Ketika Eropa masih berada dalam Abad Kegelapan, dunia Islam telah mengembangkan teknik irigasi canggih di Andalusia. Rumah sakit modern di Baghdad. Instrumen navigasi yang memungkinkan eksplorasi samudra.
Fakta ini penting. Menunjukkan jalur sejarah Barat bukanlah satu-satunya jalur menuju kemajuan teknis.
Teori pembangunan modern memperkuat argumen ini. Konsep late development dan leapfrogging dalam ekonomi pembangunan menjelaskan masyarakat yang datang belakangan tidak harus mengulang seluruh tahapan sejarah teknologi.
Alexander Gerschenkron menunjukkan bahwa negara yang terlambat justru dapat tumbuh lebih cepat. Ia bisa mengadopsi teknologi mutakhir tanpa melewati fase-fase awal yang panjang.
Contoh konkret dapat dilihat pada negara-negara Asia Timur seperti Korea Selatan dan Taiwan yang tidak mengalami Renaisans atau Revolusi Industri klasik ala Inggris. Tetapi mampu menjadi kekuatan industri dan teknologi global dalam waktu singkat. Mereka melakukannya melalui kebijakan negara, pendidikan sains, dan transfer teknologi.
Fenomena serupa juga terlihat di dunia berkembang saat ini. Banyak negara di Afrika dan Asia Tenggara langsung mengadopsi teknologi telekomunikasi seluler. Tanpa pernah membangun jaringan telepon kabel secara luas.
Layanan keuangan digital bahkan berkembang lebih cepat di beberapa negara berkembang dibandingkan negara maju. Ini menunjukkan teknologi modern memungkinkan lompatan struktural yang sebelumnya mustahil.
Dunia Islam, dengan populasi lebih dari 1,9 miliar jiwa dan bonus demografi besar, berada dalam posisi strategis melakukan lompatan serupa.
Indonesia juga memiliki signifikansi khusus. Sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia, Indonesia sering dipandang pinggiran dalam diskursus peradaban Islam. Padahal, secara ekonomi dan demografi, Indonesia justru berpotensi menjadi representasi kebangkitan dunia Muslim.