Kemen PDTT Apresiasi Inovasi Wisata Desa Kutuh

Editor: Koko Triarko

Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo - Dok CDN
BADUNG – Sebagian besar masyarakat Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, hidup dalam keterbatasan, karena mayoritasnya hanya bekerja sebagai nelayan siwit, (rumput laut). Namun seiring berjalannya waktu, mereka mampu memanfaatkan potensi desa dengan membuat inovasi di bidang pariwisata.
Bahkan, berkat inovasi ini, Desa Kutuh mendapatkan apresiasi dari Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT), Eko Putro Sandjojo, saat pertemuan dunia “High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4-CLKS) 2018 di Bali, Senin (15/10/2018).
Menurut Menteri Eko, Desa Kutuh ini sudah menjadi desa percontohan bagi desa lain di Indonesia. Saat ini, Bumdes pariwisatanya sudah mempunyai omzet lebih dari Rp34 miliar, dengan netprobvt lebih dari Rp13 miliar. Dan, inovasi tersebut sudah mulai dicontoh oleh desa-desa lain di Indonesia.
“Saat ini di sana menjadi desa yang mandiri. Awalnya, sebagian besar masyarakat menjadi petani rumput laut yang cenderung banyak efek negatifnya, karena sering terkena hama dan harga jual yang tak menentu harganya. Namun, saat ini Desa Kutu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, berhasil mengubah dan mengembangkan potensi desa menjadi sebuah destinasi kelas dunia. Caranya, mereka membelah bukit kapur sebagai akses jalan masuk ke pantai,” ucap Eko Putro Sandjojo.
Menurut Menteri Eko, Desa Kutuh ini merupakan desa yang berhasil dalam menjalankan program intensif, yang diberikan oleh Kementerian PDTT. Program bantuan ini diberikan bagi desa yang memiliki inovasi dalam mewujudkan pembangunan desa, di mana setiap desa mendapatkan kucuran dana senilai Rp1,5 miliar.
Tetapi, topik diskusi pada knowledge hari ini, menurut Menteri Eko, lebih mengarah bagaimana knowledge itu berjalan di Indonesia. Karena setiap program inovasi  desa dicatat rapi, baik tulisan maupun berupa catatan video. Sehingga gampang dilihat oleh masyarakat desa. Saat ini, sudah ada setidaknya 30 ribu inovasi yang bisa di-copy dan diimplementasikan oleh desa lainnya.
“Nah, program intensif inilah yang tadi kami sampaikan di dalam forum “High Level Meeting on Country-Led Knowledge Sharing (HLM4-CLKS) 2018, yang dihadiri oleh delegasi IMF/WB dan wartawan dunia. Karena model dana desa dan model implementasi inovasi negara kita mencerminkan pembangunan yang skala besar. Misalnya, membangun 150.000 Km jalan desa. Itu yang menjadi miss dari para delegasi IMF-WB,” imbuh Menteri Eko.
Tidak ada syarat tertentu untuk bisa mendapatkan intensif ini. Artinya program intensif ini blasting atau ditawarkan ke semua desa di seluruh Indonesia. Hanya saja, jika desa yang dinilai memiliki potensi, maka akan diprioritaskan.
Untuk pengawasan, pihaknya tidak perlu was-was, karena program ini akan disinergikan oleh beberapa pihak. Baik dengan pihak kepolisian, kejaksaan. Termasuk kontrol publik. “Jadi, harus move on untuk persoalan anggaran. Kita percayakan kepada masyarakat desa. Kita juga berterima kasih kepada media, karena sudah berperan dalam mensosialisasikan program desa,” katanya.
Sementara itu, dikonfirmasi secara terpisah, Kepala Desa Kutuh, I Wayan Pura mengatakan, pada 1998 hingga 2005, Desa Kutuh menjadi pusat pengembangan rumput laut terbaik di Indonesia. Bahkan, di periode itu hasil pengembangan rumput laut di desa ini pernah menjadi juara satu nasional sebanyak tiga kali.
Namun pada 2006, program pengembangan rumput laut mengalami penurunan drastis, yang diakibatkan oleh hama. Namun, karena pantai di desa Kutuh memiliki potensi pantai yang bagus, kemudian pemerintah desa berinovasi untuk menjadikannya sebagai destinasi wisata baru.
“Dulu, masih dikelola secara sukarela oleh warga kita. Dan, pada 2011 kita sudah mulai launching destinasi pantai Pandawa,” ucap Wayan Purja.
Purja menambahkan, dulu masyarakat desa Kuta hampir 40 persen berprofesi sebagai petani rumput laut. Namun, saat ini hampir semuanya beralih profesi sebagai penyedia jasa di berbagai bidang. Baik jasa pariwisata, barang dan lain sebagainya,” pungkasnya.
Lihat juga...