Warga dan Petani Sragi Was-was Luapan Sungai Way Sekampung
Editor: Satmoko Budi Santoso
LAMPUNG – Warga di pemukiman Dusun Pusingan, Desa Sukarandek, dan Dusun Serampang, Desa Kuala Sekampung Kecamatan Sragi, Lampung Selatan (Lamsel) was-was dengan luapan Sungai Way Sekampung.
Taher, warga Dusun Serampang menyebut, ia bersama sekitar sepuluh jiwa dari sebanyak tiga kepala keluarga masih bertahan di rumah yang berjarak sekitar belasan meter dari Sungai Way Sekampung.
Musim penghujan disebutnya membuat air mulai naik ke halaman rumah dikhawatirkan merendam rumah yang ditempati oleh warga setempat.
Taher menyebut, siklus tahunan banjir yang terjadi, membuat lahan pertanian sawah, empang ikan, udang vaname limpas oleh banjir.
Banjir yang kerap terjadi diakuinya merupakan air kiriman dari wilayah Kabupaten Lampung Timur, Pesawaran, Pringsewu. Meski wilayah Lamsel tidak hujan, jika wilayah di sejumlah kabupaten tersebut hujan, potensi Sungai Way Sekampung meluap masih akan terjadi.

Sejak Minggu (24/2) air disebutnya sudah mulai naik setinggi satu meter lebih, tinggi dari kondisi normal. Kondisi air luapan Sungai Way Sekampung bahkan kembali meningkat pada Senin (25/2).
“Warga yang tinggal di sekitar sungai Way Sekampung kerap bersiap-siap saat musim hujan karena potensi luapan sungai bisa masuk ke pemukiman bahkan di dusun bagian atas. Tepatnya di dusun Pusingan air sudah naik ke pemukiman,” terang Taher, salah satu warga di Dusun Serampang, saat ditemui Cendana News, Senin (25/2/2019).
Luapan air sungai Way Sekampung disebut Taher, mulai meluap menggenapi sejumlah lahan pertanian sawah serta empang milik warga setempat. Mengantisipasi ikan yang dibudidayakan terbawa arus sebagian warga bahkan membuat waring atau jaring dan tanggul sementara dari tanah.
Selain sejumlah pemukiman warga, areal budidaya ikan, Taher menyebut, sebagian warga yang memiliki lahan sawah di luar tanggul mulai membuat tanggul penangkis.
Sebagian warga disebut sudah membuat rumah dengan sistem panggung mengantisipasi terjadinya luapan sungai Way Sekampung. Sebagian warga seperti Taher dan keluarga lain bahkan menyiapkan tenda khusus untuk persiapan mengungsi di tanggul penangkis.
Tanggul penangkis yang berjarak sekitar dua puluh meter disebutnya menjadi lokasi mengungsi sementara waktu. Tenda terpal tersebut diakuinya merupakan tenda bantuan yang kerap dipergunakan saat banjir seperti banjir sebelumnya.
Hantoro, petani penanam padi di dekat aliran sungai Way Sekampung menyebut, ia mulai membuat tanggul menghadapi banjir yang mulai menggenangi wilayah tersebut. Sebagian petani disebutnya sudah menyiapkan benih padi varietas Inpari dan Muncul yang tahan akan genangan air.

Meski luapan air sungai Way Sekampung menggenangi lahan pertanian sawah, Hantoro menyebut ia tidak khawatir selama benih belum ditanam.
“Petani kerap sengaja menunggu banjir agar bisa memanfaatkan air sungai sehingga saat surut lahan bisa digarap karena saat musim kemarau lahan tidak bisa ditanami padi,” beber Hantoro.
Petani lain bernama Suranto yang menanam padi di dekat sungai Way Sekampung menyebut, dalam dua hari terakhir lahan sawahnya terkena luapan sungai tersebut. Mengantisipasi saat banjir semakin naik ia memilih membuat tanggul penangkis dengan menggunakan tanah liat.
Proses pembuatan tanggul penangkis diakuinya dilakukan secara manual karena ia was-was lahan akan terendam air luapan sungai Way Sekampung.
Suranto menyebut, bersama sejumlah petani di wilayah tersebut pernah berkeinginan meninggikan tanggul dengan alat berat. Namun akses tanggul penangkis utama Way Sekampung tidak memungkinkan untuk dilintasi kecuali alat berat dibawa melalui sungai.
Meski demikian cara tersebut urung dilakukan karena membutuhkan biaya yang cukup besar. Meski tetap was-was air sungai Way Sekampung meluap ke areal persawahan, ia berharap hujan di wilayah hulu tidak deras sehingga tidak mengakibatkan banjir kiriman.