Hanya 16 Cabor Berpotensi Emas di Asian Games 2018

JAKARTA – 16 dari 40 cabang olahraga Indonesia berpeluang merebut medali emas di Asian Games 2018. Jumlah tersebut merupakan hasil verifikasi tim khusus bentukan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).

Verifikasi dilakukan terhadap proposal program pelatihan nasional (Pelatnas) yang diserahkan setiap cabang olahraga. “Hasil kesimpulan setelah menyeleksi proposal program pelatnas induk organisasi olahraga yang sudah diserahkan, antara 16 sampai 20 cabang olahraga berpeluang medali emas. Selebihnya, meraih medali perak dan perunggu,” kata Ketua Tim Verifikasi Adhi Purnomo di Jakarta, Selasa (2/1/2018).

Cabang olahraga yang berpeluang meraih medali emas tersebut adalah cabor yang nomor pertandingannya diikuti oleh atlet Indonesia katagori elit internasional maupun regional. Salah satunya adalah bulutangkis yang disebut memiliki peluang untuk merebut dua medali emas. “Selain itu ada juga boling satu emas, jetski dua emas, panahan satu emas, wushu satu emas, karate satu emas,” tambahnya.

Adhi juga menyebutkan, cabang olahraga prioritas emas yang diusulkan KONI tidak semua memasang prioritas emas, seperti sepak takraw serta berkuda yang nomornya tidak memiliki atlet elit internasional.

“Sepak Takraw tidak ada yang berpeluang emas, termasuk berkuda juga enggak. Untuk Rancangan Anggaran Biaya (RAB) sesuai dengan kategori nasional yakni berpeluang medali. Tapi kalau misalnya mereka yang tidak dikategorikan mendapatkan emas namun di Asian Games dapat emas akan mendapatkan pengganti biayanya,” tuturnya.

Adhi menjelaskan sudah ada delapan cabor menandatangani nota kesepahaman (MoU) untuk pencairan dana pelatnas. Diantaranya adalah, Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia (PBSI), Jujitsu, Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PERBASI), Persatuan Olahraga Sepatu Roda Seluruh Indonesia (PERSEROSI) dan Ikatan Sepeda Seluruh Indonesia (ISSI).

MoU dilakukan sebagai upaya percepatan pencairan anggaran pelatnas baik akomodasi hingga honoraium atlet. Nantinya akomodasi akan sama rata Rp500 ribu setiap bulan hingga Desember 2018 dan honorarium sesuai Standar Biaya Masukan Lainnya (SBML) sekitar Rp8 juta.

“Yang membedakan itu adalah gaji atlet elit internasional yakni mereka dapat Rp15 juta setiap bulan dan regional Rp10 juta setiap bulan hingga akhir Desember 2018,” tuturnya.

Kendati demikian, Adhi menjelaskan ada beberapa cabang yang tidak cocok dengan pemotongan kuota atlet yang diajukan. Salah satunya adalah cabang olahraga bridge yang dipotong menjadi 12 atlet dari 32 atlet. “Mereka (bridge) mengajukan ingin lebih try out dan training camp untuk atlet diluar non unggulan. Seharusnya kan yang berpotensi emas saja,” tuturnya.

Atas hal tersebut, tambah dia, bridge mengancam tidak bermain sesuai target Asian Games. Namun dia menegaskan, perihal ini akan dibahas kembali dengan jajaran Deputi IV Kemenpora. (Ant)

Lihat juga...