Lewat sejumlah yayasan, Pak Harto masih terus bantu masyarakat kecil

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

PONOROGO, Cendana News — Program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Yayasan Damandiri melalui KUD Jaya Mandiri Sejahtera, terbukti mampu menumbuhkan dan menggerakkan perekonomian warga desa Badegan, Ponorogo, Jawa Timur dan sekitarnya.

Lewat sektor pariwisata, pemberdayaan ekonomi tersebut dilakukan Yayasan bentukan Presiden Soeharto itu, dengan cara merevitalisasi kawasan Bukit Soeharto, yang sebelumnya sepi dan terbengkalai menjadi destinasi wisata yang selalu ramai pengunjung.

Hanya dalam kurun waktu sekitar dua tahun, Bukit Soeharto yang dikelola Koperasi binaan Yayasan Damandiri, KUD Jaya Sejahtera Mandiri Badegan, kini bahkan telah berkembang dan menjadi destinasi wisata paling populer serta menjadi rujukan objek wisata lain di kabupaten Ponorogo.

Setiap memasuki musim liburan, objek wisata Bukit Soeharto, selalu penuh sesak oleh wisatawan lokal maupun luar daerah. Selain menikmati keindahan panorama alam, para pengunjung juga sengaja datang untuk napak tilas jejak sejarah sosok Presiden Kedua RI HM Soeharto.

Manager Umum KUD Jaya Mandiri Sejahtera Badegan, Wahyu Bintoro, mengakui besarnya kontribusi objek wisata Bukit Soeharto, dalam menumbuhkan dan menggerakkan perekonomian warga sekitar.

Bagaimana tidak, saat ini tercatat ada 150-200 orang warga sekitar yang mencari nafkah dan menggantungkan hidupnya dari keberadaan objek wisata Bukit Soeharto.

Di sektor UMKM misalnya, saat ini tercatat ada sekitar 60 lebih pedagang yang secara resmi berjualan atau membuka usaha di kawasan wisata Bukit Soeharto ini.

Jumlah tersebut biasanya akan meningkat saat masa libur lebaran. Pasalnya banyak pedagang dadakan yang akan ikut berjualan di kawasan Bukit Soeharto, baik menggunakan gerobak kayu, gerobak motor dan sebagainya.

“Untuk pedagang resmi ada sekitar 60 orang. Mereka kita tampung di lapak-lapak yang telah disediakan. Sedangkan untuk pedagang dadakan jumlahnya juga cukup banyak. Bisa mencapai 20 orang, per hari,” katanya.

Untuk menjalankan kegiatan wisata sehari-hari, pihak pengelola selama ini juga tercatat mempekerjakan total hampir 24 orang karyawan di kawasan Bukit Soeharto. Mulai dari petugas tiket, kebersihan, penjaga keamanan dan sebagainya.

Mereka merupakan para pemuda pemudi desa sekitar, yang selama ini menganggur atau tidak memiliki pekerjaan.

“Saat liburan kita juga biasa menempatkan empat orang tenaga badut untuk menghibur wisatawan atau pengunjung,” imbuhnya.

Dari sisi parkir, Wahyu mencatat sedikitnya ada sekitar 20 orang warga yang direkrut untuk membantu mengatur dan menata kendaraan para pengunjung di kawasan Bukit Soeharto saat musim liburan.

Jumlah tersebut belum termasuk, para petugas parkir diluar naungan pengelolaan Bukit Soeharto, yang banyak bermunculan di sekitar ruas utama Jalan Nasional Ponorogo-Wonogiri itu.

“Saat memasuki masa liburan, akan banyak bermunculan parkir liar di sekitar kawasan Bukit Soeharto ini. Seperti misalnya di sebelah barat pintu masuk Bukit Soeharto. Mereka merupakan warga sekitar yang berasal dari 2 RT. Jumlahnya bisa belasan bahkan lebih,” katanya.

Sementara itu, terkait perputaran ekonomi, Wahyu memperkirakan sekitar Rp200 juta lebih uang yang berputar di objek wisata Bukit Soeharto, setiap harinya selama masa liburan.

Jumlah itu dihitung dari tolak pendapatan minimal yang terpantau pihak pengelola, baik itu dari sisi tiket masuk pengunjung, pendapatan parkir resmi, hingga omset rata-rata setiap pedagang/pelaku UMKM per hari.

“Untuk tiket, kemarin kita dapat Rp30 juta dalam satu hari yakni saat libur Tahun Baru. Untuk pengelola psatu hingga dua juta rupiah per hari,” katanya.

Besarnya dampak ekonomi yang diberikan objek wisata Bukit Soeharto pada masyarakat ini seolah menjadi bukti, keberhasilan program pemberdayaan ekonomi yang dijalankan Yayasan Damandiri bentukan Presiden Soeharto selama ini.

Meski telah wafat hampir 15 tahun silam, namun melalui sejumlah Yayasan yang dibentuk semasa hidupnya, Pak Harto tetap mampu berkontribusi langsung membantu ratusan bahkan ribuan masyarakat kecil yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Lihat juga...