Dokter RS Fatmawati: Jumlah Penderita Kanker Prostat Meningkat
Redaktur: ME. Bijo Dirajo
JAKARTA — Dokter Spesialis Urologi Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati, Dr. Syamsu Hudaya, SP.U menyebutkan, kanker prostat menempati urutan ketiga penyakit berbahaya bagi pria di Indonesia.
Berbicara data yang didapat pada 2012 untuk di Asia total jumlah kasus kanker prostat yang terjadi mencapai 191,054 jiwa, dengan jumlah kematian 81,229. Indonesia berada pada urutan ke empat dengan jumlah kasus 13,663 dan jumlah kematian 9,191 jiwa.
“Kanker prostat merupakan urutan ke 3 keganasan pria di Indonesia. Di RS Fatmawati sendiri data yang ada sejak 2015 hingga 2017, jumlah pasien terus meningkat hingga sekarang mencapai 45 kasus,” jelasnya kepada Cendana News, beberapa waktu lalu.
Tidak hanya itu, dirinya menyampaikan untuk di Indonesia, kanker urologi dalam hal ini prostat semakin meningkat dan berada pada urutan enam dibandingkan dengan kandung kemih yang ada pada urutan 12 serta ginjal pada urutan 18.
Menurutnya, faktor resiko bisa meningkatkan terjadinya kanker prostat di antaranya yakni usia, resiko meningkat dengan usia 75 persen terdiagnosa usia di atas 65 tahun, 29 persen di usia 50-an – 67 persen dekade 90-an.
Untuk riwayat kanker prostat pada keluarga memiliki peningkatan resiko 2-4 kali lipat dan juga terjadi pada usia lebih muda di bawah 60 tahun.
Sementara riwayat kanker prostat pada ras, terdapat pada ras Afrika-Amerika memiliki insiden dua kali kaukasia, sementara Asia dan oriental lebih jarang.
Diet tinggi lemak jenuh dapat meningkatkan resiko kanker prostat. Geografik seperti di wilayah negara barat, Scandinavia, dan Amerika Utara, juga menjadi faktor resiko kanker prostat. Kurang sinar matahari, dan Logam berat.
Sedangkan factor penghambat terjadinya kanker prostat di antaranya dengan mengkonsumsi kedelai dan turunannya, teh hijau, pomegranate (delima), brokoli, lycopene terdapat pada tomat, anti oxidant-selenium, vitamin E,D,A, dan tentunya juga dengan olahraga.
Tidak hanya itu, dirinya mengatakan lagi untuk mendeteksi kanker prostat dapat dilakukan di antaranya dengan cara melakukan tes (setiap tahun atau 2 tahun bila stabil), pemeriksaan colok dubur, tes darah: Prostat Specific Antigen (PSA). Dengan melakukan tes itulah angka kematian akan menurun.
Menurutnya lagi yang dialami penderita kanker prostat tanpa terlihat ada gejala sehingga harus deteksi dengan periksa darah, mengalami gangguan buang air kecil (BAK) / retensi urin: BPH, sperma berdarah atau nyeri ejakulasi, BAK berdarah, dan jika sudah yang lanjut sekali akan menyebar dan mengakibatkan patah tulang tanpa sebab dan menyebabkan lumpuh serta sakit pada dada.
Dr. Syamsu mengatakan lagi, dasar pemilihan terapi kanker prostat dilihat dari usia, semakin tua semakin beresiko dan tentunya penderita tidak ingin mengambil resiko untuk itu disarankan ketika usia belum beranjak tua ada baiknya segera melakukan konsultasi dengan melakukan terapi ke dokter.
Dengan melakukan terapi bisa berkurang resiko, dan jika melakukan operasi resikonya akan lebih ringan sehingga bisa sembuh dan hidupnya akan lebih baik, penyakitnya hilang. Pilihan terapi yang bisa dipilih oleh penderita diantaranya dengan bedah maupun sinar, terapi hormonal (diberikan obat hormone), dan kemoterapi.
“Dengan pembedahan kita yakin karena sumber utama dari kanker harus dibuang atau diangkat, semakin bertemu melakukan konsultasi dan selanjutnya melakukan pembedahan, semakin menjaga organ tubuh yang lainnya sehingga ketika sudah dibuang itu kankernya, si penderita akan hidup normal kembali,” katanya.
Sementara itu, Kanker Prostas merupakan pertumbuhan sel-sel secara tidak terkendali dalam kelenjar kecil di panggul pria yang merupakan bagian dari sistem reproduksi. Prostat berada di bawah kandung kemih di depan rektum yang mengelilingi uretra, yaitu saluran yang membawa urine.
Prostat membantu menghasilkan cairan yang menyuburkan dan melindungi sperma. Ketika terjadi ejakulasi, prostat mengeluarkan cairan ini menuju uretra. Cairan yang dikeluarkan akan mengalir bersama dengan sperma sebagai air mani.