Bukit Anggrek

CERPEN S. PRASETYO UTOMO

TAK pernah dipikirkan Dewi Uma bila ia mesti mengajar di kampus yang berdiri megah di atas bukit. Masih pagi, kampus tampak tenteram, rimbun pohon-pohon jati.

Memasuki pelataran rektorat, ia terkesima dengan aneka warna anggrek bermekaran, bergelantungan di dahan-dahan pohon jambu air, berjajar sepanjang rak bunga.

Ia sangat mengenali bunga-bunga anggrek itu persis sama seperti yang berjajar di rak bunga dalam green house Pak Jo. Apakah anggrek di sepanjang pelataran rektorat ini juga dibeli dari Pak Jo?

Kini Dewi Uma mulai paham, kenapa orang menyebut kampus ini sebagai Bukit Anggrek. Dengan langkah bimbang, Dewi Uma membayangkan wajah rektor yang akan ditemuinya. Apakah ia seorang pecinta bunga anggrek?

Bertemu dengan rektor, Dewi Uma tak pernah menduga bila lelaki setengah baya itu menerimanya dengan ramah. Tatapan matanya bulat, bening, dan menyihir siapa pun yang memandangnya.

Menakjubkan. Dewi Uma terkesima. Lengkung tebal hitam alisnya mengesankan rektor memiliki kemauan kuat dan tak terbantah.

“Selamat datang di kampus ini,” kata rektor dengan senyumnya yang menambat perasaan Dewi Uma. “Aku mengundangmu untuk menyampaikan pesan. Semoga kau kerasan mengajar di kampus ini, dan tak kembali nyanyi di kelab malam.”

Tercengang, Dewi Uma tak pernah menduga bila rektor memahami masa lalu kehidupannya sebagai penyanyi kelab malam. Ia seorang magister seni musik yang selama ini memilih kebebasan hidup dengan menyanyi kelab malam. Lalu, apa lagi yang diketahui rektor tentang hidupku?

Tak ada pembicaraan yang penting dengan rektor. Dewi Uma mulai curiga, kenapa rektor mengundang ke ruangannya? Ia lebih banyak bicara basa-basi.

Ketika Dewi Uma berpamitan meninggalkan ruang rektor, sepasang mata bulat lelaki setengah baya itu tampak mengisahkan sebuah rencana. Lelaki setengah baya itu berbisik, “Bagaimana kalau kita nikah siri?”

Tidak marah, Dewi Uma menanggapi permintaan rektor sebagai sebuah gurauan. Sudah dua tahun ini ia ditinggal mati suami, sang saudagar, sebagai istri kedua.

Ia memiliki anak kecil lima tahun, Kinar, yang tumbuh dengan kecerdasan kanak-kanaknya. Ia tak mau terperangkap nafsu rektor yang baru dikenalnya.
***
MENJELANG senja berada di kebun Pak Jo untuk membeli anggrek yang belum dimilikinya, Dewi Uma dikejutkan kedatangan rektor. Rupanya rektor sering berkunjung ke kebun Pak Jo.

Lelaki setengah baya itu mengagumi anggrek yang berderet di rak bunga dan bergelantungan di sepanjang green house. Mereka memperbincangkan anggrek-anggrek yang baru didatangkan Pak Jo.

“Rupanya kita sama-sama pengagum anggrek,” kata rektor pada Dewi Uma. “Kau akan bahagia jadi istriku.”
Pak Jo yang mendengar canda rektor sempat tertawa. Dewi Uma merasakan tawa Pak Jo – yang selalu mengenakan blangkon dan lurik itu – sebagai cara menyindir rektor.

Tapi rektor tak merasakan sindiran Pak Jo.

“Kalau kau ingin dinikahi lelaki yang punya darah pejabat dan berharta, sebaiknya mengikuti kemauanku,” kata rektor, sambil bercanda.

“Tanyakan pada Pak Jo yang bisa membaca rahasia kehidupan seseorang. Kau akan tahu siapa leluhur yang menurunkanku. Ayahku seorang camat dan tuan tanah yang memiliki sawah ladang sangat luas di desa. Aku anak tunggal yang mewarisi semua kekayaan keluarga. Kini aku seorang rektor. Apa lagi yang membuatmu bimbang?”

Dewi Uma yang biasa digoda rayuan laki-laki saat menjadi penyanyi di kelab malam, kini mesti berhadapan dengan seorang lelaki setengah baya, tampan, berkuasa, dan sangat berpengalaman menaklukkan hati wanita.

Ia tak bisa begitu saja menolak lelaki setengah baya itu. Ia juga tak bisa menerimanya. Ia ingin melindungi perasaan Kinar, anak gadisnya yang kini berumur lima tahun, dari perasaan yang merusak jiwanya dengan kehadiran ayah tiri yang tak diinginkannya.

Ia mesti mencari cara menghindar dari jebakan rektor agar kehidupannya tetap selamat.

Ketika Pak Jo mengajak rektor memasuki pendapa rumah joglo, hati Dewi Uma merasa lega. Ia terhindar dari rayuan rektor yang kian berani mendesaknya untuk menjadi istri simpanan.

Ia tak ingin terperangkap jebakan rektor. Ia melihat rektor sangat menghormati Pak Jo. Ia berpikir untuk meminta perlindungan penjual bunga anggrek itu agar menjauhkan rektor dari maksud busuk mengajak nikah siri.

Hari senja dan Dewi Uma membeli anggrek bulan warna pastel. Ia meninggalkan kebun anggrek dengan perasaan yang menyimpan kecemasan.
***
MENINGGALKAN kampus, rektor ingin segera mencapai kebun anggrek Pak Jo. Ia mengendarai mobilnya menuruni jalan berkelok menuju desa, wilayah tanah datar dengan sawah ladang.

Kebun anggrek Pak Jo terhampar di antara sawah ladang. Rektor memasuki pelataran kebun anggrek yang senyap menjelang senja. Ia diterima Pak Jo, duduk di pendapa, menikmati hidangan secangkir kopi panas dan ketela goreng yang baru diangkat dari wajan.

Ia masih dengan pembawaannya sebagai seseorang yang berkuasa dan mudah menebarkan pengaruh.

“Bagaimana aku mesti membujuk Dewi Uma biar jadi istri simpananku?” tanya rektor pada Pak Jo. “Apa perlu aku memikatnya dengan aji jaran goyang?”

“Dia tidak akan mudah kau pikat dengan cara itu.”

Rektor meminum kopinya. Meletakkan cangkir dan menatap Pak Jo dengan pandangan penuh tanda tanya.

“Lalu, bagaimana aku mesti menaklukkannya? Sebagai putra camat yang terhormat, sejak kecil aku memperoleh keinginan-keinginanku. Orang-orang di sekitarku selalu mengalah untuk kebahagiaanku.”

Pak Jo menggeleng dengan gerakan pelan. Lelaki setengah baya itu memandangi rektor, seperti menembus batinnya. Rektor bergetar. Baru kali ini tubuhnya bergetar dipandangi Pak Jo.

“Cobalah kau tanyakan pada ibumu, siapa sebenarnya yang telah menurunkanmu.”

Kini rektor tampak canggung berhadapan dengan Pak Jo. Wajahnya susut dan pandangannya memudar. Kini ia merasa berada di bawah pengaruh tatapan Pak Jo yang bisa menembus batin seseorang. Ia goyah.
***
MELEWATI halaman rektorat menjelang sore, Dewi Uma melambatkan langkah kakinya. Ia terkesima memandangi bunga-bunga anggrek beraneka warna bermekaran, bergelantungan di dahan-dahan pepohonan jambu air yang berbuah ranum.

Ia berpapasan rektor. Lelaki setengah baya itu masih ramah. Tapi cahaya matanya tak lagi ingin menguasai orang lain. Ia menyapa Dewi Uma, dan tak tampak keinginan untuk merayu. Ia bahkan sibuk berbincang dengan tukang kebun yang menyirami pohon-pohon anggrek.

Dewi Uma merasakan perubahan sikap rektor. Ia melihat lelaki setengah baya itu tengah menahan diri. Mencapai ruang parkir, memasuki mobil, Dewi Uma masih memikirkan rektor yang bergolak jiwanya: antara keinginan menggoda dan mengekang diri.

Terlintas dalam pikiran Dewi Uma untuk singgah ke kebun anggrek Pak Jo. Lelaki setengah baya itu menyambut Dewi Uma dengan wajah yang lebih ramah dari biasa.

Tak ada pembeli yang berada di kebun anggrek Pak Jo. Hanya Dewi Uma yang leluasa menjelajahi green house. Mencari bunga anggrek yang belum dimilikinya.

Ia juga ingin menyingkap kehidupan rektor. Tentu Pak Jo memahami kehidupan rektor yang seringkali singgah di pendapa joglo.

“Apa yang terjadi dengan rektor? Dia tampak lebih bisa mengendalikan diri, dan tak lagi merayuku,” kata Dewi Uma, sambil memandangi bunga-bunga anggrek yang baru datang ke kebun ini.

“Apa aku mesti cerita tentang dia?” Pak Jo bersikap hati-hati. Ia memandang Dewi Uma untuk memastikan: berterus terang atau memendam rahasia pada janda berambut panjang yang menebarkan daya pikat itu.

“Tentu. Biar aku lebih bijaksana menghadapi rektor.”

Kebun anggrek menjadi sangat senyap, ketika Pak Jo berkata tenang, “Rektor selalu mengatakan ia keturunan tokoh terhormat, dan aku meragukannya. Kusuruh dia bertanya pada ibunya, siapa sesungguhnya ayah yang telah menurunkannya. Dari pengakuan ibunya, ia bukan anak camat. Lelaki yang selama ini dipanggil ayah, ternyata impoten. Agar keluarga camat punya keturunan, ibunya menjalin cinta rahasia dengan tukang kebun.”
Dewi Uma menahan napas.

Lama ia terdiam, merenung, menggeser langkah pelan-pelan, mengamati bunga-bunga anggrek yang bergelantungan dan berjajar di rak bunga dalam naungan green house.

Ia berhenti lama, takjub memandangi bunga anggrek bulan varietas nirmala agrihorti warna putih totol ungu. Dibelinya bunga anggrek itu. Dengan suara rendah, ia berpamitan pada Pak Jo.

Sambil melangkah pelan-pelan, membawa bunga anggrek kesayangannya, Dewi Uma merenungkan kembali tatapan mata rektor yang bulat, bening, dan menebar sihir itu.

Tatapan mata anak tukang kebun. ***

Pandana Merdeka, Semarang, Februari 2022

S. Prasetyo Utomo lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Sejak 1983, ia mulai aktif menulis esai sastra, puisi, cerpen, novel, dan artikel di beberapa surat kabar antara lain Horison, Kompas, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Republika, Koran Tempo, Media Indonesia, Bisnis Indonesia, Nova, Seputar Indonesia, Suara Karya, Mutiara, Pelita, Jayakarta, Majalah Noor, dan lain-lainnya. Tiga kali, nama S. Prasetyo Utomo masuk dalam Cerpen Pilihan Kompas, yakni pada tahun 2008, 2009, dan 2010. Kini ia juga menjadi dosen di Universitas Negeri Semarang.

Lihat juga...