Sistem Swakelola, Mudahkan Sekolah Gunakan Dana Bantuan

MAUMERE – Penerapan sistem swakelola, di mana pihak sekolah diberi kepercayaan untuk mengelola dan menggunakan dana bantuan, sangat membantu sekolah dalam mempergunakan dana tersebut untuk kepentingan sekolah tersebut.

“Dengan kebijakan swakelola ini, sangat membantu saya untuk lebih menggunakan dana secara maksimal, artinya membangun sesuai kualitas bangunan yang kita mau dan bisa bekerja lebih dari apa yang diberikan,” ungkap RD Fidelis Dua, MTh., Kepala Sekolah SMAK John Paul II Maumere, Kamis (11/1/2018).

Kepala Sekolah SMAK John Paul II Maumere, RD. Fidelis Dua, MTh. -Foto: Ebed de Rosary

Romo Fidel mencontohkan, anggaran rehab bangunan kalau diberi 4 ruangan, pihaknya bisa mengerjakan sampai 6 ruangan. Dengan swakelola sangat membantu pihaknya lebih mengembangkan sekolah, sebab apa yang dikerjakan sesuai kebutuhan sekolahnya.

Setiap tahun, terang Romo Fidel, sekolahnya mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten, provinsi NTT setelah jenjang SMA dialihkan ke provinsi. Pada 2015, pihaknya juga mendapat bantuan dari Dirjen Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI lewat bantuan dana pembangunan gedung dua lantai di bagian depan sekolah.

“Dulu SMA masih menjadi kewenangan kabupaten, kami selalu mendapat bantuan dari dana alokasi khusus kabupaten, sementara sejak 2017  dipindah ke provinsi, kami dapat dana untuk membangun laboratorium IPA,” paparnya.

Kadang kala, orang bertanya kenapa SMAK Johan Paul II selalu mendpaat dana bantuan. Hal ini terang Romo Fidel, dikarenakan sekolahnya selalu menekankan akurasi data dan datanya selalu konsisten.

Sekolah yang berdiri sejak 1989 yang merupakan alih fungsi dari SPG Don Bosco ini, sebutnya, kini sudah memiliki laboratorium yang lengkap seperti IPA, Kimia, Biologi, bahasa dan komputer.

“Siswa kita dari tahun ke tahun meningkat dan animo masyarakat untuk bersekolah di sini sangat besar. Kami mendapat siswa sesuai dengan target yang direncanakan disesuaikan dengan ketersediaan ruangan yang kami miliki,” tuturnya.

Romo Fidel sangat yakin, sekolahnya bisa bersaing dengan sekolah lain dan dirinya selalu menekankan kalau bagus, sekolah mereka sudah bagus, tapi sekolahnya harus menjadi hebat. Ini pekerjaan yang butuh kolaborasi bersama antara pengurus, guru, murid, orang tua dan masyarakat.

“Kami memiliki 46 guru, yang berstatus aparatur sipil negara (ASN) sebanyak 16 orang, sementara sisanya merupakan guru kontrak dan guru yayasan. Bila ditambah pegawai dan karyawan, maka total karyawannya sebanyak 62 orang,” sebutnya.

Arnoldus Rivan Sogelaka, siswa kelas XI IPA 1, mengatakan, SMAK Yohanes Paulus II Maumere merupakan sekolah yang awalnya dikatakan sebagai sekolah buangan, sebab menampung siswa yang dikeluarkan dari sekolah lain.

Namun dengan ketekunan dan keuletan para guru serta kerja keras dari kepala sekolah, ucap Rivan, sapaannya, sekolah ini bisa berprestasi. Sarana dan pra sarana sekolah juga setiap tahun selalu dibenahi serta memiliki fasilitas laboratorium yang tergolong lengkap.

“Kepemimpinan Romo Fidel bisa membuat sekolah ini yang dulu disebut sebagai sekolah buangan kini bisa menjadi sekolah dengan kualitas yang baik. Saya bangga, sebab bangunan sekolah pun setiap tahun selalu diperbaiki dan lingkungan sekolahnya juga aman dan nyaman,” ujarnya.

Lihat juga...