Mungkin kau mengira aku pembual dan cerita yang akan aku sampaikan ini sekadar igauan sebelum ajal menjemputku, tapi biar aku memberitahumu, ini adalah sesuatu yang nyata.
Mengingat diriku yang hampir habis dimakan waktu, hingga kau sendiri dapat mencium bau tanah kematian dari setiap jengkal tubuhku, penanda bahwa aku akan segera bergabung dengan mayat-mayat busuk di pemakaman.
Kuharap dapat menceritakan sedetail-detailnya tentang apa yang telah kulakukan di masa lalu ini. Semoga pikiran tuaku masih mampu melakukannya. Meski teror karena dosa ini sendiri secara perlahan mulai membuatku lupa beberapa bagian dari cerita yang akan aku sampaikan.
Walaupun kau mengenalku sebagai seorang yang baik, ketahuilah bahwa pengalaman mengerikan ini tidak akan pernah terlupakan. Karena saking mengerikan cerita ini, aku tak sanggup menceritakan ke siapapun. Baik kepada istri atau anak-anakku.
Tapi diakibatkan penyesalan yang terlalu kuat terpendam, aku tidak bisa membiarkan rahasia kelam ini terkubur bersama diriku ke liang lahat tanpa kau sebagai menantu yang perhatian dan kupercaya betul untuk menjadi saksi kebenaran akan hal ini.
Dulu, sebelum aku merintis bisnis yang membuatku menjadi kaya seperti sekarang, aku hanya seorang sarjana pengangguran yang menumpang dari satu rumah sahabat ke rumah sahabat lain. Atau terkadang tidur di masjid untuk akhirnya diusir oleh siak keesokan harinya.
Terus kulakukan setelah tiga tahun kelulusan perkuliahan. Aku sebenarnya bisa saja pulang ke rumah kedua orang tuaku, tapi harga diri dan usaha pembuktian diri menghalangi.
Maka kau bisa menebak, aku hidup terlunta-lunta. Menjadikan warung kopi sebagai tempat penyambung nyawa dengan hutang yang kian bertumpuk, serta meja perkumpulan bersama dengan manusia-manusia menyedihkan lain tanpa tujuan hidup yang jelas.
Atau beberapa yang memiliki tujuan hidup yang jelas tapi mengarah ke kejahatan. Berteman dengan pengamen, pemabuk, copet, begundal jalanan, sarjana pengangguran lain, maupun para bajingan yang menunggu ajal ditembak timah panas polisi.
Jadi walaupun kau lulusan terbaik suatu universitas, kau hanya akan berakhir menjadi pengangguran, jika tanpa sogokan uang atau orang dalam yang kau kenal, kau tidak mungkin dapat diterima kerja di suatu instansi pemerintahan yang kau ingin.
Maka aku berakhir menjadi teman main gaple atau remi para bajingan tengik itu. Meski aku tidak pernah berhasil dibuat terjerumus ajakan melakukan kejahatan mereka. Walaupun begitu, diantara para sampah masyarakat ini ada satu orang yang cukup dekat denganku, itu adalah Luduj Namalah. Aku tak yakin itu nama asli, tapi nama itulah yang akan ia berikan setiap ada yang bertanya perihal nama.
Aku di warung kopi biasa memanggil ia dengan panggilan Nam. Seperti orang lain kebanyakan memanggilnya. Ia seorang sarjana Hukum, menurut pengakuannya sendiri, meski aku tak pernah sungguh percaya. Jadi kau dapat katakan ia setengah pembual. Dan seperti semua pecundang di warung kopi itu, ia pengangguran, untuk kemudian menemukan bakat menjadi copet.
Siang itu, tepatnya tanggal sekian. Bulan sekian. Tahun sekian. Aku sedang malas-malasnya bermain kartu dengan teman-teman bajinganku. Aku tiga kali berturut-turut kalah setelah tiga kali ronde.
Aku memang sedang tidak semangat hari itu. Dan yang lain juga tidak dapat bertahan lama di tempat mangkal kami. Mungkin karena hari yang muram. Mendung tidak mau bergeser dari langit, bahkan saat jam gantung pada dinding bambu warung menunjukkan pukul dua siang.
Semakin suram dengan tatapan pemilik warung yang benci kami berada di sana tapi enggan berani mengusir. Aku sedang membaca koran bekas hari kemarin untuk membunuh waktu saat Nam datang dan duduk di sampingku.
“Bagaimana kabarmu akhir-akhir ini?” tanyanya menepuk bahuku.
“Baik. Kau sendiri?”
“Buruk sekali. Seminggu lalu dihajar tiga preman di terminal, untung lolos.” Ucapnya. Meski aku tidak peduli. Terus membaca koran. Meski kusadari bekas luka robek di sudut bibir kanan.
Kami kemudian diam selama beberapa saat. Saling menyesap kopi masing-masing yang telah datang sedari tadi.
“Kau masih menganggur,” nada kalimatnya tidak bertanya.
“Aku tidak mungkin di sini berbicara denganmu jika telah bekerja.”
“Jika kau mau, aku bisa menawarkan pekerja…”
“Jadi copet. Kau gila kalau berpikir aku mau.”
“Tentu tidak.”
“Jadi rampok.”
“Aku tentu tidak akan mengajak orang macam dirimu untuk pekerjaan sejenis itu.”
“Memangnya pekerjaan seperti apa yang kau butuh bantuanku.”
“Pekerjaan ini sebenarnya sederhana dan juga hanya perlu satu orang untuk melakukannya. Tapi akan lebih cepat jika dilakukan oleh dua orang. Aku mengajakmu juga, sebab tak tahan melihat wajah kusut menyedihkan itu.”
Ia pun mulai bicara. Menyebut ini adalah pekerjaan mudah, dapat selesai hanya dalam waktu satu malam, itu jika aku bersedia turut serta malam nanti.
Menyuruhku menunggunya jam sebelas malam nanti jika tertarik, jika tidak ia akan pergi sendiri. “Aku tidak memaksamu untuk ikut. Tapi pekerjaan ini sungguh sangat mudah. Uang yang kau dapat juga lumayan.” Ucapnya menghabiskan kopi yang tinggal setengah. Lalu pergi.
***
Malam harinya aku menunggu di tepian sungai yang ia maksud. Didorong putus asa akan keingian mendapat uang atau mungkin karena penasaran karena betapa misterius penjelasan tentang pekerjaan yang ia tawarkan.
Merokok, habis, menyulut yang baru. Merokok, habis, menyulut yang baru. Sudah dua puntung rokok yang habis, sekarang yang ketiga. Berdiri di samping tepian sungai sungguh membuat merinding, bukan karena tempat yang basah serta lembab, tapi lebih dikarenakan ketidakjelasan hal yang akan kami lakukan.
Detik waktu seakan berjalan sangat lambat. Seperti aku tak lagi berada dalam realitas dunia ini, tapi tentu saja itu hanya khayalan yang aku buat-buat.
Rokok yang keempat telah terbakar setengah saat Nam tiba disana dengan sepeda motor bebek yang entah milik siapa ia pinjam.
“Kau tidak lama menunggu?” Tanpa membalas aku langsung naik di belakang. Nam langsung menarik gas. Saat itu aku menahan diri untuk bertanya. Aku ingin melihat dulu kemana kami akan pergi dan apa yang akan kami hadapi.
Pertama-tama kami keluar dari kota. Untuk kemudian berkendara ke sisi perbukitan. Zaman itu lampu jalan belum banyak terpasang, jadi dapat kau bayangkan betapa perjalanan kami itu tak nyaman karena harus menembus malam yang gelap gulita.
Kami berada di jalan raya sekitar satu jam untuk menuju, sepertinya, sebuah pedesaan. Saat sampai di gerbang masuk, ia kemudian menurunkan tarikan gas dan mengemudikan motor dengan lebih pelan.
Berkendara lurus hingga pertigaan, berbelok ke kanan, kemudian lurus lagi untuk masuk ke bagian desa yang semakin jarang terdapat rumah. Kami berhenti di sebuah gang kecil di ujung jalan.
Nam kemudian memarkir motor ke semak-semak rimbun di dekat kami. Dari semak-semak ia membawa keluar lentera, parang, dan dua sekop. Sepertinya ia telah menyimpan barang-barang itu hari sebelumnya.
“Untuk apa membawa parang?”
“Cuma berjaga-jaga,” balasnya santai.
Lingkungan sekitar kami sangat gelap ketika Nam memimpin di depan dengan lentera, membelah pekatnya kegelapan pepohonan di sekeliling kami, meski ketika itu kami berjalan melalui jalan setapak.
Sejenak aku menyesal telah setuju untuk ikut. Tapi sudah terlambat untuk hal itu. Tak beberapa lama, kami sampai di gerbang masuk sebuah pemakaman.
“Apa kita akan masuk?”
“Tentu, kau pikir kenapa kita di sini.” Dapat kurasakan keyakinan campur kenekatan dari nada suaranya.
Kami pun melangkah masuk dengan lentera kedua yang baru sekarang ia nyalakan. Dan juga baru saat itu kusadari ada. Sementara Nam memimpin di depan, aku mencium bau peluh keringat tubuhnya.
Saat ini pasti keringatnya sedang bercucuran dengan hebat mirip es dibiarkan di tempat terbuka. Aku iseng mengarahkan lentera ke sekeliling, dan segera terlihat papan-papan nisan kayu tua yang kusam.
Ketika telah sampai pada tempat yang dirasanya tepat. Nam pun berhenti, mengarahkan lentera ke sekitar untuk mengamati keadaan sebentar, sebelum menyuruhku untuk bersiap menggali sebuah makam di hadapan kami.
“Kau gila!” Teriakku agak pelan. Tak ingin warga kampung itu tahu ada dua lelaki asing sedang berada di pemakaman desa mereka. Ia tak menggubrisku dan mulai menggali.
“Apa ini lelucon.”
“Tertawalah jika kau anggap lucu.” Balasnya tanpa melihatku.
Aku tidak tahu lagi harus bagaimana. Ini sudah kepalang tanggung menurutku. Maka akupun ikut menggali. Saat menggali, aku menyadari bahwa itu adalah sebuah kuburan baru, tanahnya masih gembur dan masih berwarna terang. Jika saja kau dapat merasakan ketakutan yang aku rasakan saat membongkar kuburan itu menantuku, kau pasti akan sama ngerinya denganku.
Tak butuh lama ketika kuburan itu telah terbongkar sempurna dan papan-papan penghalang kayunya kami singkirkan dan mayat itu kami keluarkan dari lubang. Jenazah seseorang kini berada di hadapan kami.
Terbungkus kain kafan. Kakiku agak menggigil, tapi bukan hanya aku saja, Nam pun terlihat agak segan. Kuyakin itu juga kali pertama ia melakukan hal macam itu. Tiada yang segera bergerak di antara kami berdua, jadi kami mematung agak sebentar.
Hingga Nam mulai berjongkok di samping si mayat dan membuka tali pocongnya, seketika bau busuk langsung menguar ke tengah udara, tak tahan, aku pun muntah-muntah. Tapi Nam tak tampak terganggu sebanyak diriku, ia menarik bagian leher bajunya menutupi hidung.
Kusadari saat itu juga kami tengah berhadapan dengan jenazah seorang perempuan muda berusia dua puluhan. Tanpa menunggu waktu, segera Nam menarik keluar tang dari kantung celana belakang.
“Apa yang akan kau lakukan?” Tanpa menjawabku, ia membuka mulut si mayat. Menggunakan sebatang kayu yang ia temukan sebagai penyangga rahang atas dan rahang bawah. Mencabut setiap jenis gigi yang tertanam di mulut si mayat.
Cairan merah kecoklatan mengalir turun dari tempat dimana gigi-gigi tadi berakar disertai bau yang akan membuat seseorang memuntahkan sarapan pagi mereka.
Melihat tindakan tak manusiawi itu, aku bergidik ngeri dengan kaki bergetar. Keringat dingin bercucur dengan deras. Aku merasakan sesuatu yang berada di dalam perutku tengah bergejolak dengan hebat, bagai sedang terjadi angin topan di dalam perutku.
Detik itu juga, aku muntah kembali, sejenis nasi yang terlalu cair serta hancur untuk disebut bubur. Tak menyadari keterkejutanku, Nam telah mencabut habis semua gigi si mayat. Di kedua telapak tangannya ia memamerkan gigi-gigi tersebut.
Gigi-gigi yang keseluruhannya putih tapi terdapat noda tanah. Seringai kepuasan muncul di wajahnya.
Berpaling ke si mayat, aku mengalami perasaan tercekik yang luar biasa. Wajah muda itubegitu kontras dengan mulut tanpa gigi yang masih tersangga. Yang paling mengganggu tentu saja adalah cairan merah kecoklatan yang masih terus mengalir dari setiap sudut tempat gigi-gigi tadi itu melekat.
“Seorang dokter gigi menawarkan harga yang tinggi untuk sepasang gigi geraham.” Ia berkata akhirnya. “Tentu saja aku mengambil gigi-gigi lainnya, siapa tahu nanti dibutuhkan. ”Hanya Tuhan saja yang tahu kenapa kejadian selanjutnya dapat terjadi, karena aku langsung menghantam Nam dengan sekop yang masih berada di tanganku.
Kuhantam kepalanya dengan keras dan ia segera tersungkur sambil memekik kesakitan, tapi aku tak berhenti di sana dan bagai orang kesurupan, kupukul ia lagi dengan menggila.
Bertubi-tubi tak henti hingga terdengar tengkoraknya remuk dan wajahnya hancur tak dikenali lagi bagai dihantam kereta api. ***
Aldi Rijansah, lahir di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Sehari-hari menonton film dan membaca buku. Saat ini sedang berkuliah di Prodi Kehutanan, Universitas Mataram.
Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.