Melihat Siswa SD Maluku Belajar di Gedung Mau Rubuh

SELASA 5 MEI 2016
AMBON — Kondisi bangunan Sekolah Dasar Negeri (SDN)  Naskat Rumoi Ker-ker, Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT), Maluku, sudah hampir  hancur total. Tapi karena tak ada pilihan, siswa tetap belajar di sekolah tersebut.  Ancaman bahaya yang mengintai siswa dan guru, tidak diperdulikan. 


Bila pemerintah tidak segera merehabilitasi,  sekolah yang dibangun zaman Orde Baru itu, dikuatirkan dapat menimbulkan korban jiwa. Rangka bangunan di bagian atas sudah hampir hancur semua. Kondisi atap sudah bocor dan plafon sudah dimakan rayap.   
Gedung sekolah negeri itu dibangun ketika masih  bawah kendali pemerintahan Kabupaten Maluku Tengah (Sebelum Kabupaten SBT dimekarkan pada tahun 2003). 
.”Kerusakan sekolah ini sudah lama, tapi belum juga dibangun oleh pemerintah,” ungkap salah satu staf guru di SD Negeri Naskat Rumoi Ker-ker.
Jika musim hujan turun,  sekolah pasti diliburkan, akibat atap bocor dan keretakakan pada dinding bangunan. Termasuk meja dan kursi pun tidak cukup untuk enam ruang kelas di sekolah tersebut.
“Kerusakan sekolah ini sudah lama, sampai sekarang belum direhab atau dibangun baru oleh pemerintah,” kesalnya.
Menyikapi hal ini Ketua Fraksi Partai Gerindra di DPRD Kabupaten SBT, Fransisco Alimudin Kolatlena kepada Cendana News Selasa (3/5/2016) menegaskan, bila pemerintah tidak memperhatikan kesengsaran puluhan siswa di SDN Rumoi, lantas bagaimana bisa berbicara peningkatakan mutu pendidikan.
“Bulu kuduk saya merinding ketika melangkah masuk di halaman SD Negeri Rumoi. Nyanyian lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan  lagu Maju Tak Gentar membahana oleh puluhan siswa. Kondisi sekolah mereka rusak parah tapi semangat mereka tidak pudar,” ujarnya.
Sebagai wakil rakyat Fransisco Alimudin Kolatlena,  minta  agar  Negara membayar mahal semangat nasionalisme anak-anak SD Negeri Rumoi. 
“Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Timur harus segera membangun SD Negeri Rumoi. Kondisi sudah sangat memprihatinkan. Kewajiban pemerintah atau negara wajib memenuhi dan menyelamatkan anak-anak Rumoi. Mereka generasi penerus bangsa,” tegasnya.
Ditambahkan,  anak-anak SD Negeri Rumoi memang belum mengerti apa  itu nasionalisme, macam mana pula keadilan.
“Mereka hanya  ingin menjadi anak pintar dan maju, agar dapat meraih cita-cita, berguna bagi orang tua, bangsa dan negara,” jelas Ali.
Belum lagi minimnya tenaga guru. “Minim guru, atap bocor, meja dan kursi tidak cukup,  masalah pendidikan di SBT. Pemda Kabupaten SBT harus secepatnya bertindak,” cetusnya. (Samad Vanath Sallatalohy)
Lihat juga...