BMKG: Potensi Kekeringan Terjadi di Daerah Sentra Pangan
Editor: Koko Triarko
JAKARTA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), meminta semua pihak untuk mengambil langkah antisipatif, terkait dampak musim kemarau yang diperkirakan akan mempengaruhi hasil komoditas pangan.
Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG, Dr. Dodo Gunawan, menjelaskan dari pantauan hari tanpa hujan dasarian II Juli 2019, menunjukkan daerah yang berpotensi kekeringan adalah daerah sentra pangan.
“Dari peta terlihat, bahwa daerah yang patut diwaspadai adalah daerah yang sudah berwarna merah. Terlihat, bahwa daerah-daerah ini adalah daerah sentra pangan, yaitu penanaman padi,” kata Dodo, dalam konferensi pers di kantor Kemenko PMK Jakarta, Selasa (30/7/2019).
Ia menambahkan, yang perlu mewaspadai ini bukan hanya petani padi, tapi juga komoditas lainnya. “Musim kemarau ini akan mempengaruhi beberapa aspek komoditas. Kalau petani garam akan bersorak, karena kualitas produksinya akan bagus. Beda dengan yang tanaman pangan, akan berpengaruh,” ujar Dodo.
Dodo menyebutkan, untuk daerah yang irigasinya bagus, potensi untuk dapat bertahan di periode kering ini persentasenya lebih besar dibandingkan daerah yang tidak memiliki sistem irigasi yang baik.

“Yang gawat adalah daerah yang irigasinya tidak baik. Di daerah inilah dibutuhkan antisipasi. Besar kemungkinan, Kementerian Pertanian sudah mempersiapkan. Di sinilah fungsi embung air, karena akan bisa dipergunakan untuk membantu di saat kemarau,” ujarnya.
Secara potensi, dengan berkurangnya air maka akan berpengaruh pada produksi pangan. Tapi, menurut Dody, dengan adanya early warning, maka institusi terkait sudah bersiap.
“Kondisi saat ini lebih berat dari 2018, tapi lebih ringan dari 2015. Saat itu pengaruh El Nino, kuat. Kalau sekarang El Nino, lemah. Tapi, tetap saja semua pihak harus siap-siap,” ujarnya.
Kepala Balai Besar Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) BPPT, Tri Handoko Seto, menyebutkan, TMC memang salah satu upaya untuk menghadapi bencana. Baik itu kekeringan maupun kebakaran hutan.
“Tapi sebenarnya, kita melakukan langkah antisipatif menghadapi musim kemarau itu pada saat musim hujan. Sehingga banyak alternatif yang bisa dilakukan,” kata Seto.
Ia mencontohkan apa yang diaplikasikan oleh Thailand dalam menghadapi musim kemarau.
“Negara Thailand itu kecil jika dibandingkan Indonesia, tapi punya 15 posko untuk TMC. Jika mereka sudah memantau, bahwa curah hujan di musim penghujan tidak setinggi biasanya, maka mereka sudah mempersiapkan TMC untuk memenuhi bendungan dan embung milik mereka. Sehingga saat musim kemarau, bendungan dan embung yang penuh ini akan menjadi alternatif pengairan,” pungkas Seto.