Pengrajin Dandang Tradisional Tetap Bertahan di Bekasi
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
BEKASI — Menggunakan peralatan seadanya, Mansyur (66), tetap mempertahankan produksi dandang untuk menanak nasi, yang dikerjakan secara tradisional. Memasuki usia senja, setidaknya ia masih mampu menghasilkan dua unit seharinya.
Pak Ndut, begitu namanya dikenal di Desa, Tridaya Sakti, Tambun Selatan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar). Kepada Cendana News, ketika menyambangi bengkelnya yang sederhana itu, ia mengaku sudah menjalani profesinya sebagai pengrajin Dandang, sejak zaman presiden Soeharto.
“Saya, melakoni ini sejak pertama kali pak Soeharto jadi presiden, hingga sekarang masih bertahan. Kalau dulu sehari saya bisa membuat empat dandang, tapi sekarang usia sudah lampu kuning, sehari paling kuat dua,” kata Mansur saat menerima Cendana News, di bengkel kerjanya seluas dua meter persegi, Selasa (20/11/2018).
Mansur, dulu dikenal sebagai tukang service dandang di wilayah Kecamatan Tambun Selatan. Tetapi sudah empat tahun ini, dia tidak lagi keliling dari kampung ke kampung dengan membawa gerobak. Hal itu karena sakit yang didera, seperti asam urat yang membuatnya tidak kuat berjalan kaki.
“Saya sudah empat tahun ini, tidak bisa berjalan dan berhenti keliling, karena sakit asam urat tak bisa seperti dulu lagi,” tukasnya.
Dia mengaku kini hanya menerima pesanan untuk membuat dandang yang datang ke rumah, seperti tukang bubur ayam, atau buat warung nasi. Pak Ndut mengaku, pesanan terus berdatangan setiap hari.
Seperti apa Dandang yang diproduksi Pak Mansur, menurutnya, hanya menggunakan alat sederhana seperti median utama, sebagai bahan baku adalah arnium, dengan ketebalan dua mili. Bahan tersebut lebih tahan dan kuat dibanding bahan lainnya.
Untuk harga, ia menjual satu dandang ukuran 24 dengan harga Rp275 ribu, yang biasanya digunakan untuk jualan bubur ayam. Sedangkan dandang nasi dengan kapasitas 10 liter beras dijual dengan harga Rp650 ribu.
Disamping, membuat kerajinan dandang di rumahnya yang sederhana, Mansur juga kerap menerima service yang diantar warga sekitar. Untuk bagian bawah, ia memasang jasa Rp50 ribu.
Mansur mengaku, tidak ada kesulitan berarti. Namun saat membentuk tutup dandang, menemui sedikit kendala karena dikerjakan secara tradisional yakni diketuk menggunakan palu.
Dalam mendukung produksi dandang, Mansur hanya menggunakan alat tradisional seperti, palu, gunting besi, jangka pendek, besi rel kereta. Untuk membuat tutup biasanya orang menggunakan mesin roll tapi harganya mahal, Rp6 jutaan.
“Harga mesin roll, Rp6 juta dari mana uangnya. kalau ada yang kasih mau aja sih,” pungkasnya mengaku tidak ada anaknya yang meneruskan kerajinan dandang ini.