Diktator Peru Fujimori Tinggalkan Klinik Sebagai Orang Bebas
LIMA – Mantan pemimpin Peru Alberto Fujimori (79) meninggalkan rumah sakit dengan status bebas, Kamis (4/1/2018). Pembebasan tersebut telah menyulut kembali kemarahan warga Peru atas pengampunan kepada mantan diktator yang diberikan Presiden Pedri Pablo Kuczynski pada Natal lalu.
(Baca : https://www.cendananews.com/2017/12/diktator-peru-fujimori-memohon-ampun-pada-rakyat.html)
Pengampunan yang diberikan tersebut membuat Peru terpecah dan memicu unjuk rasa menentang pemerintah. Fujimori, oleh sebagian orang dituduh sebagai diktator korup namun oleh sebagian orang lain dianggap sebagai pahlawan, telah menjalani hukuman 25 tahun atas korupsi dan kejahatan hak asasi manusia selama pemerintahan kerakyatan sayap kanannya pada 1990-2000.
“Demi kegembiraan banyak orang Peru, pada hari ini, Alberto Fujimori bebas,” kata dokternya, serta mantan menteri kesehatan, Alejandro Aguinaga yang ditayangkan saluran televisi setempat dengan menambahkan bahwa Fujimori masih memulihkan diri dari masalah jantung.
Dengan mengenakan jaket dan baju biru, Fujimori tersenyum dan melambai ke kerumunan orang di luar rumah sakit Lima tempat dia diasingkan. Fujimori menjalani perawatan medis yang disebut dokter sebagai penyakit tekanan darah dan masalah jantung yang mengancam jiwanya pada malam pengampunan.
Fujimori meninggalkan rumah sakit diikuti pengawalan polisi dan kamera berita hingga tiba di sebuah rumah luas di distrik kelas atas La Molina di Lima, ibu kota Peru. Dalam foto bersama putrinya di media sosial, Fujimori terlihat di sebuah taman yang dikelilingi oleh keempat anaknya yang telah dewasa.
Presiden Kuczynski, mantan bankir investasi, menyebutkan kondisi kesehatan Fujimori yang sakit saat dia mengampuninya hampir dua minggu yang lalu. Namun keputusan tersebut telah memunculkan gejolak di Peru sebagai ekses setelah Fujimori mendaftarkan loyalisnya untuk membantu Kucyznski bertahan dalam sebuah upaya pemakzulan menyusul skandal korupsi.
“Anda mungkin telah mendapat keuntungan dari pengampunan ilegal, tapi itu tidak menghilangkan tanggung jawab Anda atas kematian dan korupsi pada 1990-an,” demikian aktivis hak asasi manusia Gisela Ortiz, yang saudara laki-lakinya, seorang mahasiswa, tewas di tangan sebuah pasukan pembantaian pada 1992 yang saat Fujimori masih memegang tampuk pemerintahan di Peru.
Pada Kamis (4/1/2018) pagi, pendukung Fujimori berkumpul di depan rumah Kuczynski untuk menunjukkan dukungan atas pengampunan tersebut. Para kritikus memperingatkan Kuczynski bahwa dia akan terikat pada Fujimori dan partai sayap kanan yang dipimpin oleh anak-anaknya, Keiko dan Kenji, yang memiliki mayoritas mutlak di Kongres.
Fujimori memberi sinyal dari tempat tidurnya di rumah sakit minggu lalu bahwa dia tidak akan menggunakan kebebasannya untuk kembali ke dunia politik, namun loyalisnya telah memanggilnya untuk menjadi penasihat di Partai Angkatan Populer yang menguasai mayoritas kursi di Kongres di Peru.
“Tidak ada yang salah dengan menerima nasihat dari dia atau mengandalkan dukungan atau saran untuk calon presiden masa depan. Karena kesehatannya, dia tidak bisa memimpin partai, tapi dia bisa mengarahkannya dari tempat tidur atau kursi rodanya,” kata anggota dewan kuasa Angkatan Populer Maritza Garcia pada pekan lalu. (Ant)