Peneliti: Industri Keris di Sumenep Berkembang Pesat

Editor: Koko Triarko

Rektor UB, Prof. Nuhfil Hanani, saat membuka acara Seminar Nasional Keris Nusantara. –Foto: Agus Nurchaliq
MALANG – Diakuinya keris sebagai warisan budaya tak benda dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNSECO), cukup memberikan dampak positif pada  peningkatan jumlah produksi keris di Indonesia, khususnya di daerah Kabupaten Sumenep, Madura.
Hal itu disampaikan Peneliti Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan (Puslitjakdikbud), Balitbang,  Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Unggul Sudrajat.
“Potensi pengembangan industri keris di Sumenep berkembang pesat pascapengakuan keris oleh UNESCO. Bahkan, saat ini Sumenep menjadi sentra industri keris terbesar di Indonesia,” ujarnya, saat menjadi pembicara Seminar Nasional Keris Nusantara yang diadakan Pusat Studi Peradaban Universitas Brawijaya (UB), Senin (15/10/2018).
Peneliti Puslitjakdikbud Kemendikbud, Unggul Sudrajat, saat memberika materi di Seminar Nasional Keris Nusantara. –Foto: Agus Nurchaliq
Jumlah perajin keris di Sumenep berjumlah kurang lebih 652 orang, tersebar di tiga kecamatan, yakni kecamatan Bluto, Saronggi dan kecamatan Lenteng. Sementara untuk wilayah kedua sentra industri keris berada di Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan 237 empu dan perajin dengan konsentrasi utama di Imogiri dan Bantul.
“Dari dua tempat ini saja, kita bisa melihat ada tingkat pertumbuhan dalam proses produksi. Ini adalah salah satu dampak, bagaimana pengakuan Unesco ini sangat penting,” ujarnya.
Menurutnya, dalam hal pemasaran, para pembuat keris tersebut melakukannya secara personal dan juga melalui media online, dengan nilai transaksi pada umumnya Rp1-2 juta.
Selain itu, menurut Unggul, dampak lain yang bisa dirasakan usai penetapan keris sabagai warisan budaya tak benda oleh UNESCO pada 25 November 2005, yakni mampu meningkatkan kesadaran nilai budaya dan kebanggaan nasional, serta mendorong kreativitas para perajin keris di Indonesia.
Lebih lanjut, Unggul mendorong pemerintah untuk menjadikan tanggal 25 November sebagai hari keris nasional, untuk memperingati pengukuhan keris oleh UNESCO.
“Kalau ada hari Batik, kenapa tidak ada hari keris. Saya rasa, hal ini diperlukan sebagai penanda, bahwa keris telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda,” tegasnya.
Sementara itu, Wakil Ketua Pusat Studi Peradaban (PSP), Dr. Jazim Hamidi, SH., mengaku bahwa pihaknya telah lama melakukan berbagai kajian, untuk menggali nilai-nilai luhur bangsa yang nyaris ditinggalkan termasuk keris.
“PSP telah melakukan penelitian secara istikomah, mulai dari kajian kitab klasik nusantara, kemudian dilanjutkan batu mulia nusantara, yang alhamdulillah bisa menghasilkan museum batu mulia nusantara, yang saat ini berada di gedung rektorat lantai satu,” terangnya.
Ke depan, ia mengatakan, pascaseminar keris ini, mudah-mudahan UB bisa memiliki museum keris nusantara.
Hal yang sama juga disampaikan Rektor UB, Prof. Nuhfil Hanani, bahwa dengan dihadirkannya museum keris nasional, akan menarik minat masyarakat untuk lebih paham tentang keris.
“Tahun depan saya juga tantang PSP, agar bisa menyelenggarakan seminar internasional keris, agar masyarakat luar juga bisa mengenal sejarah keris di Indonesia,” pungkasnya.
Lihat juga...