pedagang atau pelaku usaha jasa lukis wajah dan pigura nekat menempati kembali lapak-lapak tersebut dengan alasan mencari nafkah.
“Kita berharap kalau memang harus bayar uang sewa ya kita bayarnya langsung ke kraton. Karena ini kan tanah kraton. Bukan milik UGM,” ujar lelaki dua anak ini.
Jaya sendiri mengaku menyayangkan sampai saat ini tidak ada pihak-pihak terkait, termasuk pemerintah, yang melirik usaha industri kreatif lukis wajah sebagai sebuah potensi yang bisa dikembangkan. Baik untuk sektor ekonomi maupun pariwisata. Padahal sektor industri kreatif lukis wajah di kawasan Sagan Yogyakarta ini sudah begitu dikenal hingga ke luar daerah dan menjadi ciri khas kawasan tersebut.
Sejumlah kios di kawasan perempatan Sagan, UGM Yogyakarta
“Harusnya pemerintah dan UGM buka mata. Ini kan industri seni, industri kreatif. Tidak banyak daerah yang memiliki potensi seperti ini. Mestinya didukung. Jogja ini kan gudangnya seniman, bayak lahir pelukis besar disini. Saya sangat berharap ini bisa dikembangkan. Misalnya saja dibuat sentra atau tempat khusus. Sehingga bisa menyaingi pasar seni Sukowati, di Bali. Masak Jogja tidak mampu,” tegasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Lihat juga...