Hanafi Beberkan Ajaran Toleransi Rasulullah
JAKARTA – Dalam tausyiahnya, Muchlis M. Hanafi, mengatakan, toleransi yang diajarkan oleh semua agama itu adalah bagaimana menghargai dan menghormati sikap pandangan orang lain yang berbeda.
“Indonesia ini banyak orang terkagum-kagum, karena bangsa ini bisa mengembangkan pemahaman agama yang moderat dan toleransi berdasarkan cinta dan kasih sayang,” kata Muchlis, pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 Hijriyah Keluarga Besar TMII, di Sasono Langen Budoyo TMII, Jakarta, Kamis (11/1/2018).
Menurutnya, dalam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, pemahaman agama menjadi penting. Namun jika agama dipahami secara ekstrem, akan berpotensi mengganggu persatuan dan kesatuan.
“Saya kira TMII yang merupakan wahana kerukunan umat beragama dengan beberapa rumah ibadah berdampingan sebagai bukti toleransi berdasarkan cinta dan kasih sayang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW,” ujar Muchlis.
Cinta itulah, kata Muchlis, yang akan memempersatukan kita baik dengan orang-orang yang kita cintai atau sesama orang yang dicintai. Karena itu, sesungguhnya agama Islam dan semua agama menanamkan rasa cinta dan kasih sayang dalam hati para pemeluknya.
Cintalah yang akan mempertaruhkan hati antara sesama dengan lainnya, baik ketika kita di dunia maupun setelah meninggal dunia. “Peringatan keagamaan ini sesungguhnya ekpresi rasa cinta kita sebagai umat Muslim kepada Nabi Muhammad SAW yang telah menghantarkan dan membimbing kita dalam hidup di dunia ini,” ungkap Muchlis.
Dia menyampaikan, saat pertama kali Rasulullah berdakwah di Bagdad selama 13 tahun maupun di Madinah selama 310 tahun, yang Rasulullah tanamkan adalah rasa cinta dan kasih sayang.
Kasih sayang yang disampaikan dan ditanamkan oleh Rasulullah itu bukan hanya untuk umat Muslim, tapi juga kaum munafikun turut merasakan berkahnya. Bahkan, alam semesta beserta isinya juga mendapatkan berkahnya.
Ketika para munafikun tersebut, sebut dia, selalu menghadang dakwah Rasulullah, Rasulullah mengetahuinya. Bahkan ketika seorang munafikun tertangkap pun, sekali pun para sahabat Rasulullah meminta izin kepada beliau untuk memenggal kepala orang tersebut, dengan bijak Rasulullah berkata, jangan lakukan tapi sayangilah dengan cinta.
Bahkan, kata Muchlis, orang sejahat Abdullah bin Ubay bin Sani, yakni tokoh munafikun yang sangat memusuhi Rasulullah, sesaat sebelum wafat berpesan kepada anaknya agar kelak dia meninggal minta dishalatkan oleh Rasulullah dan kain kafannya juga adalah kain dari baju yang Rasulullah kenakan.
“Rasulullah tidak marah, tetap berjiwa bijaksana dengan cinta dan kasih sayangnya. Beliau pun menshalatkan orang tersebut dan mengkafannya dengan baju yang dikenakan beliau,” jelasnya.
Selain itu, kata Muchlis, ketika Rasulullah datang pertama kali ke Madina, yang beliau lakukan adalah mempersatukan orang-orang Anshar yang selama 120 tahun perang saudara. Mereka bisa dipersatukan oleh Rasulullah melalui cinta dan kasih sayang.
Rasulullah juga membangun persatuan dan kesatuan sesama komponen masyarakat yang ada di Madinah dengan membuat “Piagam Madinah”.
Ada 48 pasal dalam piagam Madinah itu yang menyatakan secara ekplisit, bahwa orang-orang Yahudi bersama-sama umat Islam sebagai komponen bangsa masyarakat yang ada di Madinah.
“Kita adalah umat yang satu walaupun berbeda agama. Itulah tegas Rasulullah dalam piagam Madinah. Pengakuan yang luar biasa bisa hidup berdampingan dengan umat Islam yang ada di Madinah dengan komunitas Yahudi,” ujarnya.
Begitu juga dengan orang-orang Kristen di Jazirah Arab. Rasulullah juga menyampaikan kepada kaum nasrani, bahwa keamanan dan kenyamanan mereka akan dijaga di dalam beribadah maupun di lingkungan masyarakat.
Pada tahun 15 Hijriyah, 5 tahun setelah Rasulullah wafat, Saidina Umar, sahabat Rasulullah pun berpegang teguh pada sikap cinta kasih yang diajarkan. Yakni, Saidina Umar berhasil menaklukkan Palestina, yang sekarang jadi pusaran konflik Israel dan Palestina, bahkan negara dunia pun terlibat.
“Menaklukkan Palestina dengan meneken deklarasi damai yang diinisiasi Saidina Umar dengan tokoh-tokoh Kristen,” kata Muchlis.
Ada pun isi deklarasi itu, lanjut dia, adalah memberikan jaminan kebebasan dalam kehidupan beragama terhadap orang-orang Kristen yang ada di wilayah kekuasaan Islam.
Inilah ajaran toleransi yang dicontohkan Rasulullah dan para sahabatnya. “Tapi kalau berkaca dengan perilaku dan sikap umat Islam sekarang, rasanya kok cukup miris, betapa rumah-rumah ibadah seperti masjid jadi sasaran penembakan,” ucapnya.
Menurutnya, Indonesia dengan keragaman yang luar biasa, tetap bisa menjaga keutuhan bangsa. “Dengan apa kita menjaganya? Dengan Pancasila. Kita sudah terikat oleh kesepakatan sebagai bangsa,” ucapnya.
Kembali Muchlis menegaskan, umat Islam Indonesia harus menjaga toleransi dengan dasar cinta dan kasih sayang yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Bukan hanya kepada saudara sesama Muslim, tapi juga sebagai warga sesama bangsa.
“Kita ini adalah warga negara sebelum jadi warga agama. Kita ini orang Indonesia yang beragama Islam. Bukan orang Islam yang tinggal di Indonesia,” tegasnya.
Karena itu, tambah dia, keislaman kita pun harus mengkondisikan di mana kita tinggal. Namun, saat ini ada kecenderungan orang beragama mempertimbangkan pandangan dan fatwa-fatwa yang diajarkan ulama dari luar yang belum tentu cocok untuk kita sebagai warga bangsa Indonesia.