Lodong Me, Ritual Adat Usai Melahirkan Etnis Tana Ai

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

MAUMERE — Etnis Tana Ai yang mendiami wilayah timur Kabupaten Sikka Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga kini masyarakatnya masih kental dengan adat budayanya, dan tetap dijalankan turun temurun.

Tetua adat etnisTana Ai Desa Nebe Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka, NTT, Wilhelmus Wolor saat ditemui usai menggelar ritual adat, Minggu (7/6/2020). Foto : Ebed de Rosary

Seorang bayi yang baru melahirkan pun harus menjalankan sebuah ritual adat agar kelaknya bisa tumbuh sehat dan diharapkan bisa menjadi pribadi yang baik dan berhasil dalam karyanya.

“Biasanya setelah 4 hari melahirkan maka akan dilaksanakan ritual adat Lodong Me. Sebelum itu sang anak selalu berada di dalam kamar rumah orang tuanya setelah sang ibu melahirkannya di Puskesmas atau rumah sakit,” kata Albinus Lase, tetua adat Tana Ai Desa Nebe Kecamatan Talibura Kabupaten Sikka, NTT, Minggu (7/6/2020).

Menurut Albinus, ritual adat dibuat untuk meminta restu dan mengucap syukur kepada penguasa langit dan bumi dan juga leluhur, dimana proses persalinan telah berlangsung lancar dan bayi bisa lahir dengan selamat.

Karena orang tuanya sulit saat melahirkan, maka kata dia, keluarga berjanji atau bernazar akan memberikan sesajen atau diistilahkan tukar nyawa dengan menyembelih hewan untuk dipersembahkan kepada leluhur dan penguasa langit dan bumi.

“Sehari sebelumnya kita menyembelih seekor babi. Darah dan daging yang sudah dimasak diletakkan di dalam tempurung kelapa (korak) bersama nasi. Setelah membaca doa, sesajen tersebut diletakkan di depan rumah,” ungkapnya.

Sebelum penyembelian hewan, tambah Albinus, dilantunkan doa untuk memanggil para leluhur dan penguasa langit dan bumi untuk hadir makan sirih pinang dan menghisap rokok atau tembakau.

Sirih pinang dan rokok dari tembakau asli yang dilinting dari daun gebang atau koli disajikan di sebuah wadah. Juga dituangkan arak atau Moke yang juga diletakkan di dalam tempurung kelapa.

“Setelah itu baru babi disembelih di depan rumah dan darahnya diambil untuk dioleskan sedikit di kaki atau tangan sang bayi dan ibunya. Daging yang telah dimasak bersama nasi dan tak lupa arak diletakkan dalam tempurung kelapa untuk dijadikan sesajen dan diletakkan di beberapa sudut rumah,” ungkapnya.

Tetua adat Tana Ai lainnya Wilhelmus Wolor menambahkan, daging yang sudah dimasak harus dikonsumsi sampai habis dan bila tidak habis maka bisa disisahkan untuk esok harinya dan biasa dinamakan tulang atau daging sisa.

Semua yang hadir kata Wolor sapaannya, bisa mengkonsumsi daging tersebut sepuasnya setelah sesajen diberikan dan dilantunkan doa sebagai ungkapan syukur atas kelahiran sang bayi dengan selamat.

“Keesokan paginya baru dilaksanakan Lodong Me. Sebelum matahari terbit, bayi tersebut digendong oleh tantenya untuk dibawa ke luar kamar dan berdiri persis di depan pintu rumah,” tuturnya.

Sambil digendong, jelas Wolor, tantenya akan berbicara memohon agar sang bayi bisa menjadi orang yang berbakti kepada orang tua, menjadi orang yang sukses di kemudian harinya.

Tantenya juga kata dia, akan memberikan petuah atau wejangan apa yang harus dilakukan dan tidak boleh dilakukan bila besar nanti termasuk keinginan agar anak tersebut bisa melakukan berbagai keinginan orang tuanya.

“Setelah itu baru paginya semua orang yang datang akan makan dan minum bersama keluarga dan merayakan kegembiraan tersebut dan ikut beryukur dan berdoa bagi kesehatan dan kehidupan bayi tersebut ke depannya,” ungkapnya.

Lihat juga...