Damandiri Fasilitasi Pemuda Cilongok Belajar Budidaya Lele
Editor: Makmun Hidayat
BANYUMAS — Yayasan Damandiri melalui Koperasi Utama Sejahtera Mandiri memfasilitasi delapan pemuda dari Desa Cilongok, Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas untuk mengikuti pelatihan budidaya lele dengan metode bioflok. Pelatihan tersebut dilaksanakan di sentra budidaya lele milik salah satu peternak lele di Desa Gumiwang, Kecamatan Purwanegara, Kabupaten Banjarnegara.

Ketua Koperasi Utama Sejahtera Mandiri, Riyan Hidayat mengatakan, pelatihan berlangsung selama satu bulan dan saat ini sudah memasuki hari ke-10. Selama pelatihan, para pemuda Cilongok ini menginap di Banjarnegara.
“Ada peternak lele yang berhasil di Banjarnegara, namanya Pak Udiyono dan pihak Yayasan Damandiri memfasilitasi pemuda di sini untuk menimba ilmu di sana selama sebulan,” terang Riyan, Selasa (10/12/2019).
Setelah mengikuti pelatihan, nantinya para pemuda ini akan menerapkan ilmu yang mereka peroleh dengan membuka budidaya lele di kawasan pabrik komunal gula kelapa. Seluruh ubai rampai pembuatan kolam lele hingga bibit akan diberikan oleh pihak Yayasan Damandiri.
“Jadi tidak hanya pelatihan saja, tetapi juga diberi kesempatan untuk menerapkan langsung ilmu yang mereka peroleh di Banjarnegara. Lahan di kawasan komunal gula kelapa Cilongok masih sangat luas dan bisa untuk membuka kolam lele,” kata Riyan.
Salah satu pemuda Cilongok yang ikut pelatihan budidaya lele di Banjarnegara, Sigit Iswanto mengatakan, budidaya lele yang dipelajari yaitu sistem bioflok. Sistem tersebut merupakan budidaya lele dengan memanfaatkan bakteri pembentuk gumpalan atau flok yang bisa menghasilkan pakan untuk lele.
Metode ini banyak dilakukan peternak lele di Kabupaten Banjarnegara, karena mampu menghemat biaya pakan lele, sekaligus memperbanyak konsumsi pakan lele. Untuk kolam lele sendiri, dialasi dengan terpal, sehingga lebih praktis.
“Kolam lele dibuat dengan ukuran tidak begitu besar dan pada dasar kolam dilapisi terpal. Setelah itu dipasang pipa pada dasar kolam yang berfungsi sebagai jalan keluar kotoran lele yang mengendap di dasar kolam. Kotoran lele ini kemudian diproses, hingga akhirnya bisa menjadi pakan,” tutur Sigit.
Sigit mengaku mendapatkan banyak ilmu selama berada di Banjarnegara dan siap untuk menerapkan motode yang dipelajarinya di kampung halamannya.
“Kemarin saya juga ikut pelatihan budidaya tanaman vanili dan sekarang ikut pelatihan budidaya lele, banyak sekali pengetahuan dan ketrampilan yang saya peroleh dan ke depan bisa menjadi pegangan untuk masa depan saya, karena sampai saat ini saya belum mempunyai pekerjaan yang tetap,” kata Sigit.
Dia pun mengucapkan terima kasih kepada Yayasan Damandiri yang sudah memberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan. “Nantinya juga memfasilitasi kami untuk menerapkan ilmu yang diperoleh di Cilongok,” pungkasnya.