Petani Kakao di Sikka Berharap Bibit Unggul Tahan Hama

Editor: Koko Triarko

MAUMERE –  Merebaknya penyakit busuk buah yang melanda hampir semua tanaman kakao di kabupaten Sikka, menyebabkan produksi kakao menurun. Banyak buah kakao yang masih mentah membusuk dan mengering seperti terbakar, sehingga dalam satu pohon hanya beberapa buah kakao saja yang matang.

“Saya sejak tahun lalu sudah mulai melakukan peremajaan dengan menanam tanaman kakao yang baru dengan menggunakan bibit unggul yang dibagikan pemerintah dan melakukan pembibitan sendiri,” sebut Bernadus Bago, Senin (7/5/2018).

Petani Kakao Desa Nebe, Kecamatan Talibura, ini mengatakan, serangan penyakit busuk buah juga membuat banyak pohon kakao yang sudah berumur belasan bahkan di atas 20 tahun, mulai mengering dan mati.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Hendrikus Blasius Sali. -Foto: Ebed de Rosary

“Kalau sudah terserang hama busuk buah  pasti akan membuat buah kakao ukurannya tidak besar. Kami sudah lakukan penyemprotan hama, tetapi hasilnya sama saja,” sebutnya.

Nadus, sapaannya, berharap pemerintah melalui petugas penyuluh lapangan, terus melakukan pendampingan kepada petani kakao. Selain itu, harus dibagikan bibit kakao yang lebih tahan hama dan merupakan bibut unggul.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Ir. Hendrikus Blasius Sali, kepada Cendana News mengatakan, kalau di wilayah timur kabupaten Sikka memang betul masih banyak yang diserang penyakit ini, karena kebunnya tidak terawatt.

Beda dengan di wilayah barat, tegasnya, karena mindset atau pola pikir petaninya bisnis, jadi perawatan kakaonya bagus. Kalau hanya asal menunggu petik, maka hasil produksinya jelek, karena terserang hama.

“Hama ini memang menyebar, karena seperti spora sehingga jatuh ke tanah dan berkembang biak. Salah satu jalan untuk mencegahnya, yakni memperbaiki sanitasi kebun dan membersihkan secara rutin serta melakukan pemangkasan,” katanya.

Kakao yang berumur tua di atas 30 tahun dan 40 tahun, tandas Hengky, harus diganti atau dilakukan peremajaan. Petani kakao seperti di beberapa wilayah sudah berulang kali diimbau, namun petani tidak melakukannya.

Disaksikan Cendana News di kebun kakao di Desa Nebe, banyak tanaman kakao yang berumur tua bahkan daunnya pun sudah berwarna kekuningan serta bagian ujung dahannya pun sudah mengering, tetapi tidak dipangkas. Buah yang membusuk terserang hama pun dibiarkan masih menempel di batang pohon.

Selain itu, tanah di bagian bawah pohon kakao pun dipenuhi oleh dedaunan kering. Sinar matahari hampir tidak terlihat akibat terhalang dedaunan pepohonan lain seperti kelapa, pisang dan lainnya.

Lihat juga...