Laporan PwC, World Bank, dan McKinsey secara konsisten memproyeksikan Indonesia sebagai salah satu dari empat kekuatan ekonomi terbesar dunia pada 2045. Berdasarkan paritas daya beli. Sejajar dengan China, India, dan Amerika Serikat. Proyeksi ini didorong bonus demografi, urbanisasi, ekonomi digital, dan kelas menengah Muslim yang tumbuh pesat.
Indonesia juga memberikan contoh konkret bagaimana lompatan teknologi dapat terjadi tanpa melalui fase industrialisasi klasik ala Barat. Ekonomi digital Indonesia, menurut Google–Temasek–Bain, merupakan terbesar di Asia Tenggara. Diproyeksikan melampaui 300 miliar dolar AS sebelum 2030.
Inklusi keuangan syariah berbasis teknologi, ekosistem startup, serta penetrasi internet yang luas menunjukkan modernisasi teknis dapat berjalan berdampingan dengan identitas keislaman dan lokalitas budaya. Ini menegaskan negara Muslim tidak harus meniru jalur sekulerisasi dan konflik agama–sains seperti yang dialami Eropa modern.
Secara teoretik, hal ini sejalan dengan pandangan Malik Bennabi (pemikir besar peradaban Islam abad ke-20). Ia menekankan kebangkitan peradaban bukan ditentukan alat. Melainkan oleh efektivitas integrasi antara ide, manusia, dan sarana.
Teknologi tanpa visi hanya melahirkan imitasi. Visi tanpa teknologi menghasilkan stagnasi. Islam menyediakan visi nilai yang relatif utuh. Teknologi modern menyediakan sarana percepatan. Ketika keduanya disatukan, keterlambatan historis dapat berubah menjadi keunggulan strategis.
Krisis peradaban Barat modern justru memperkuat relevansi pendekatan ini. Laporan IPCC tentang perubahan iklim, meningkatnya gangguan kesehatan mental di negara maju menurut WHO, serta ketimpangan ekonomi global yang dilaporkan Oxfam. Menunjukkan kemajuan teknik tanpa kendali nilai menciptakan kerusakan sistemik.