LAMPUNG – Akibat musim kemarau yang menyebabkan saluran irigasi permanen dari Sungai Way Jejur di Dusun Buring, Sukabaru, Penengahan Lampung Selatan, mengering, para petani yang semula menanam padi beralih menanam sayuran.
Siti, salah satu petani sayuran dusun setempat, menyebut, saluran irigasi permanen dari sungai Way Jejur, saat kemarau ini aliran airnya kering, sehingga petani harus memompa air sungai Way Pisang. Aliran sungai Way Jejur yang debitnya menurun selama kemarau itu, membuat sebagian lahan padi sawah dialihfungsikan menjadi lahan tanaman sayuran. Cara tersebut dilakukan untuk tetap mempertahankan produktivitas lahan selama kemarau.

Namun, katanya, lahan tersebut masih bisa ditanami padi dengan sistem pompanisasi menggunakan mesin pompa atau alkon. Meski butuh biaya ekstra untuk bahan bakar premium dan selang, hasil padi yang ditanam memasuki proses menguning dan siap panen.
Sementara itu, tanaman sayuran, seperti bayam, sawi, kacang panjang, cabai merah, mentimun dilakukan dengan sistem kocor. Yakni dengan menampung air dalam bak bak khusus yang dicampur dengan pupuk, agar proses penyiraman sekaligus memberikan nutrisi pada tanaman.
“Jarak lahan pertanian dengan Sungai Way Pisang, mencapai ratusan meter, tetapi petani menggunakan mesin sedot untuk mengaliri lahan pertanian, sehingga lahan masih produktif, meski kemarau,” terang Siti, yang tengah merawat tanaman sayuran di Desa Sukabaru, Rabu (19/9/2018).
Siti menjelaskan, proses menyedot air dari Sungai Way Pisang dilakukan secara mandiri oleh petani secara bergiliran. Sebab, mesin sedot sebagian merupakan milik salah satu petani dan digunakan dengan menyiapkan bahan bakar sebanyak empat liter, untuk kebutuhan selama delapan jam.
Blong atau drum plastik disiapkan di sejumlah titik untuk penyiraman saat pagi dan sore bagi tanaman sayuran miliknya. Aliran air yang masih mengalir dari proses menyedot air sungai, selanjutnya masih bisa digunakan untuk pengairan lahan sawah serta lahan milik petani lain.
Keberadaan Sungai Way Pisang yang mengalir dari Gunung Rajabasa, kata Siti, menjadi penolong saat kemarau. Meski ia tidak bisa menggarap lahan seluas satu hektare untuk padi sawah, namun ia masih bisa menanam padi varietas Ciherang setengah hektare, dan sebagian lahan lainnya untuk menanam sayuran.
Sebagian petani yang tergabung dalam kelompok P3A Sumber Rejeki, diakuinya sudah mendapat pelatihan cara memaksimalkan air untuk pertanian dalam kondisi minim air, salah satunya untuk menanam sayuran.
Ia mengatakan, berbagai jenis sayuran tersebut justru produktif saat kemarau, karena tidak mudah busuk. Memanfaatkan air sungai Way Pisang, dengan sistem sedot, ia masih bisa menghasilkan sayuran bernilai ekonomi.
Ia mengatakan, jenis sayuran sawi dijual kepada pedagang sayur dengan harga Rp2.000 per ikat, kacang panjang Rp2.000 per ikat, bayam Rp2.000 per ikat dan timun seharga Rp5.000 per kilogram. Saat kemarau, ia bahkan memastikan hasil sayuran yang ditanam lebih maksimal dibanding saat hujan.
Pemanfaatan keterbatasan air untuk lahan pertanian, juga dilakukan oleh Suhaini, salah satu petani penanam cabai merah. Lahan miliknya yang semula merupakan lahan padi sawah saat musim hujan, pada masa tanam ketiga (MT3) atau masa tanam kemarau (gadu) ini ditanami cabai merah, dengan menyedot air dari Sungai Way Pisang.
