PascaJTTS Beroperasi, Pelaku Usaha Kecil Tangkap Peluang Pasar
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Sejumlah pelaku usaha kecil di Lampung Selatan (Lamsel) mulai memanfaatkan peluang dioperasikannya Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) ruas Bakauheni-Terbanggi Besar.
Nurpendi, pekerja pembuatan ikan asin dan teri rebus di Muara Piluk Bakauheni menyebut, keberadaan akses tol membuat distribusi lebih lancar dan menghemat waktu.
Ia menyebut, hasil olahan ikan asin dan teri rebus kerap dikirim ke wilayah Lampung Tengah, Bandarlampung hingga Lampung Utara dengan jarak sekitar 100 kilometer.
Distribusi hasil produksi ikan asin dan teri rebus di Muara Piluk, diakuinya semula mempergunakan Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum). Namun dengan kondisi kemacetan pada sejumlah titik disertai kerusakan jalan, ia menyebut distribusi lebih lambat.
Menggunakan JTTS dari gerbang tol Bakauheni Utara diakuinya membutuhkan waktu sekitar 45 menit di gerbang tol Kotabaru, Lamsel. Sementara menggunakan Jalinsum bisa mencapai maksimal 3 jam.

Efisiensi waktu tersebut, diakuinya sangat terasa pada bulan Maret dengan sejumlah titik di Jalinsum berlubang dan bergelombang. Melintasi Jalinsum yang rusak disebutnya memiliki risiko kerusakan kendaraan pengangkut, waktu tempuh yang lama.
Kepuasan pelanggan akan ketepatan waktu untuk pengiriman barang membuat penggunaan jalan tol dipilih. Apalagi ia menyebut, selama satu bulan JTTS ruas Bakauheni-Terbanggi Besar masih digratiskan.
“Sebagai pelaku usaha kecil secara ttidak langsung keberadaan jalan tol ikut membantu khususnya untuk distribusi barang produk UKM. Bahkan nantinya produk kami bisa dikirim ke berbagai kota di Sumatera lebih cepat saat jalan tol tersambung hingga Palembang,” terang Nurpendi, salah satu pekerja pembuatan ikan asin dan teri rebus di Bakauheni, saat ditemui Cendana News, Selasa (12/3/2019).
Selama ini ia menyebut, hasil produksi ikan asin dan teri rebus kering yang sudah dikemas berkisar 1 ton hingga 2 ton. Pengiriman disebutnya dilakukan saat kuota pemesanan ke sejumlah pasar tradisional tercapai.
Pengiriman selama ini masih mempergunakan fasilitas Jalinsum menuju ke sejumlah penerima di Bandarlampung dan kota lain di Lampung. Semenjak ada jalan tol yang sudah diresmikan pada 20 Januari 2018 silam dan secara penuh dioperasikan pada 8 Maret 2019 distribusi barang lebih lancar.
Nurpendi juga menyebut, keberadaan tol membantu memperlancar distribusi es balok. Sebagian es balok yang dipergunakan untuk pengawetan ikan nelayan disebutnya berasal dari wilayah Bandarlampung.
Barang yang mudah mencair tersebut diakuinya bisa dikirim lebih cepat sehingga membantu nelayan kecil untuk kebutuhan pengawetan ikan. Saat akses tol lancar nelayan juga tidak khawatir kekurangan pasokan es balok.
Nurpendi juga berharap, hasil produk ikan asin dan teri rebus kering bisa ikut dipasarkan di sejumlah rest area sebagai oleh-oleh. Sebab ia menyebut, keberadaan JTTS ruas Bakter direncanakan akan memberi kesempatan bagi pemasaran produk UMKM lokal.
Ikan asin dan teri rebus kering di antaranya dikemas dalam ukuran tertentu bisa menjadi produk yang dijual terutama jenis teri nasi. Meski demikian ia menyebut, sejumlah lokasi rest area di sepanjang jalan tol saat ini belum dibuat.
Beroperasinya JTTS ruas Bakter juga memudahkan bagi pemilik usaha budidaya rumput laut spinosum di Ketapang.
Nakim, salah satu pembudidaya rumput laut di Ketapang menyebut, distribusi rumput laut selama ini menggunakan Jalinsum.

Hasil panen rumput laut yang sudah dikeringkan dibawa ke pengepul yang ada di kota Panjang. Selain memberi efisiensi waktu ia menyebut, keberadaan jalan tol bisa lebih mempermudah ekspansi pasar saat permintaan akan rumput laut mencapai wilayah Sumatera Selatan.
“Kalau jalan tol semua sudah tersambung permintaan akan rumput laut dari wilayah Sumatera Selatan bisa dipenuhi pembudidaya rumput laut sehingga memperluas pasar karena distribusi lancar,” papar Nakim.
Ia juga menyebut, pemilik usaha kecil budidaya rumput laut masih terkendala rantai distribusi yang panjang. Keberadaan jalan tol disebutnya akan membuka peluang untuk investor masuk terutama untuk pengolahan hasil laut.
Pengolahan hasil laut berupa ubur-ubur, rumput laut, disebutnya akan memangkas pemotongan harga untuk distribusi. Sebab selama ini ia menyebut, harga rumput laut di tingkat petani mencapai Rp9.000 per kilogram.
Jika ada pabrik pengolahan di wilayah tersebut saat akses tol lancar ia berharap, harga jual rumput laut bisa naik di angka Rp15.000 per kilogram.
Budi, pemilik usaha distribusi hasil pertanian kelapa sawit mengaku, keberadaan jalan tol ikut memperlancar distribusi. Hasil pertanian berupa kelapa sawit asal Lamsel disebutnya lebih cepat diangkut melalui jalan tol ke Lampung Tengah.
Efisiensi waktu tersebut diakuinya sangat membantu meski untuk mendapatkan layanan tersebut ia harus mengeluarkan biaya ekstra untuk membayar tarif tol. Selama ini Budi menyebut, distribusi hasil pertanian melalui Jalinsum membutuhkan waktu sekitar empat jam menuju Lampung Tengah.
“Kini hanya dalam waktu satu jam saya bisa mencapai pabrik pengolahan sawit karena tidak ada kemacetan terutama di wilayah Bandarjaya, Natar,” terang Budi.
Budi juga menyebut, peluang keberadaan jalan tol membuat pelaku jasa ekspedisi bisa menambah armada. Sebab saat tol Sumatera ruas Bakauheni- Terbanggi Besar terhubung ke Pematang Panggang Sumatera Selatan, kebutuhan akan kendaraan ekspedisi meningkat.
Ia juga menyebut, bisa membeli komoditas sawit di wilayah Mesuji, Way Kanan, Lampung Utara dengan memakai akses tol yang lebih cepat.