Belajar Budaya Bumi Sriwijaya di TMII

Editor: Mahadeva WS

JAKARTA – Anjungan Sumatera Selatan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), menampilkan tiga rumah adat dan satu balai adat. Memasuki anjungan, mata pengunjung akan langsung tertuju pada gerbang berukir, yang terletak di bagian depan anjungan, bernama Gerbang Emas. Gerbang tersebut, terdiri dari dua buah Soko Damas, yang bersambung anak dengan pagar.

Ukiran pada tiang, bermotif pucuk rebung dan bunga tanjung yang menjadi perlambang kehidupan, begitu indah terlihat. Bagian atas tiang, berukir motif kuncup dan kelopak bunga Melati, yang mengandung arti sopan santun. Sedangkan bagian pagar diperindah dengan ukiran motif bunga wajar, bermakna untuk mengusir segala maksud jahat.

Pemandu Anjungan Sumatera Selatan TMII, Ahmad Yusuf. Foto : Sri Sugiarti

“Makna yang tersimpan di semua ornamen ukiran khas Sumatera Selatan adalah ucapan selamat datang kepada pengunjung, dengan hati bersih serta budi bahasa sopan dan santun,” kata pemandu Anjungan Sumatera Selatan TMII, Ahmad Yusuf, kepada Cendana News, Rabu (31/10/2018).

Adapun Rumah Limas, yang merupakan bangunan induk Anjungan Sumatera Selatan di TMII, dahulunya merupakan tempat tinggal para bangsawan Bumi Sriwijaya. Limas memiliki arti lima dan emas, berwujud lima jenjang teratur. Keberadaanya menjadi simbol lima jenjang, dalam kegiatan menata masyarakat. Yakni, penataan menurut jenjang usia, jenis kelamin, bakat, pangkat dan martabat. Kelima jenjang penataan tersebut, tertuang dalam lima ruangan yang terdapat di Rumah Limas, yaitu, Pagar Tenggalung atau Perangin-angin, Korban, Keliling Ketiga atau tempat para pejabat, Kekejing Keempat atau tempat  Dapunta Hyang dan Datuk Maharaja. Dan Kekejing Kelima atau gegajah, yang aslinya sebagai ruang duduk pemansuri dan putri sulung, bersama wanita-wanita pembesarnya.

“Rumah Limas ini, rumah bangsawan Sriwijaya. Di Palembang, rumah ini masih ada, dan di TMII, kita perkenalkan kepada pengunjung. Ini rumah sejarah bangsawan Sriwijaya, yang harus dijaga dan dilestarikan,” ujar pria kelahiran 50 tahun lalu tersebut.

Di anjungan tersebut, Rumah Limas difungsikan untuk memamerkan ragam adat budaya dan hasil kerajinan khas Sumatera Selatan, seperti Kain Songket. Beragam motif songket dipamerkan di ruang tengah Rumah Limas. Diantaranya, songket motif lepus berakam, bintang berantem, bintang kayu apuy, bungo sakura, nampe perak, kenango makan ulet, bungo cino, biji pare, nago betarung, cantik manis, bungo pacik, tigo negeri, tabur limar, bungo intan, dan motif ulir.

“Songket adalah salah satu seni dan budaya Sumatera Selatan yang sangat terkenal. Pada zaman kerajaan Sriwijaya, songket adalah pakaian kaum bangsawan. Kain songket ini juga diberikan sebagai hadiah untuk tamu kenegaraan,” jelas Ahmad.

Selain songket, dipamerkan juga ragam kerajinan, seperti ukiran kayu, kerajinan gading, kuningan, timah, keramik. Di ruangan tersebutm terdapat bakul tangkai, yakni kerajinan anyaman khas masyarakat Muba atau Musi Banyuasin. Bakul tangkai berfungsi sebagai wadah penyimpan obat-obatan tradisional, sekaligus penangkal aura negatif dari luar. Diorama busana adat dan busana pengantin, juga ditampilkan di ruangan ini. Busana adat Ogan Komiring Ilir (OKI), Musi Banyuasin, dan Pasangkon. Busana pengantin Pesangon Banyuasin, Betangas Banyuasin dan Asean Gede, terlihat sangat elegan menghiasi ruangan tersebut.

Anjungan Sumatera Selatan menyimpan kekayaan bumi Sriwijaya, yang terpatri dalam sejarah bangsa Indonesia. Betapa besar dan luas daya jelajah para punggawa Kerajaan Sriwijaya dalam mengarungi lautan nusantara, hingga ke daratan asia. Baik untuk kepentingan penaklukan maupun pembukaan hubungan kerjasama dagang.

Diorama perahu negeri dalam etalase di pamerkan di Rumah Limas di Anjungan Sumatera Selatan TMII, Jakarta. Foto : Sri Sugiarti

Hal itu diwakili dengan miniatur kapal layar Sriwijaya, yang disebut perahu negeri, yang tersaji  didalam Rumah Limas. Kapal yang bergerak maju dengan dua layar persegi tersebutm juga digerakkan oleh 20 orang pedayung handal, di sisi kanan dan kiri. Kapal itu membawa ratusan prajurit perang, dibawah komando seorang kapten diatas kapal. Adapun jalur perjalanan rutin kapal berbahan kayu berukir patung dan daun emas di ujung haluan ini adalah, mengarungi laut Cina Selatan, yang terkenal memiliki ombak besar dan ganas.

Rumah kedua adalah Rumah Rakit, sebuah rumah yang terdapat di sepanjang perairan sungai Musi. Desain rumahnya ditata mengikuti pasang surut air sungai Musi. Selain berfungsi sebagai rumah tinggal, Rumah Rakit, juga menjadi tempat berdagang. Oleh pengelola anjungan Sumatera Selatan, Rumah Rakit di TMII, difungsikan sebagai restoran makanan khas palembang. Sebelumnya, Rumah Rakit ini sebagai sarana pameran benda-benda budaya dan kerajinan tangan khas Sumatera Selatan.

Rumah Ulu di Anjungan Sumatera Selatan TMII, Jakarta, Rabu (31/10/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Adapun rumah ketiga, yaitu Rumah Ulu. Sebuah rumah rakyat biasa di Sumatera Selatan, yang bercorak agraris. Rumah Ulu merupakan rumah tradisional masyarakat, yang bermukim di kawasan hulu sungai Musi. “Nama rumah Ulu berasal dari kata uluan yang bermakna pedesaan. Uluan juga sebutan bagi masyarakat yang tinggal di bagian hulu sungai Musi. Rumah ini masih masih banyak di sana,” ujarnya.

Rumah Ulu terbuat dari kayu, dengan bagian bawah ditopang oleh batang pohon unglen. Batang unglen dipakai karena bisa bertahan hingga ratusan tahun. Rumah ini mewakili sebagian masyarakat di daerah, yang hidup bukan dengan mengandalkan hasil laut dan sungai, melainkan bercocok tanam.

Rumah Ulu berbentuk rumah panggung sederhana, memiliki bagian bawah atau kolong rumah, yang biasa digunakan menaruh peralatan sekaligus perlengkapan bertani dan berkebun. Seperti, isaran padi, lesung, alu dan nyiru atau tampah. Di zaman dahulu, bagian kolong rumah digunakan untuk meletakkan susunan kayu api. Hal itu merupakan kebanggan tersendiri bagi pemilik rumah. Di area anjungan, terdapat Balai Desa, yang merupakan sebuah tempat untuk memperagakan kesenian atau upacara adat.

Seni tari yang disajikan seperti, tari Gending Sriwijaya, tari Tepak, tari Pagar Pengantin, tari Kipas. “Khazanah budaya Sumatera Selatan harus terus di lestarikan. Namun sayangnya, tahun-tahun ini anjungan sepi acara gelaran seni,” ujarnya.

Bale desa tersebut di tempat asalnya, memiliki fungsi sebagai tempat musyawarah masyarakat Sumatera Selatan. Rumah tradisional bukan semata warisan budaya dalam bentuk material yang tersusun berupa bangunan saja. Tapi rumah tradisional mempunyai peran penting dalam membentuk ruang sosial dan simbolik, sekaligus sebagai representasi budaya bagi penghuninya.

Indonesia sebagai negara kesatuan yang kaya akan kebudayaan, mempunyai begitu banyak warisan rumah tradisional, salah satunya adalah rumah khas Sumatera Selatan. “Ragam rumah adat Sumatera Selatan ditampilkan di TMII untuk pelestarian sejarah bumi Sriwijaya. TMII, jendela dunia pemersatu budaya daerah dan  menjaga kebhinekaan,” pungkasnya.

Lihat juga...