Konflik antara ormas Nusantara dan transnasional memiliki dimensi ganda. Kelompok muslim lokal sering merasa disudutkan oleh narasi, metode, atau tafsir gerakan transnasional. Sementara kelompok non-Muslim juga memandang intervensi eksternal sebagai ancaman terhadap otonomi budaya dan politik lokal.
Resistensi ini bukan hanya soal teologi. Tetapi tentang siapa yang berhak menetapkan kerangka hidup bersama dalam masyarakat yang menganggap dirinya sebagai peradaban independen.
Konflik ini bukan sekadar “framing media” atau perbedaan interpretasi ringan. Ini adalah konflik struktur sosial, perlindungan peradaban, dan kontestasi persepsi terhadap politik transnasional.
Kecuali mereka yang mampu berintegrasi dengan sistem Nusantara. Seperti beberapa cabang Ikhwanul Muslimin yang menyesuaikan agenda dengan konteks nasional. Organisasi transnasional kerap menghadapi resistensi karena masyarakat melihatnya sebagai upaya subordinasi eksternal. Bukan kontribusi terhadap cara hidup kolektif yang telah berlangsung lama.
Dengan demikian, benturan ini harus dipahami bukan hanya sebagai perbedaan teologis. Tetapi sebagai ekspresi resistensi sosial dan psikologis masyarakat yang sadar peradaban terhadap dominasi eksternal. Suatu refleksi bagaimana Indonesia sebagai peradaban independen memilih, menyaring, dan menolak ideologi luar demi menjaga kontinuitas dan eksistensi peradabannya.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com).