Triyaningsih, Saat Kecil Tekuni Tari, Dewasa Jadi Ratu Lari
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Triyaningsih, di balik nama besarnya sebagai pelari yang diperhitungkan di Asia Tenggara, ternyata menyisakan banyak cerita menarik. Bahkan, tidak ada yang menyangka profesinya saat ini bertolak belakang dengan minatnya saat masih kecil.
Ya, itulah Triyaningsih, ratu lari jarak jauh Asia Tenggara. Saat masih duduk di bangku SD dan SMP, ia lebih giat menekuni dunia seni tari. Triya, begitu sapaan akrabnya, pernah ikut les menari dan belajar tarian tradisional.
Tapi, semua itu berubah saat ia memutuskan ikut jejak sang kakak, Ruwiyati. Ia ikut masuk klub lari khusus jarak jauh di Salatiga, Jawa Tengah. Tak hanya karena masih berusia muda, kenyataan bahwa Triya kalah dari pelari-pelari lain membuat ia dipandang sebelah mata.
Tapi, semua itu tak menyurutkan tekadnya. Kerja keras yang dilakukan perlahan membuahkan hasil. Dalam sebuah uji tanding, ia bahkan berhasil mengalahkan kakaknya sendiri. Dari sini pula keyakinannya mulai tumbuh. Ia yakin bisa menekuni karir di dunia lari.
Satu tahun setelah masuk klub, atau pada 2003, Triya dipanggil masuk Pelatnas dan terpilih membela Merah Putih di ajang SEA Games. Minimnya pengalaman, membuat dara kelahiran 15 Mei 1987 itu belum bisa berbuat banyak kala itu.
Triya pun harus bersabar menunggu hingga SEA Games 2007 untuk mempersembahkan emas pertamanya bagi Indonesia. Yang luar biasa, saat itu, tidak hanya satu yang berhasil dipersembahkan melainkan dua emas. Yakni dari nomor 5.000 meter dan 10.000 meter.
Seiring bertambahnya jam terbang, kemampuannya pun kian terasah. Karir Triya kian gemilang. Hingga saat ini ia telah mempersembahkan 11 medali emas SEA Games. Dari jumlah itu, enam di antaranya ia persembahkan dari nomor 10.000 meter. Sukses itu pula yang membuatnya dijuluki ratu lari jarak jauh Asia Tenggara.
“Aku bersyukur karena diberi kekuatan dalam kurun waktu yang panjang. InsyaAllah, aku berharap, masih akan terus diberi kekuatan. Senang bisa memberikan yang terbaik untuk bangsa,” ungkap Triya seperti dilansir laman Kemenpora.
Triya mengaku senang mendapat julukan khusus dari masyarakat. Ia menilai, julukan itu diberikan sebagai bentuk penghargaan. Ia juga yakin, masyarakat mendoakannya agar bisa berprestasi lebih baik lagi.
Kini, Triya pun bersiap kembali unjuk kemampuan di Asian Games 2018 Jakarta-alembang. Multievent olahraga terbesar di Benua Asia itu menjadi ajang pembuktian bagi Triya yang gagal meraih medali pada Asian Games 2010 dan absen pada Asian Games 2014.
Ia berharap, mendapat dukungan penuh dari masyarakat saat berlaga nanti.
“Aku percaya setiap satu suporter, setiap satu teriakan, setiap satu semangat ada sisi magis. Satu semangat itu satu doa. Itu bisa membuat kita mendapatkan tenaga lain yang entah darimana,” tegasnya.