Produsen Tapai Singkong Banjir Order Selama Ramadhan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Bulan suci ramadan membawa berkah bagi sejumlah pemilik usaha kuliner. Peningkatan penjualan juga berdampak positif terhadap perajin tapai singkong.

Jumirin (46) warga gang tape desa Kalirejo kecamatan Palas menyebut permintaan tapai naik tiga kali lipat dibandingkan hari biasa. Karena makanan tradisional hasil fermentasi kerap digunakan warga sebagai bahan dalam berbagai olahan, di antaranya es campur, tapai goreng atau rondo royal, roti isi, bolu, roti gaben serta berbagai varian kue sekaligus konsumsi langsung.

Permintaan juga berimbas pada kenaikan harga bahan baku. Singkong mentega, roti yang semula dibeli dari petani Rp1.000 per kilogram naik menjadi Rp2.000.

“Sudah menjadi hukum pasar tentunya saat kebutuhan naik maka harga bahan baku ikut naik tak terkecuali singkong dengan kebutuhan tiga kuintal dalam sekali proses pembuatan,” terang Jumirin salah satu produsen sekaligus penjual tapai singkong saat ditemui Cendana News, Selasa (5/6/2018).

Singkong yang sudah dibeli selanjutnya dikupas, dipotong dengan ukuran seragam dan direbus. Setelah proses perebusan singkong difermentasi dengan menggunakan ragi khusus. Singkong yang difermentasi bisa menjadi tapai singkong disebutnya setelah proses pemeraman dalam daun pisang selama tiga hingga empat hari.

Tingginya permintaan membuat Jumirin menerapkan sistem pembuatan berselang rata rata 75 kilogram sekali produksi. Hal tersebut disebut Jumirin menyesuaikan permintaan dimana sebelumnya dalam sehari ia bisa menjual 75 kilogram kini bisa menjual sebanyak 225 kilogram tapai singkong. Sang isteri bernama Lasinah (40) yang sebelumnya hanya membantu memproduksi bahkan ikut menjajakan tapai singkong.

“Kami berjualan membagi arah lokasi jualan karena di sejumlah tempat hampir selalu ada pedagang musiman takjil dengan tapai singkong jadi salah satu bahan bakunya,”tutur Jumirin.

Siasat untuk mempertahankan pasokan diungkap Jumirin dilakukan dengan pembuatan berjadwal. Saat ia berkeliling menjajakan, malam harinya ia sudah menyiapkan produksi untuk dijual hari berikutnya.

Permintaan pun disebutnya bervariasi dari hanya setengah kilo per konsumen hingga lima kilogram sesuai kebutuhan. Harga jual semula hanya Rp7.000 selama Ramadan meningkat hingga harga Rp10.000 per kilogram.

pedagang tapai
Jumirin, pembuat dan pedagang tapai singkong tengah melayani konsumen [Foto: Henk Widi]
Saat terjual semua Jumirin yang membawa 150 kilogram bisa memperoleh uang Rp150.000 sekali keliling dan sang isteri yang membawa 75 kilogram bisa memperoleh Rp75.000 berkeliling dengan motor.

Hasil penjualan  selanjutnya dibelikan bahan baku dan sebagian dipergunakan untuk kebutuhan saat hari raya Idul Fitri. Peningkatan penjualan bahkan membuat Jumirin bisa lancar membayar angsuran kredit kendaraan motor.

Heny (30) salah satu penjual takjil dengan menu es campur mengaku berjualan dadakan saat bulan ramadan. Bahan baku tapai singkong yang digunakan dalam sehari mencapai satu kilogram.

“Tapai singkong memberi sensasi manis pada es campur sehingga cita rasanya menjadi lebih nikmat cocok untuk berbuka puasa,” tutur Heny.

Harga es campur dengan bahan tapai singkong disebut Heny dijual perporsi Rp3.000 dan jelang berbuka puasa ia kerap bisa menjual 100 porsi. Bulan suci ramadan disebutnya ikut memberi tambahan penghasilan bagi produsen tapi yang terbantu dengan banyaknya penjual takjil.

Selain Heny sejumlah penjual menu berbuka puasa bahkan terlihat di beberapa titik strategis di Lampung Selatan dengan menu bahan tapai singkong menjadi salah satu menu pendukung.

Lihat juga...