Indeks Keanekaragaman Hayati Indonesia, Pedoman Pembangunan Berkelanjutan
Redaktur: Satmoko Budi Santoso
YOGYAKARTA – Fakultas Biologi UGM bekerja sama dengan Konsorsium Biologi Indonesia (KOBI) dan Yayasan WWF Indonesia, menginisiasi pembentukan komite Indeks Biodiversity Indonesia (IBI) guna menghimpun data kenekaragaman hayati Indonesia sebagai salah satu pedoman kebijakan pembangunan keberlanjutan untuk konservasi kekayaan hayati.
Ketua Umum KOBI sekaligus Dekan Fakultas Biologi UGM, Dr. Budi Daryono, mengatakan, Indonesia sebagai negara mega biodiversity saat ini mengalami penurunan status keanekaragaman hayati akibat pertumbuhan penduduk, peningkatan jumlah konsumsi, hingga perdagangan beragam tumbuhan dan satwa liar sebagai salah satu komoditas.
Ia menyebut untuk dapat memahami dengan baik status keanekaragaman hayati diperlukan suatu indikator pengukuran yang konsisten.
Menurutnya indeks keanekaragaman hayati indonesia (IBI) ini diharapkan bisa menjadi alat ukur yang menggambarkan status keanekaragaman hayati dengan target pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan.
”Metode yang dikembangkan mengacu pada living planet index yang telah digunakan sebagai alat ukur kenekaragaman hayati global,” ujarnya dalam diskusi di UGM, Rabu (29/5/2019).
Sementara itu, CEO Yayasan WWF Indonesia, Rizal Malik, juga sepakat perlunya alat ukur untuk mengetahui keadaan jumlah keanekaragaman hayati di tanah air melalui Indeks Biodiversity Indonesia. Sebab menurutnya belum ada gambaran secara nasional mengenai keadaan biodiversitas.
”Kita mengajak banyak pihak untuk terlibat termasuk KOBI, NGO, dan pihak lain seperti kementerian terkait,” katanya.
Ia menilai, adanya data Indeks Biodiversity Indonesia, akan bisa jadi pedoman bagi para pengambil kebijakan dalam melaksanakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan.
Sedangkan peneliti WWF Indonesia, Thomas Barano, mengatakan, saat ini terjadi tren penurunan populasi pada populasi kelompok ikan, amfibi, mamalia dan burung.
Tidak hanya itu, di beberapa daerah tertentu terdapat spesies yang sudah terancam punah. “Misalnya spesies gajah di daerah tertentu sudah punah,” ujarnya.
Dengan inisiasi pembentukan Indeks Biodiversity ini, menurutnya bisa menjadi dasar pengambilan keputusan dalam pengelolaan keanekaragaman hayati dalam suatu kawasan dan wilayah yang didukung dengan kebijakan perlindungan untuk spesies langka dan terancam punah.
“Biodiversitas adalah aset negara sehingga perlu dikelola dan dipelihara dengan baik,” pungkasnya.