BENGKULU – Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik Divisi Regional Provinsi Bengkulu, pada 2018 menargetkan mampu menyerap gabah kering giling petani (GKG) sebanyak 22.000 ton.
Kepala Bulog Divre Provinsi Bengkulu Dedi Sabetra, mengaku optimis mampu menyerap gabah petani dalam jumlah yang lebih besar dari tahun sebelumnya. “Kita akan mengupayakan bagaimana hasil pertanian lokal bisa didistribusikan kembali ke daerah itu, contohnya melalui bantuan rastra atau untuk yang premium bisa dibeli lewat toko rumah pangan kita,” kata dia, Rabu (24/1/2018).
Pada 2017, Bulog hanya mampu menyerap sekitar 3.000 ton beras petani, hal itu karena berbagai kendala, termasuk kondisi cuaca di Bengkulu yang tidak menguntungkan terhadap hasil pertanian.
Pemenuhan target ini akan diupayakan dari beberapa sentra pertanian padi yang hasilnya cukup besar, jika tidak terkendala gagal panen seperti akibat cuaca buruk.
Seperti Kabupaten Mukomuko, Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Bengkulu Selatan, Seluma dan beberapa lokasi di Kabupaten Bengkulu Tengah. “Kalau yang didistribusikan adalah hasil pertanian lokal, nantinya cita rasanya tentu sesuai dengan lidah masyarakat setempat,” katanya.
Untuk penyaluran kembali kepada masyarakat, lanjut Dedi, ada tiga metode. Pertama, dengan cara distribusi bantuan sosial rastra atau ke depannya akan diubah menjadi bantuan pangan nontunai, dan rastra ini disalurkan melalui e-warung milik Kemensos RI.
Selain bantuan rastra, juga ada operasi pasar, hal ini akan dilakukan sesuai dengan koordinasi pemerintah daerah, jika terjadi fluktuasi harga beras. Dan, yang terakhir yakni masyarakat bisa mendapatkan beras kualitas medium atau premium untuk kebutuhan harian dengan pembelian melalui toko RPK milik Bulog. (Ant)