Dunia Islam tidak perlu menyalin krisis tersebut. Belajar dari pengalaman Barat, Muslim dapat mengadopsi teknologi sambil menghindari ekses ideologisnya.
Muslim dalam peradaban teknik sesungguhnya tidak berada pada posisi inferior secara ontologis, melainkan pada fase transisi historis. Ketertinggalan teknologis memang nyata. Tetapi tidak mengharuskan dunia Islam menempuh ulang Renaisans, Pencerahan, dan Revolusi Industri Barat.
Melalui adopsi teknologi mutakhir, strategi lompatan pembangunan, dan integrasi nilai Islam sebagai kompas moral, negara-negara Muslim—dengan Indonesia sebagai contoh paling potensial—dapat membangun bentuk kemajuan yang cepat sekaligus bermakna.
Pada konteks ini, peradaban teknik bukan ancaman bagi Islam. Justru peluang bagi kebangkitan peradaban Muslim yang lebih cepat, lebih adil dan manusiawi.
Jakarta, ARS (rohmanfth@gmail.com). Esais & Penulis Independen. Menulis tema/isu Sosial Politik, Hukum, Kebijakan Publik dan Peradaban.