Material Sains Dukung Pembangunan Berkelanjutan

Editor: Koko Triarko

Peneliti BATAN sekaligus President MRS-Indonesia, Prof. Evvy Kartini (kerudung kuning).-Foto: Sultan Anshori.
BADUNG – Peneliti BATAN sekaligus Presiden MRS-Indonesia, Prof. Evvy Kartini, menjelaskan, dunia, khususnya Indonesia dapat memanfaatkan komponen material sains untuk mendukung terwujudnya program pembangunan berkelanjutan.
Ia menyebut, banyak material sains yang kini sedang menjadi tren, semisal energi elektrik vehicle berbasis energi baru terbarukan, dan materi lithium battery.
“Karena di negara lain pun baru beberapa negara yang mempunyai, seperti Cina yang baru pada tahun ini. Kenapa tidak Indonesia bisa memulai riset tersebut, dan bisa menjadi pionir di antara negara-negara Asia lainnya?” kata Kartini, saat menghadiri acara 19th International Conference in Asia-International Union of Materials Research Societies (ICA-IUMRS) Rabu (31/10/2018).
Bahkan, sambungnya, kita berdiskusi teknologi masa depan adalah industri 4.0 di mana basisnya itu semua menggunakan material seperti vendor, device, robot.
“Kita pernah mendiskusikan, apakah mungkin di Indonesia ada solarod, di mana infinity energy, energinya dari matahari kemudian kita simpan di solarod, kemudian electric vehicle itu bisa sambil jalan sambil di-charging, itu mimpi kita,” ungkapnya.
Kepala Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Prof. Djarot S. Wisnubroto, menegaskan, secara internal pihaknya sudah mengembangkan beberapa teknologi baru berbasis aplikasi nuklir. Salah satunya, smart magnet yang bisa diaplikasikan ke dalam Kapal Republik Indonesia (KRI) milik TNI Angkatan Laut.
“Saya kira banyak hal bisa ditekankan secara implementatif dari kaitan nuklir dengan material, misalnya untuk baterai, atau misalnya untuk magnet. Kita sekarang baru mengembangkan smart magnet. Jadi itu, membantu TNI AL membuat semacam kapal yang tidak bisa terdeteksi radar. Jadi, yang praktis-praktis seperti itu akan kita laksanakan terus-menerus. Termasuk bagaimana kelak kalau misalnya kita punya PLTN, tetapi itu masih jauh. Dan, Bali tidak masuk dalam target kita untuk PLTN, karena Bali masuk daerah ring of fire, sering terjadi gempa,” jelasnya.
Sementara, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), Sri Adiningsih, menilai 19th International Conference in Asia-International Union of Materials Research Societies (ICA-IUMRS) memiliki peran strategis.
Menurutnya, masyarakat material sains akan sangat membantu merealisasikan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan.
“Karena kita juga memiliki komitmen di dalam kesepakatan iklim Paris 2015, mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030, dan tentunya perlu didukung oleh semua pihak,” katanya.
Pemerintah Indonesia disebut memiliki komitmen besar dalam mewujudkan pembangunan berkesinambungan yang ramah lingkungan. Salah satu wujud komitmen itu melalui penciptaan kota hijau.
“Indonesia sudah bekerja keras, di antaranya ada proper yang sudah 15-an tahun perusahaan-perusahaan diaudit pemenuhannya terhadap lingkungan, dan kota-kota juga mulai banyak yang hijau, dan juga energi baru terbarukan serta mengurangi kebakaran di pulau Sumatra dan Kalimantan, juga hasilnya sudah kelihatan,” ujarnya.
Ia berharap, melalui konferensi internasional kali ini, menghasilkan capaian signifikan, di antaranya soal realisasi green technology. Masyarakat material sains pun diminta merumuskan roadmap dari implementasi green technology dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
“Tentu saja, masyarakat material sains ini penting sekali, karena materi-materi yang kita lihat itu banyak yang tidak bersahabat bagi lingkungan, bisa merusak alam seperti plastik. Sekarang juga mulai muncul plastik yang biodegradable yang bersahabat dengan lingkungan, dan saya berharap banyak material-material lain yang mereka ciptakan, yang tentunya bersahabat terhadap lingkungan. Karena kalau tidak, ini bumi akan berat menanggung materi-materi yang pada akhirnya banyak yang dibuang, seperti untuk elektronik atau pun gawai kita dan sebagainya”, katanya.
Ia pun berharap, Bu Evvy dan kawan-kawan berhasil mencari rencana kerja dan juga aksi konkrit, bagaimana green technology itu bisa dihasilkan dari seminar ini, yang bisa menjadi komitmen masyarakat material sains, agar supaya ikut mendukung pembangunan berkelanjutan dan yang tentunya mengurangi emisi gas rumah kaca, dan mengurangi yang merusak lingkungan.
Indonesia diberikan kepercayaan menjadi tuan rumah 19th International Conference in Asia-International Union of Materials Research Societies (ICA-IUMRS). Konferensi internasional yang dihadiri 200 partisipan, dan 40 pembicara dari 20 negara ini berlangsung sehari.
Pertemuan kali ini dihadiri para ahli dari berbagai latar belakang. Di antaranya yang memiliki keahlian di bidang energi, kesehatan, lingkungan, dan aplikasi nuklir. Banyak hal dibahas, utamanya terkait perkembangan material sains di dunia.
Lihat juga...