Konservasi DAS Way Pisang Dukung Sektor Pertanian

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Konservasi daerah aliran sungai (DAS) Way Pisang, Lampung Selatan, dinilai turut mendukung sektor pertanian. Sungai bersumber dari Gunung Rajabasa tersebut mendukung petani padi dan hortikultura yang ada di dekat aliran sungai itu.

Hasan, petani lahan sawah di kawasan sungai itu mengaku bisa menggarap lahan empat kali dalam setahun. Kendala pasokan air tidak dialami di wilayah DAS Way Pisang, meski di musim kemarau. Di wilayah pertanian yang dekat dengan sungai Way Pisang, Hasan menyebut bisa bercocok tanam meski menggunakan mesin pompa air. Memasuki masa tanam ke tiga atau mendekati kemarau, ia pun tetap bisa menanam padi.

“Konservasi DAS Way Pisang dilakukan oleh masyarakat dengan penanaman pohon. Sempat mengalami kerusakan pada 2010, upaya reboisasi dilakukan dengan dukungan Kementerian Kehutanan. Penyediaan bibit dengan sistem kebun bibit rakyat (KBR) dilakukan untuk menyediakan tanaman bagi masyarakat secara gratis,” terang Hasan, saat ditemui Cendana News, Rabu (24/6/2020).

Hasan, pemilik lahan di kontur tanah perbukitan yang berada lebih tinggi dari Way Pisang, Rabu (24/6/2020). -Foto: Henk Widi

Menurut Hasan, sumber air yang sempat hilang kembali mucul karena di kawasan penyangga hutan lindung kembali ditanami berbagai jenis pohon peresap air jenis kemiri, keluwek, damar serta tanaman lain yang bernilai ekonomis, namun bisa menjadi sumber munculnya air.

Hasan menyebut, selain melakukan pengelolaan lahan untuk usaha pertanian, ia juga menanam pohon kayu. Berbagai jenis tanaman pohon kayu yang dilestarikan merupakan jenis pohon jengkol, petai dan bambu. Semua jenis tanaman bisa menghasikan secara ekonomis di DAS Way Pisang, sekaligus penahan longsor. Berbagai jenis pohon kayu dipanen menjadi bahan bangunan.

Pemanfaatan sungai Way Pisang untuk lahan pertanian, terutama sawah, memakai alat dan mesin pertanian (alsintan). Tanpa kuatir kekurangan, air ia memaksimalkan mesin alkon menyedot air dari sungai untuk dialirkan ke lahan sawah. Jarak sawah dan sungai sejauh ratusan meter bisa diatasi memakai selang khusus untuk mengalirkan air.

“Saat kondisi sungai tetap lestari ditandai dengan air yang tetap lancar, akan menggerakan sektor ekonomi, salah satunya pertanian,” terang Hasan.

Maryanti, salah satu wanita yang mulai melakukan proses penanaman atau tandur, juga mengaku pasokan air lancar. Meski harus mengeluarkan biaya mahal untuk proses pengairan memakai mesin pompa air, petani tetap bisa menanam padi. Di lahan di wilayah Sukabaru yang berada jauh dari aliran air lahan, hanya ditanami jagung.

Way Pisang yang belum tercemar menjadi salah satu sumber pasokan air bersih. Sebagian wanita yang memanfaatkan sungai Way Pisang membuat sejumlah belik atau ceruk air, bersih. Saat kemarau meski sumur kering, kebutuhan air bersih tetap bisa diperoleh untuk mandi, mencuci hingga minum. Sebelum diminum proses penyaringan dilakukan dengan instalasi penjernih air.

“Masyarakat yang menjaga lingkungan DAS Way Pisang bisa mendapat keuntungan untuk kebutuhan harian dan pendukung usaha pertanian,” terang Maryanti.

Pemanfaatan air untuk pertanian padi sawah, menurutnya dimulai pada masa pengolahan hingga perawatan. Selama masa tanam musim gadu, ia memilih benih padi toleran tinggi pada pasokan air minim. Sistem kocor akan dilakukan setiap tiga hari maksimal sepekan, sehingga pertumbuhan tanaman bisa didukung oleh pasokan Way Pisang.

Anjar, petani di DAS Way Pisang, memanfaatkan pasokan air lancar dari sungai terpanjang di Penengahan tersebut. Meski musim kemarau akan segera tiba, ia memastikan pasokan air akan terpenuhi. Pilihan penanaman komoditas hortikultira jenis sayuran dilakukan untuk meminimalisir penggunaan air. Memiliki lahan lebih tinggi dari sungai pengambilan air dilakukan memakai ember.

Lihat juga...