Warga Gunung Kidul Kerja Keras, Bertahan di Musim Kemarau

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Musim kemarau selalu menjadi momok tersendiri bagi warga di kawasan pelosok kabupaten Gunung Kidul. Bahkan, kemarau panjang yang terjadi tahun ini memaksa sejumlah warga bekerja ekstra keras, di tengah sulitnya kondisi yang ada.
Tidak adanya sumber air bersih, serta minimnya hasil kebun hingga hilangnya hijauan pakan ternak, menjadi kenyataan yang harus mereka hadapi setiap tahun.
“Setiap musim kemarau, kita harus pontang-panting untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Apalagi, tahun ini kemarau begitu panjang. Sampai November saja masih belum hujan sekali pun,” ujar salah seorang warga Dusun Dawung, Girikarto, Panggang, Sumini.
Sumini mengaku harus bekerja membantu suaminya yang hanya seorang pencari udang di tepi pantai, dengan berjualan hasil kebun di pasar. Pekerjaan itu harus ia lakukan, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, seperti makan, membeli air bersih, membeli pakan ternak, hingga membayar uang sekolah ketiga anaknya.
Ternak milik warga Gunung Kidul, tak sedikit yang dijual untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari selama musim kemarau. -Foto: Jatmika H Kusmargana
“Selama musim kemarau ini, saya sudah membeli delapan tangki air. Ini karena musim kemarau ini merupakan kemarau panjang. Biasanya saya hanya beli air sekitar empat-lima tangki saja. Padahal, satu tangki harganya Rp150 ribu, itu pun hanya cukup untuk satu bulan,” katanya.
Selain harus membeli air bersih, Sumini juga masih harus membeli pakan hijauan untuk sejumlah ternak kambingnya, karena selama musim kemarau tak ada rumput atau dedaunan yang tumbuh. Sehingga, pakan ternak harus didatangkan dari daerah lain, seperti Bantul.
“Pakan harus beli, seikat Rp10 ribu. Biasanya habis untuk satu-dua hari. Saya bahkan harus menjual kambing saya, karena tak sanggup kasih makan. Dulu kambing saya tiga, sekarang tinggal satu ekor. Ya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Minimnya hasil kebun, seperti singkong atau kacang tanah, sebagai dampak musim kemarau panjang, juga menjadi kendala bagi warga Gunung Kidul seperti Sumini.
Ia pun hanya bisa mencari pendapatan dari menjual berbagai hasil kebun lain seperti pepaya, daun pisang, atau kelapa, meski hasilnya tak seberapa.
“Kalau tidak obah (bekerja), ya tidak bisa makan. Apa pun pekerjaan, selama bisa dapat hasil, walaupun sedikit, ya harus dijalani,” katanya.
Sumini dan sejumlah warga lainnya di Gunung Kidul, pun hanya bisa berharap, agar hujan segera tiba. Sebab, musim penghujan merupakan sumber kehidupan bagi mereka, baik itu sebagai sumber air bersih maupun penyubur sekaligus penumbuh berbagai macam hasil ladang.
“Memang bantuan droping air bersih, ada. Tapi jumlahnya tidak seberapa. Itu pun rebutan. Jadi, tetap harus membeli secara swadaya,” katanya.
Lihat juga...