Empat Koleksi Terfavorit Museum Bikon Blewut di Maumere
Editor: Koko Triarko
MAUMERE – Museum Bikon Blewut di Kompleks STFK Ledalero, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, menyimpan ribuan koleksi dan terdapat 4 koleksi favorit.
“Ada 4 koleksi favorit dan mendunia yang ada di museum ini yang selalu jadi sumber penelitian,” sebut penjaga Museum Bikon Blewut, Endi Padji, saat dihubungi, Minggu (17/10/2021).
Endi memaparkan, koleksi yang mendunia berupa Fosil Manusia Purba Flores, Fosil Gajah Purba Flores, Keris Perunggu dari Kebudayaan Dongson dan koin tua zaman Raja Alexander Agung dari Yunani.
Ia menyebutkan, ada artefak hasil penemuan Pater Verhoeven berupa batu-batu yang dulu digunakan sebagai alat kerja dan senjata di zaman paleolitichum, mesolitichum dan neolithicum.
Ada juga alat kerja atau senjata dari zaman logam awal yang terbuat dari perunggu berbentuk keris, yang merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Di Asia tersimpan satu di Dongson, Vietnam Utara.
“Alat kerja berbentuk keris ini merupakan satu-satunya yang ada di Indonesia. Selama ini hanya ditemukan dalam lukisan di bebatuan yang ada di beberapa wilayah di Indonesia,” ujarnya.
Endi mengatakan, muesum juga mengoleksi fosil-fosil gajah purba dan manusia purba dari Liang Bua Flores, disertai tembikar yang ditemukan di dalam gua tersebut.
Dia menjelaskan, manusia purba Flores diperkirakan pernah hidup 3.000 tahun sampai 1.000 tahun yang lalu, dan fosilnya ditemukan pada 1954 dan dikoleksi di museum pada 1965.
Dirinya menambahkan, gajah purba Flores diperkirakan pernah hidup di Flores 300 ribu tahun yang lalu.
“Dengan ditemukan fosil ini, maka mematahkan teori Wales yang mengatakan penyebaran fauna Asia termasuk gajah, hanya sampai Bali dan Lombok. Ternyata gajah purba juga ada di Timor dan Sumba, selain di Flores,” tegasnya.
Endi memaparkan, tentang satu koin tertua di dunia yang diperkirakan berusia 323 SM yang berasal dari Helas Yunani bergambar wajah Alexander Agung.
Menurutnya, koin ini pernah diteliti oleh ahli Numesmatik dari Afrika Selatan bernama Lufken yang memastikan, bahwa benar koin tersebut merupakan koin dari zaman Alexander Agung.
Ketua Komunitas Kahe, Eka Putra Nggalu, menuturkan pihaknya mengadakan kegiatan Re-Imagine Bikon Blewut (R-IBB) berangkat dari kegelisahan pihaknya, terutama seniman dari gerenasi milenial yang jauh dari tradisi dan modernitas.
Eka menggambarkan semacam generasi transisi, sehingga butuh belajar tradisi dan sejarah mengenai kehidupan modern pertama kali berkembang di Flores.
Sebutnya, ada dua tujuan yang ingin dicapai, yakni melihat tradisi Flores dari sejarah Flores dan melihat sejarah gereja yang ada hubungannya langsung dengan sejarah seni, budaya, pendidikan, literasi dan kehidupan modern di Flores.
“Yang paling penting, bagaimana agar museum bisa diakses secara bebas dan leluasa oleh masyarakat, karena menyimpan banyak pengetahuan,” tuturnya.
Eka mengakui, museum Biko Blewut masih mempunyai banyak kekurangan, masih terkesan tertutup, belum ada penataan dengan baik, belum ada program publik yang dilaksanakan secara rutin.
Ini yang hendak mereka dorong, agar manajemen pameran lebih rapih dan baik dengan tema-tema yang bisa lebih dibuat tematik dan lebih dekat dengan masyarakat, agar orang bisa belajar lebih leluasa, cair dan inklusif.
“Kami merasa penting bagi generasi muda untuk belajar sejarah, sebab kita akan mengulang kesalahan yang sama kalau tidak mengetahui sejarah. Agar kita bisa merumuskan masa depan yang lebih baik,” ungkapnya.