Ormas Islam Nusantara vs Transnasional

Metode, struktur, dan agenda gerakan transnasional kerap dipersepsikan sebagai politik transnasional. Mirip persepsi terhadap partai komunis yang dianggap perpanjangan Komintern.

Dalam wilayah persepsi ini, organisasi transnasional tidak hadir hanya untuk mengajarkan agama. Tetapi sebagai jaringan ideologi yang berpotensi memengaruhi tatanan sosial, politik, dan ekonomi secara sistematis. Ini menimbulkan perasaan bahwa umat lokal bisa disubordinasikan ke kekuatan luar. Berbeda dengan ormas Nusantara yang menggunakan metode lokal.

Fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori resistensi budaya dan sosiologi organisasi. Masyarakat berperadaban cenderung menolak struktur dan agenda eksternal yang mengancam kedaulatan simbolik dan sosial mereka (Scott, 1985; Geertz, 1960).

Benturan antara ormas Nusantara dan transnasional bukan sekadar perebutan basis massa keagamaan. Tetapi resistensi “masyarakat sadar peradaban” terhadap intervensi eksternal. Masyarakat memahami bahwa peradaban Nusantara lahir dari pengalaman kolektif yang kompleks. Bukan sekadar teks agama. Ketika organisasi transnasional hadir dengan agenda dan struktur yang terasa “diatur dari luar”, resistensi muncul sebagai perlindungan integritas sosial dan budaya.

Masyarakat Nusantara tetap menerima nilai universal Islam, selama dapat diintegrasikan dengan tradisi lokal tanpa merusak struktur sosial. Banyak ormas lokal memiliki metode tegas dalam pemahaman syariat, namun tidak dianggap sebagai “perpanjangan ideologi asing”. Mereka tumbuh dari ruang sosial yang sama dengan umat kebanyakan.

Misalnya, Persis yang sejak awal fokus pada pembentukan pemahaman keagamaan berdasar Al-Qur’an dan Sunnah. Merupakan usaha tajdid dari dalam Nusantara, bukan impor metode. Dikenal kuat secara syariah. Tapi diterima dengan baik.

Lihat juga...