Kebun Pisang di Belakang Rumah

CERPEN KIKI SULISTYO

KARENA hujan terlampau deras, ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan orang di hadapannya. Ia hanya memastikan, ada seseorang berdiri di tengah kebun pisang, tanpa terlindung apa-apa. Angin yang berhamburan, terus menerus menghantam mantel yang dikenakannya. Jarum-jarum air menusuk-nusuk wajahnya, hingga matanya terasa perih dan pandangannya berkabut. Ia sudah memutuskan untuk kembali ke rumah ketika kakinya terantuk batu.

Ia terjungkal.

Tadi, saat hujan mulai turun, ia mempercepat laju sepedanya, samar-samar ia melihat seseorang berjalan tersuruk-suruk. Ia merasa sudah sering melihat orang itu. Tapi tak seperti biasa, kali ini orang itu memanggul suatu buntalan di pundaknya. Buntalan itu panjang sehingga ujungnya terayun-ayun seturut langkah si pemanggul. Ia tidak mengenal orang itu meskipun ia sering melihatnya.

Wajah orang itu terasa tak asing, meski ia tak pernah bisa mengingat siapa dia. Dan buntalan itu membuat ia bertanya-tanya, apa isinya? Kemana orang itu membawanya? Dan pertanyaan-pertanyaan selanjutnya membawa ia pada dugaan yang jahat.

Ia baru saja masuk rumah ketika pikirannya terusik pada apa yang dilihatnya di jalan tadi. Pikirannya semakin terusik ketika dari jendela ia melihat bayangan berkelebat di luar, menuju kebun pisang di belakang rumahnya. Saat itu hujan sudah mulai deras, dan tampaknya bertambah deras.

Hari berangkat malam. Ia segera mengenakan mantel hujannya lalu bergegas keluar. Kilat dan halilintar susul menyusul, air yang terus-terusan menghunjam membuat kali bergolak. Memang, ada kali kecil yang memisahkan rumahnya dengan kebun pisang itu.

Rumah itu ia beli dari seorang pensiunan kerani yang hampir buta. Sebuah rumah tua yang cukup luas untuk dirinya sendiri. Bila rumah itu dihuni oleh satu keluarga kecil saja, luasnya masih cukup. Sementara ia tinggal seorang diri, tanpa istri atau anak-anak. Bahkan tanpa pembantu.

Kadang-kadang ia memang menyewa orang untuk memperbaiki bagian-bagian rumahnya yang rusak, atau menambah ornamen-ornamen tertentu. Tapi untuk pekerjaan yang lain, ia melakukannya sendiri. Pada sore hari, biasanya, ia akan mengurus taman di halaman yang penuh pohon-pohon bunga. Sementara pada pagi hari, ia menyapu dan mengepel lantai, membersihkan kaca, dan mencuci pakaian.

Kebun pisang di belakang rumah dibelinya kemudian. Pemilik kebun datang pada suatu malam dan menawarkan kebun itu. Ia tidak langsung menerima. Pemilik kebun datang lagi beberapa hari setelahnya.

“Saya tidak mau menjual tanah itu ke orang lain,” kata pemilik kebun. “Mumpung Tuan sudah tinggal di sekitar sini, dan saya kira Tuan tentu tidak akan membangun rumah lagi.”

“Bapak mau jual tanah itu tapi berharap di atasnya tidak dibangun rumah?”

“Benar, Tuan. Kebun itu warisan orang tua saya. Dan ia sudah lama meninggal. Saya punya seorang saudara. Tidak ada yang tahu sekarang dia ada di mana. Kami sudah coba mencarinya ke mana-mana, tapi tak ketemu juga. Jadi, setelah saya berunding dengan keluarga, mereka mengizinkan saya menjualnya jika saya memang benar-benar membutuhkan uang.”

“Bagaimana kalau nanti tiba-tiba saudara Bapak datang, bisa-bisa jadi perkara. Saya tidak mau ada perkara.”

Pemilik kebun terdiam sesaat, lalu berkata dengan nada dipelankan, “Maaf ,Tuan. Waktu saya datang pertama kali tempo hari, sebenarnya saya sudah mendapat kabar tentang saudara saya. Tapi saya belum yakin. Sampai kemarin, seorang teman saya mengabarkan kalau ia tahu seseorang yang tahu keberadaan saudara saya itu.”

“Terus?”

“Saudara saya itu sudah meninggal, Tuan. Sebenarnya, kematiannya tragis. Ia ditembak polisi di luar pulau karena diduga merampok sebuah rumah. Karena tidak ada yang datang mengambil jenazahnya, ia dimakamkan di sana. Tapi Tuan, saya mohon Tuan tidak menceritakan hal ini pada keluarga saya. Biarlah ini menjadi rahasia kita.”

Baginya cerita pemilik kebun itu tidak masuk akal. Ia tidak bisa mempercayainya. Ia tidak ingin ada perkara lagi dalam hidupnya. Karena itu dengan halus ia menolak, lagi pula dalam hatinya, kebun pisang itu mengingatkannya pada masa lalu.

Beberapa waktu kemudian, seorang perempuan dan seorang anak kecil datang ke rumahnya. Perempuan itu istri si pemilik kebun, dan anak laki-laki kecil itu adalah anak mereka. Perempuan itu mengabarkan satu peristiwa yang tak disangka-sangka, pemilik kebun itu meninggal dunia, dan menurut istrinya, sebelum meninggal, pemilik kebun berpesan pada istrinya agar kebun itu dijual kepadanya.

Ketika ia bertanya musabab meninggalnya si pemilik kebun, istri pemilik kebun tak sanggup bercerita. Dan kali ini ia tak bisa menolak. Ia membayar tanah itu beberapa hari kemudian. Rasanya ia membelinya karena kasihan saja pada istri dan anak pemilik kebun.

Beberapa bulan setelah membeli kebun pisang itu ia merasa ada yang ganjil di sekitar rumahnya. Ia sering melihat seseorang mengawasi dari tempat-tempat tertentu. Kadang orang itu berdiri di depan pintu pagar pada pagi buta. Saat hendak dihampiri, orang itu segera pergi. Kadang juga orang itu dilihatnya di ujung jalan, tatkala ia pulang dari kota.

Orang itu tidak berkata apa-apa, hanya berdiri dan menatapnya saja. Dan setiap kali ia melihat orang itu menatapnya, ia merasa mengenalnya, tapi tak pernah bisa mengingat siapa dia. Mungkin ia pernah melihat orang itu jauh sebelumnya, ketika ia belum hijrah ke pulau ini.

Ia berusaha menepis perasaan ganjil yang dialaminya. Barangkali semua ini karena aku kesepian, katanya. Sejak tinggal di sini, ia menghabiskan waktu dengan membuka tempat menjahit di kota kecil tak jauh dari kampung. Sebenarnya itu dilakukannya supaya ia punya kegiatan saja. Kegiatan yang ringan dan tidak menekan.

Hasil menjual semua aset di tempatnya yang dulu, cukup untuk bekal sepanjang sisa hidupnya. Karena itu, ia menjahit sendirian, ia tidak berusaha mengembangkan usahanya. Seringkali ia menolak orang yang datang memintanya menjahit, hanya karena ia sedang tidak ingin saja.

Lalu ia ingat pada istrinya. Ia ingat pada peristiwa bertahun lalu, ketika ia masih tinggal di tempatnya yang dulu, ketika pada suatu malam seseorang masuk ke rumah mereka. Semula ia mengira orang itu hendak merampok. Tetapi setelah ulu dingin parang panjang menetak tulang tengkoraknya, setelah bilah tajam parang yang sama menebas leher istrinya, setelah ia tersadar dengan mata berkunang dan kepala berat tak kepalang, lalu melihat ruangan yang utuh tak berkurang, ia tahu bahwa ini perkara pribadi.

Ia membungkus tubuh istrinya yang bersimbah darah dengan kain hordin, lalu dipanggulnya tubuh itu ke luar rumah. Saat itu, ia tahu, hujanlah yang telah menyadarkannya. Hujan yang demikian deras, angin bertiup kencang, kilat dan halilintar susul-menyusul.

Ia memasuki hujan, terseok-seok di jalan, mencoba mencari bantuan. Tapi tak seorang pun ditemuinya, bahkan rumah-rumah seperti lenyap, mencair oleh derasnya hujan. Tubuh yang dipanggulnya bergoyang-goyang. Ia melihat kali, ia mendengar suara air bergolak, suara daun-daun saling membentur, ia picingkan mata, ia merasa salah jalan, ia berada di tengah kebun yang lebat. Ia sudah memutuskan untuk kembali ke rumah ketika kakinya terantuk batu.

Ia terjungkal.  Tubuh istrinya terguling.

Perkara kematian istrinya tak diurusnya lagi. Ia tidak suka dengan perkara, dengan polisi, dengan sidang yang ruwet. Ia tahu, ia hanya harus pergi, jauh, supaya orang-orang yang tidak suka dengannya, tidak lagi membuat perkara. Perkara yang pasti bakal melibatkan polisi dan sidang yang ruwet. Menjadi orang kaya sama menderitanya dengan menjadi binatang langka. Diistimewakan sekaligus diam-diam dijadikan target buruan.

Semakin lama, orang itu semakin sering dilihatnya. Orang itu bisa tiba-tiba hadir ketika ia mengantri di loket bank, di swalayan, di ruang praktik dokter, bahkan orang itu kemudian hadir dalam mimpi-mimpinya. Dan tak sekalipun orang itu bicara padanya. Seakan-akan kehadirannya tidak pernah disengaja.

Ia sampai berpikir kalau ia mungkin akan terserang penyakit gila. Ia menyarankan dirinya sendiri untuk mencari istri. Lain waktu ia menyarankan dirinya sendiri untuk mencari hiburan dengan memancing di laut. Lain waktu lagi ia menyarankan dirinya sendiri untuk mencari istri lalu mengajak istrinya mencari hiburan dengan memancing di laut. Tapi saran-saran itu tidak pernah dilaksanakannya. Mungkin semua ini bukan karena aku kesepian, mungkin semua ini karena kebun pisang itu, katanya.

Ia mendengar seorang tetangga bercerita bahwa kebun pisang itu dulu tempat pembantaian orang-orang tertentu. Dan bapak si pemilik kebun pisang adalah salah seorang penjagal. Ia tidak tahu dari mana tetangga itu mendapat cerita. Ia juga tidak tahu apa hubungan cerita itu dengan apa yang dialaminya. Sementara orang itu terus muncul di mana saja. Orang itulah yang sekarang berada di hadapannya.

Karena hujan terlampau deras, ia tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukannya. Ia hanya memastikan, ada seseorang berdiri di tengah kebun pisang, tanpa terlindung apa-apa. Angin yang berhamburan, terus menerus menghantam mantel yang dikenakannya. Jarum-jarum air menusuk-nusuk wajahnya, hingga matanya terasa perih dan pandangannya berkabut. Kakinya terasa lemah. Mantel hujannya berat oleh lumpur. Butir-butir air berhamburan dari rambutnya.

Samar-samar ia melihat orang itu berbalik dan berjalan mendekat. Saat orang itu hanya setindak di depannya, buntalan di pundaknya jatuh. Diterangi cahaya kilat, ia melihat jenazah perempuan terguling dari buntalan itu. Jenazah perempuan dengan leher nyaris putus.

Ia mengenali jenazah itu.***

Kiki Sulistyo lahir di Kota Ampenan, Lombok, Nusa Tenggara Barat, 16 Januari 1978. Buku puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? memperoleh penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Ia mengelola Komunitas Akarpohon di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema dan panjang naskah bebas yang pasti tidak SARA. Naskah orisinil, belum pernah tayang di mana pun dan belum pernah dimuat di buku. Kirimkan naskah beserta biodata dan nomor ponsel ke editorcendana@gmail.com Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lihat juga...