Petambak Udang di Lamsel Merugi Akibat Penghentian Ekspor
Editor: Koko Triarko
LAMPUNG – Munculnya virus Corona (Covid-19) di Cina dan sejumlah negara, termasuk Indonesia, berdampak pada sektor perikanan budi daya di Lampung Selatan. Dampak langsung dirasakan Tumijan, petambak udang vaname di Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, Lampung Selatan, yang menyebut permintaan udang tujuan ekspor saat ini menurun.
Ekspor udang putih atau vaname, menurut Tumijan selama ini dominan tujuan Hongkong,Taiwan dan Cina. Sebagai pembudidaya udang vaname, hasil panen akan dibeli oleh distributor besar di Jalan Lintas Timur (Jalintim), selanjutnya dikirim ke Jakarta. Sejak muncul virus Corona, sementara waktu udang vaname tidak diekspor.
Tumijan mengaku, dihentikannya pengiriman udang vaname untuk ekspor sudah berlangsung sejak dua pekan silam. Ia mengaku maklum, alasan utama sehingga sejumlah pengepul, distributor tidak melakukan ekspor demi faktor kesehatan.
Rutin menjual udang vaname sebanyak 3 ton untuk tujuan ekspor, kini hasil panen hanya dipakai untuk memasok kebutuhan lokal.

“Dampak Corona secara langsung bagi petambak udang berkurangnya pangsa pasar ekspor, karena sejumlah negara sementara menghentikan ekspor-impor sejumlah produk dengan alasan faktor kesehatan,” terang Tumijan, saat ditemui Cendana News, Senin (9/3/2020).
Imbas tidak adanya ekspor komodita udang vaname, Tumijan mengaku mengalami kerugian. Sebab, distributor tetap memilih menurunkan harga. Udang vaname untuk kualitas ekspor diakuinya memiliki harga lebih tinggi. Rata-rata udang yang dijual mencapai size 100. Sejak ekspor dihentikan sementara waktu, ia mengalami kerugian hingga puluhan juta.
Kerugian tersebut akibat anjloknya harga. Khusus untuk udang kualitas ekspor, per kilogram udang size 100 bisa mencapai Rp100ribu. Namun untuk pasokan lokal, harga udang vaname dengan size 75 hanya dihargai sekitar Rp45ribu per kilogram. Berkurangnya peluang penjualan ekspor berimbas potensi keuntungan berkurang, hingga waktu yang belum bisa ditentukan.
“Petambak melakukan budi daya dominan menangkap peluang ekspor, tapi saat dihentikan sementara akan berdampak kerugian,” cetus Tumijan.
Langkah meminimalisir kerugian, Tumijan memilih menjual ke pengepul lokal. Pengepul lokal yang memiliki pangsa pasar wilayah Lampung, Palembang, Banten dan Jakarta masih membeli udang milik petambak. Kebutuhan udang vaname, menurutnya dominan untuk memenuhi pasokan rumah makan, restoran boga bahari (seafood).
Petambak lain, Joni, menyebut penghentian ekspor sementara tidak berdampak signifikan. Sebab, meski tidak diekspor, udang vaname bisa dialihkan ke pasar lokal dengan risiko harga turun. Sebab, harga udang vaname di pasar lokal dipastikan tidak bisa dijual dengan harga tinggi. Terlebih memasuki awal Maret, sejumlah petambak sedang panen.
“Solusi mengurangi kerugian hasil panen dijual ke pasar lokal, meski rugi, namun bisa menutupi biaya operasional,” beber Joni.
Ukuran atau size udang permintaan ekspor yang besar mencapai 100 per kilogram, membuat petambak bisa panen lebih awal. Sebab, kebutuhan untuk pasar lokal menurut Joni, dominan hanya udang size 75.
Faktor virus Corona yang berpengaruh pada sektor pertambakan, menurut Joni belum dipastikan kapan akan berakhir. Selama ekspor dihentikan, otomatis hasil budi daya hanya untuk pasar dalam negeri.
Udang vaname yang bisa dipanen saat usia 90 hari, sebut Joni, per petak rata-rata mendapat hasil 3 ton. Sebagai cara mengantisipasi kerugian sejumlah petambak memilih memanen lebih awal. Sebab tanpa ada ekspor, udang vaname sudah bisa dijual meski hanya size 75 per ekor, tanpa harus menunggu hingga size 100. Cara tersebut dilakukan mengurangi kerugian biaya operasional.
Dihentikannya ekspor udang vaname sementara waktu, juga berimbas pada usaha es balok. Kasmin, penyedia es balok di Jalintim mengaku menyiapkan sekitar 100 balok selama empat hari. Saat ekspor masih berjalan, distributor membutuhkan rata-rata 20 balok es untuk mengawetkan udang. Permintaan menjadi hanya sekitar 5 balok untuk kebutuhan distribusi pasar lokal.
“Jarak tempuh yang dekat di pasar Lampung membuat kebutuhan es juga menurun,”cetus Kasmin.
Ia berharap, virus Corona segera berakhir karena ikut berdampak baginya. Sektor usaha budi daya dan usaha berkaitan dengan budi daya udang ikut terdampak hingga waktu yang tidak pasti.
Ia memilih mengurangi stok es balok dari pabrik imbas permintaan yang menurun. Permintaan stabil rata-rata 2 es balok dipesan oleh petambak udang yang melakukan panen parsial, untuk memenuhi pasar lokal di Bandar Lampung.