Belum Semua Korban Gigitan Anjing di Sikka Dapat Suntikan VAR

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Tidak semua orang yang digigit anjing menyadari untuk segera  dilakukan vaksin antirabies (VAR), agar bisa terhindar dari penyebaran penyakit yang bisa mematikan itu.
“Dari bulan Januari hingga Agustus 2018, sudah terdapat 890 kasus gigitan dan hanya 746 korban yang mendapatkan suntikan VAR. Ini sangat berisiko tertular rabies,” sebut Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular, Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, A.S. Nong Erwin, SKM., Kamis (1/11/2018).
Erwin mengimbau kepada masyarakat, agar bila tergigit hewan penular rabies (HPR), supaya segera melakukan tindakan mencuci luka gigitan dengan sabun deterjen pada air yang mengalir, dan selanjutnya membawa korban gigitan ke Rabies Centre untuk mendapatkan suntikan VAR tahap satu.
Dokter Harlin Hutauruk, Kepala Bidang Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary
“Setiap korban gigitan dilakukan screening dan observasi. Bila potensi anjing penggigit negatif rabies, maka pemberian suntik tidak diberikan atau dilanjutkan. Hingga saat ini, sudah dua kasus kematian di kecamatan Hewokloang dan Talibura,” sebutnya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, dr. Harlin Hutauruk, mengatakan, untuk korban gigitan HPR, dibutuhkan biaya Rp1 juta sebagai pembelian empat vial VAR pada manusia.
“Satu vial dibeli dengan harga Rp250 ribu,  sementara untuk korban gigitan HPR diberikan maksimal empat kali suntikan. Ini harus dilakukan, agar korban gigitan bisa terhindar dari penularan rabies,” ungkapnya.
Harlin menjelaskan, pelayanan suntikan VAR kepada manusia sebagai korban gigitan HPR diberikan secara gratis, karena VAR telah diadakan dinas Kesehatan kabupaten Sikka sebanyak 600 vial, dan bantuan dari dinas kesehatan provinsi NTT ada tiga ribu vial.
“Saat ini, dinas kesehatan kabupaten Sikka telah membuka lima rabies centre, yakni di Puskesmas Beru, kecamatan Alok Timur, untuk melayani semua wilayah di kota Maumere yang belum ada rabies center,” terangnya.
Juga ada Puskesmas Uwa di kecamatan Palue, untuk warga di pulau Palue, Puskesmas Watu Baing di kecamatan Talibura, melayani warga kecamatan Waiblama, Waigete dan Talibura di ujung timur kabupaten Sikka.
“Selain itu, ada Puskesmas Lekebai, guna melayani warga di kecamatan  Paga, Mego serta Tanawawo dan Puskesmas Bola untuk melayani warga kecamatan Mapitara dan Doreng. Rabies Center ini dibuka 24 jam,” paparnya.
Sementara, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Henderikus Blasius Sali, menyebutkan, sesuai data yang ada hingga 30 Oktober 2018, terdapat 40.145 ekor populasi HPR, dan yang sudah divaksin baru 31.668 ekor HPR.
“Masih tersisa 8.477 HPR belum divaksin, karena ketiadaan vaksin. Ada tiga kecamatan dengan kasus rabies tertinggi, yakni kecamatan Alok Timur, Kangae dan Kewapante,” sebutnya.
Menurutnya, kendala yang dihadapi, salah satunya adalah alokasi anggaran yang terbatas, dan tenaga vaksinator yang masih kurang. Juga masih ada warga yang tidak mau anjingnya divaksin.
“Guna mencegah penyebaran, kepada masyarakat diimbau agar merelakan HPR seperti anjing, kucing dan kera untuk divaksin petugas. Selanjutnya HPR diikat atau dikandangkan, guna membatasi interaksi HPR dengan HPR yang telah positif rabies,” pungkasnya.
Lihat juga...