CERPEN YUDI TEHA
“MENGAPA janda itu minta tolong raksasa, Bu? Mengapa bukan kepada Tuhan saja?”
Aku masih ingat, itulah kira-kira pertanyaan yang kusampaikan kepada ibu waktu aku kecil dulu, ketika ibu sedang mendongengkan cerita Timun Mas. Aku tidak ingat, waktu itu ibu memberi jawaban apa, tapi seingatku ibu tidak segera menjawab. Pertanyaan itu masih membekas di ingatanku hingga kini.
Menurutku, banyak cerita rakyat yang dikonsumsi anak-anak sebenarnya penuh kerancuan. Banyak peristiwa yang dituturkan tidak masuk akal tanpa dibarengi dengan penjelasan. Ketika kami dewasa, sebagian di antara kami baru menyadari kerancuan-kerancuan itu, dan mungkin aku termasuk salah satunya.
Aku melihat penentuan siapa yang perlu disalahkan dalam kisah itu seringkali tidak adil. Dalam cerita Timus Mas itu misalnya, yang dianggap salah hanya pada raksasa itu, terlebih saat dia menginginkan Timun Mas dewasa.
Terus terang, cerita Timun Mas kembali terngiang di benakku setelah aku mendengar kisah yang terjadi beberapa hari yang lalu di desa sebelah. Ada seorang pemuda tega membunuh kekasihnya sendiri karena cemburu yang kelewat besar. Setelah kejadian itu ditelusuri ternyata tidak semata masalah cemburu saja. Ada hal penting yang melatarbelakangi peristiwa itu. Dan jika kalian penasaran dengan cerita lengkapnya, sekarang aku akan mengisahkan kepada kalian.
Dulu, di desa sebelah ada kembang desa bernama Surindi. Karena kecantikannyalah hingga banyak pemuda melamar ingin mempersunting menjadi istrinya. Meski tanpa diumumkan, ayah Surindi telah menentukan perkara kekayaanlah yang menjadi pertimbangan untuk memilih siapa pemuda yang akan diterima sebagai menantu, dan hal itu sudah atas persetujuan Surindi.
Satu per satu pemuda yang melamar bertemu dengan Surindi dan ayahnya. Hasil dari pertemuan itu memutuskan bahwa pemuda yang bernama Wangsa-lah yang menikahi Surindi.
Wangsa adalah pemuda seberang, dia seorang pengusaha Timun yang sukses. Timun hasil pertaniannya terkenal hingga ke seluruh wilayah Nusantara. Oleh karenanya setelah Surindi dinikahi Wangsa, hidupnya sangat berlimpah kekayaan. Tapi sekian lamanya hidup berumah tangga dengan Wangsa, Surindi mulai merasa ada yang kurang di hidupnya.
Di rumah mereka tak segera ada tanda-tanda hadirnya seorang bayi. Wangsa dan Surindi sangat berharap segera punya anak. Suara tangis dan celoteh bayi selalu menghantui pikiran mereka. Segala upaya telah mereka tempuh agar bisa mendapatkan keturunan. Mereka berdua telah berusaha berobat ke banyak dokter dan pergi ke banyak orang pintar, tapi tak juga menemui hasilnya. Padahal menurut pemeriksaan dokter, keduanya dinyatakan dalam keadaan sehat.
Lima belas tahun sudah penantian mereka untuk mempunyai anak terlewati, hingga di suatu pagi yang cerah, burung-burung prenjak yang hinggap di dahan pohon depan rumah mereka terus berkicau seiring matahari mulai menyingsing, datanglah seorang perempuan paruh baya bersama anaknya yang masih kecil ke rumah mereka.
“Pekerjakanlah saya, Nyonya,” katanya kepada Surindi yang waktu itu sedang berada di beranda.
Surindi menoleh ke arah suara, “Oh, di sini sudah ada tiga pembantu, Bu,” kata Surindi sembari tangannya mencari sesuatu. Rupanya mengambil uang, “Tapi semoga ini bisa membantumu,” sambungnya sambil tangannya menyerahkan uang itu.
“Jangan Nyonya. Ijinkan saya bekerja dulu. Sehari saja tidak apa. Kerja apa saja. Upahnya nanti untuk makan saya dan anak saya,” sahutnya.
“Sehari saja tidak apa-apa?” tanya Surindi.
“Itu sudah cukup, Nyonya,” jawabnya.
“Baiklah. Bersihkanlah pekarangan di sekitar rumah ini.”
Jadilah, perempuan paruh baya itu mendapat pekerjaan, meski hanya satu hari. Seharian penuh dia bekerja sambil tetap setia menjaga anaknya. Terkadang tanpa sengaja pandangan Surindi tercenung melihat ke arah mereka. Perempuan itu melakukan apa yang diperintahkan Surindi dengan sungguh-sungguh.
Sore hari, waktunya Surindi memberi upah kepada perempuan itu. “Mungkin Ibu tidak punya banyak kekayaan tapi Ibu punya putri yang cantik,” kata Surindi sembari tangannya menyentuh pipi anak itu.
Tak lama kemudian Surindi menyerahkan amplop yang tentu saja berisi uang kepada perempuan itu. “Terimalah, ini sudah hak Ibu,” lanjutnya.
“Terima kasih, Nyonya.”
“Andai aku punya anak, pastinya juga akan bekerja keras seperti Ibu, agar bisa untuk menghidupinya.Tapi aku tidak punya.”
“Maafkan Nyonya, saya tidak tahu.”
“Tidak apa-apa.”
“Apakah kehadiran anak akan berarti segalanya bagi Nyonya?”
“Begitulah.”
“Kekayaan Nyonya?”
“Itu tidak berarti apa-apa, bahkan untuk yang lain juga.”
“Andai Tuhan mengabulkan permohonan Nyonya, apa yang akan Nyonya lakukan?”
“Saya tidak suka berandai, Bu. Rasanya sudah lelah. Tapi kalau benar itu terjadi, saya akan pertaruhkan segalanya untuk anak itu.”
“Saya punya keyakinan, tidak lama lagi harapan Nyonya akan terwujud.”
“Amin.”
Kira-kira satu bulan setelah peristiwa itu, saat Surindi memeriksakan kesehatannya pada dokter pribadinya, dia sangat terkejut ketika dokter itu menyampaikan kabar bahwa dirinya hamil. Kabar yang sangat membahagiakan, tentu saja juga bagi Wangsa, suaminya. Mulai hari itu, hidup Surindi penuh dengan kegembiraan. Wajah cerah selalu terpancar di wajahnya.
Tapi rupanya kegembiraan itu terganggu. Tubuh suaminya tiba-tiba sering sakit-sakitan hingga sampai pada suatu hari badannya lumpuh tak bisa berbuat apa-apa lagi. Wangsa hanya bisa terbujur lemas di tempat tidur. Dokter yang memeriksa bingung karena tak dapat menemukan apa sesungguhnya penyakit yang dideritanya. Segala upaya dilakukan. Banyak dokter telah dipanggil untuk menyembuhkannya. Demikian juga beberapa orang pintar dihadirkan untuk menanganinya, tapi tak satu pun yang mampu membuat Wangsa kembali pulih.
Kekayaan yang dulu berlimpah lama-lama terkuras untuk membiayai pengobatan Wangsa. Bahkan bisnisnya sampai terbengkalai, satu per satu karyawannya mengundurkan diri karena merasa sudah tidak lagi mendapatkan jaminan kerja. Sampai akhirnya bisnis Wangsa benar-benar bangkrut. Puncak dari peristiwa itu saat Surindi sedang melahirkan bayi perempuan, yang kemudian diberi nama Timun, pada hari itu juga Wangsa meninggal dunia. Hari itu ada jiwa yang datang dan ada yang pergi.
Kini Surindi bukan hanya menjadi janda, tetapi juga jatuh miskin, benar-benar miskin. Rumah yang ditinggali adalah satu-satunya kekayaan yang tersisa tapi harus juga rela dijual dan uangnya untuk membayar utang waktu pengobatan Wangsa, biaya melahirkan Timun dan mengurusi pemakaman suaminya.
Hidup Surindi seperti sedang diuji dan nampaknya dia tidak kuat menjalaninya. Kesedihan yang hadir bertubi-tubi dalam hidupnya itu telah menkoyak-koyak mentalnya. Akhirnya Surindi bersama Timun hidup menggelandang dan untuk memenuhi biaya hidup mereka diperoleh dari iba orang lain. Surindi menjadi pengemis. Lambat laun Surindi tidak tahan dengan penderitaan itu. Pengertian anak yang baginya dulu adalah segala-galanya sepertinya telah dilupakannya. Dia putus asa.
Di tengah perjalanan menggelandang, Surindi mendengar sebuah berita, ada seorang kaya yang dermawan. Orang itu bernama Raksi dan Surindi tertarik menemuinya untuk mengadu nasibnya.
“Tolonglah saya, Tuan,” kata Surindi.
“Apa yang bisa saya lakukan untukmu?” tanya Raksi.
“Saya jatuh miskin, saya tidak bisa membiayai hidup saya dan putri saya, Tuan.”
Raksi terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Saya akan menolongmu, tapi harus ada perjanjian.”
“Perjanjian apa, Tuan?”
“Saya akan menafkahi kalian. Rawatlah anakmu baik-baik. Didik dia. Kelak jika dia sudah besar, izinkan dia untuk menikah dengan saya.”
“Saya harus menyerahkannya pada Tuan?”
“Saya tidak merebutnya darimu. Selamanya dia tetap anakmu. Saya hanya ingin dia menikah dengan saya.”
Hanya atas pemahaman bahwa Timun akan tetap menjadi anaknya, Surindi akhirnya menyetujui perjanjian itu. Sejak saat itu hidup Surindi dan Timun berada dalam kemudahan. Apapun yang menjadi kebutuhan mereka selalu dipenuhi oleh Raksi. Dan meski belakangan diketahui bahwa Raksi adalah orang kaya yang menganut sebuah kepercayaan jika bisa menikahi banyak gadis kencur akan dapat melanggengkan kekayaannya pun, tidak membuat Surindi resah atau pun membatalkan perjanjiannya.
Tibalah waktunya Timun menjadi perawan. Kecantikan Timun semakin terpancar. Seperti lazimnya perawan zaman sekarang yang sudah suka pacaran, Timun pun seperti tidak mau ketinggalan. Dia ingin punya pacar. Karena kecantikannya itulah Timun jadi rebutan teman-teman lelakinya.
Tapi meski begitu Timun sebenarnya telah menentukan siapa yang dipilih untuk menjadi kekasihnya. Dialah Balak, teman paling keren di sekolahnya. Kini Balak dan Timun menjadi sejoli kasmaran yang pastinya pada masa itu emosi mereka meluap-luap.
Nah, kalian tentu tahu jika waktu perawannya Timun tiba, itu berarti waktu tagih perjanjian pun juga tiba. Tapi celakanya sebelum Raksi benar-benar datang untuk menagih janji, ternyata Balak lebih dulu mendengar kabar itu, kabar yang menjelaskan bahwa telah tiba waktunya Timun untuk dinikahi Raksi.
Mendengar kabar itu Balak langsung menghubungi Timun untuk mengajaknya melarikan diri. Timun menyetujuinya dan mereka berjanji bertemu di Kafe Hijau. Entah apa yang dipikirkan Balak, meski Timun bersedia pergi bersamanya tapi rupanya Balak belum merasa yakin dengan pilihan Timun hingga dalam pertemuan di kafe itu, dia menaruh racun sianida ke dalam minuman Timun.
“Maafkan aku Timun, Sayangku. Aku belum yakin bisa memilikimu, dan aku tak mau risiko itu. Maka aku memilih jalan ini, yang artinya Raksi pun tak pernah mampu memilikimu,” kata Balak seusai Timun meminum ramuan racun itu. Tak berselang lama Timun menghembuskan napasnya yang terakhir.
Kabar kematian Timun dibunuh Balak sampai juga di telinga Raksi. Saat itu juga Raksi menyuruh pembantunya untuk memanggil Surindi. Apakah kalian bisa menebak, apa yang kira-kira Raksi akan lakukan ketika bertemu Surindi?
Dalam pertemuan itu Raksi hanya bertanya satu hal kepada Surindi, begini: “Menurutmu, dalam peristiwa ini siapa yang paling pantas untuk disalahkan?” ***
Yudi Teha, kumpulan cerpennya Balada Bidadari diterbitkan Penerbit Buku Kompas (2016) dan Seekor Anjing pun Tak Ada yang Sebiadab Kematiannya Penerbit Basabasi (2017). Aktif di Komunitas Sastra Alit Surakarta dan Komunitas Kamar Kata Karanganyar.
Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di mana pun dan belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.