Kenduri Akikah Syukuran Kelahiran Lestari di Lamsel
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Rasa syukur atas kelahiran diungkapkan oleh keluarga melalui kenduri. Sunardi, tokoh agama di Dusun Jatisari, Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan menyebut tradisi kenduri masih lestari di Lampung Selatan (Lamsel).
Menjaga tradisi etnis Jawa yang menetap di Lampung, kenduri menjadi bentuk kebahagiaan dengan bersedekah.

Kebahagiaan yang diungkapkan dalam kenduri sekaligus menjadi kesempatan untuk akikah. Sebagai keluarga Muslim, keluarga yang diberi titipan anugerah anak laki-laki menjalankan akikah. Sebab sesuai hadis setiap anak tergadai dengan akikahnya.
Menurut hadis riwayat Ahmad setiap anak tergadaikan dengan akikahnya. Disembelih pada hari ketujuh dan dicukur gundul rambutnya serta diberi nama.
Kenduri akikah menurut Sunardi sesuai dengan niatan orangtua Riko Budiaman dan Yuli Widiastuti. Sebab sesuai hadis syafaat yang diberikan anak kepada orangtua tergadaikan dengan akikahnya. Sebagai bentuk tanggungjawab dan menjalankan agama, kenduri sekaligus akikah dilakukan agar orangtua mendapat syafaat pada hari kiamat.
“Iman dan tradisi yang masih terus dilestarikan memiliki makna yang dalam menyimbolkan hubungan dengan Sang Pencipta dan juga dengan sesama dalam wujud bersedekah,” ungkap Sunardi saat memimpin acara kenduri akikah, Minggu (24/11/2019) malam.
Sunardi menyebut sebelum kenduri pada malam hari, keluarga yang memiliki anak yang dilahirkan telah melakukan akikah. Proses akikah dilakukan dengan menyembelih dua ekor kambing bagi anak laki-laki.
Selain akikah rasa syukur dibarengkan dengan tradisi Jawa berupa sepasaran. Sepasaran dilakukan oleh keluarga dengan mengirimkan hantaran nasi lengkap dengan lauk pauk ke tetangga dan kerabat.
Pada malam harinya, kegiatan kenduri sekaligus akikah digelar dengan rangkaian doa. Doa yang dihadiri oleh kerabat dan tetangga terdekat menjadi simbol ungkapan berbagi. Sebab pada acara kenduri hidangan makanan lengkap dengan lauk pauk disiapkan.
Bersamaan dengan akikah, selain lauk daging ayam goreng, sayuran, kerupuk, daging kambing yang digulai juga disertakan.
“Perbedaan kenduri akikah terlihat dari lauk yang disertakan biasanya dilengkapi dengan daging kambing akikah,” ungkap Sunardi.
Selain itu tidak ditinggalkan keberadaan jenang agau bubur merah putih. Perpaduan dua bubur tersebut menyimbolkan persatuan antara darah sang ibu dan sang ayah. Percampuran darah orangtua yang menjadi kehidupan baru pada sang anak selalu dihadirkan pada jenang merah putih. Selain itu aruman dengan lampu menyala menyimbolkan penerangan untuk jalan kehidupan sang anak.

Aruman menurut Sunardi merupakan plasenta sang anak yang dipisahkan dari tali pusar. Pada masyarakat di pedesaan aruman masih dipendam tepat di depan pintu rumah.
Pemberian lampu saat malam hari yang semula memakai lampu minyak kini menggunakan lampu listrik. Simbol penerangan tersebut sekaligus bertujuan agar adi ari ari bisa ikut membimbing perjalanan sang kakak dalam diri anak yang lahir.
Syukuran kenduri akikah yang dipimpin oleh Sunardi sekaligus menjadi saksi pemberian nama. Pemberian nama dalam doa yang dituliskan pada secarik kertas menjadi pesan agar warga yang diundang mendoakan anak yang dilahirkan. Pemberian nama sekaligus mengumunkan kehadiran anggota keluarga baru.
Usai doa dilakukan, sesuai tradisi warga setempat kegiatan tirakatan masih tetap dilakukan. Tradisi tirakatan atau muyenan yang masih terus dilakukan bertujuan menemani keluarga yang memiliki anak.
Kegiatan muyenan atau melekan menjadi cara untuk memberi dukungan bagi keluarga. Bagi sejumlah kerabat yang datang kerap memberi sumbangan berupa uang atau bahan makanan bentuk ucapan selamat atas kelahiran anak.