Pesan Natal dari Rutan Maumere : Yesus Lahir untuk Orang yang Terbuang

SENIN, 26 DESEMBER 2016

MAUMERE — Misionaris asal Inggris, Pater John Prior, SVD saat memberikan khotbahnya pada perayaan Natal di kapela Rumah Tahanan (Rutan) Maumere menyebutkan, Yesus hadir untuk menjamah orang-orang yang terbuang, orang yang dikucilkan.
Pater John Prior, SVD saat memimpin misa di kapela Rumah Tahanan Maumere
Dijelaskan, Tuhan Yesus pun lahir di kota Betlehem, kota yang kecil, tidak punya nama bukan kota besar serta di sebuah kandang domba dan ditemani para gembala. Gembala saat itu merupakan orang yang paling dianggap kotor, terpinggirkan, tinggal di padang belantara, terpencil dan jarang masuk ke kampung. Mereka dijauhi orang.
“Kalau sekarang, para gembala ini identik dengan orang yang terkena penyakit HIV dan AIDS yang selalu dijauhi masyarakat, dicap kotor dan mendapat stigma yang tidak baik,” ujarnya, Minggu (25/12/ 2016).
Justru orang-orang seperti gembala, kata Pater John adalah orang yang selalu ingin didekati Yesus dimana selama hidupnya diri-Nya selalu membantu dan menolong orang yang terpinggirkan ini.
Pater yang menetap di Indonesia sejak tahun 1973 juga menyebutkan, tiap tahun menjelang Natal, di gereja selalu ada kandang Natal untuk mengingatkan apa yang terjadi 2016 tahun lalu, dimana Tuhan Yesus lahir di kandang domba.
“Di gereja Basilika Santo Petrus Roma, tiap tahun ada juga kandang Natal yang berbentuk berbeda dan sangat besar dimana tahun ini  kandang Natal di gereja ini disumbang oleh umat di pulau Mauta, Laut Tengah, Eropa Selatan,” terangnya.
Yang menarik, di samping kandang Natal di depan Basilika ini terdapat sebuah perahu besar. Beberapa tahun terakhir ada banyak orang yang mengungsi menggunakan perahu.
Pengungsi yang biasa dinamakan manusia perahu ini ucap misionaris yang juga relawan HIV dan AIDS ini, datang dari benua Afrika dan juga Eropa serta kawasan Timur Tengah menuju ke beberapa benua lain di daerah yang aman.
“Mereka mengungsi akibat di negaranya terjadi konflik, peperangan, tak ada kedamaian disana. Maria dan Yusuf pun harus mengungsi saat Maria sedang mengandung,” ungkapnya.
Pater John pun berceritera, di Papua sekitar 30 tahun yang lalu umat Kristen selalu membangun kandang Natal yang sangat besar, bukan di gereja tapi di sepanjang jalan sejak awal bulan Desember dan umat selalu berkumpul di tempat ini menyanyikan lagu Natal.
Dua tahun lalu tambahnya, di Paniai saat umat sedang menyanyikan lagu-lagu Natal , dua orang warga ditembak aparat keamanan dan meninggal. Kejadian ini bukan membuat mereka takut tapi mereka membangun kandang Natal yang lebih besar lagi dan lebih banyak orang yang berkumpul dan menyanyi.
“Kalau kami kumpul di depan kandang Natal, kami tidak merasa takut, kami merasa damai dan mengetahui Tuhan sungguh hadir bersama kami,” tuturnya menirukan perkataan umat di Papua.
Disebutkan, hari ini, langit dan bumi bersentuhan, berpelukan sebab Yesus hadir di tengah umat manusia untuk membawa kedamaian, membawa terang sukacita dan pesan moral bagi umat-Nya.
“Marilah kita menerima kedatangannya dan bisa membawa damai, kita bisa berdamai dengan diri, dengan sesama, dengan Tuhan serta berdamai dengan bumi ciptaan Tuhan,” pintanya di akhir khotbah.
Umat Katolik sedang antri depan pintu masuk Rutan Maumere untuk mengikuti misa Natal di dalam kapela Rutan Maumere
Pantauan Cendana News, perayaan Ekaristi di kapela ini yang dimuali pukul 07.30 WITA dihadiri ratusan warga sekitar Rutan beserta warga binaan dan keluarga yang datang berkunjung. Depan kapela, dibangun sebuah tenda dari terpal untuk menampung umat yang hadir.
Perayaan Ekaristi yang berlangsung khusuk ini, dimeriahkan oleh paduan suara dari warga binaan dan juga permainan suling dan angklung di awal dan akhir misa membawakan lagu Natal.

Jurnalis : Ebed de Rosary / Editor : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary

Lihat juga...